Pojokan 308: Oh MBG, Oh Ironi

BGN (Badan Gizi Nasional) lahir dengan niat mulia: melawan stunting, memperkuat gizi rakyat, menyehatkan bangsa. Tapi di negeri ini, niat baik sering tersandung di meja rapat—dan jatuh tersungkur di meja makan pejabat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai investasi masa depan, tapi malah tenggelam oleh beat lagu TikTok “Mas Bahlil Ganteng” yang lebih renyah di telinga.
Ironi lagu “Mas Bahlik Ganteng” viral hingga ke Turki, sementara siswa kurus, tak bersepatu, kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia lemah versi OECD tak viral.
Lebih ironis lagi, dapur gizi berubah jadi dapur elit, rakyat cuma kebagian remah, sementara menu utama jadi bubuk rekening offshore. Anak-anak menunggu nasi kotak, pejabat menunggu transferan dolar. Hasilnya MBG di-KO bukan oleh stunting, melainkan oleh Kejaksaan Agung. Kepala BGN dan dua wakilnya digelandang. Bukan ke dapur gizi, tapi ke dapur hukum.
Angka-angka yang mestinya menimbang berat badan anak, justru menimbang berat amplop tender. Statistik pun bicara: harga satuan MBG Rp15.000 per siswa, tapi yang tersaji Rp10.000. Audit bayangan menyebut kebocoran 20–30%. Anggaran MBG: Rp85,27 triliun (2025), Rp268 triliun (2026). Total Rp353,27 triliun. Angka ini bukan sekadar deret, tapi wajah kurus di pelosok. Vitamin lebih banyak tersangkut di meja pejabat ketimbang di mulut anak-anak.
MBG Sejatinya Dapur Masa Depan Bangsa
Tender pengadaan makanan bergizi dimenangkan kroni. Laporan gizi penuh vitamin A, kenyataan penuh vitamin “Asal Bapak Senang.” Anak-anak kurus jadi poster kampanye, wajah ceria makan MBG. Yang gemuk? Rekening pejabatnya. Padahal MBG sejatinya dapur masa depan bangsa. Kalau korupsi terus menggerogoti dapur gizi, itu sama saja merampok nalar anak bangsa. Siap-siap saja anak tumbuh dengan otak lapar.
Andai saja anggaran ratusan triliun itu tidak hanya untuk isi perut 64,47 juta siswa (dari TK/RA sampai SMA/Aliyah), tapi juga otaknya diisi dengan kewajiban membaca buku, bukan main TikTok. Gurunya di-upgrade, kesejahteraannya dinaikkan, maka lahirlah generasi emas, bukan generasi anemia: kenyang hiburan, tumpul otak. Sebab otak kosong pendidikan lebih berbahaya daripada perut lapar. Perut kosong bisa diisi nasi, otak kosong hanya bisa diisi propaganda.
Jangan sampai slogan manis BGN: “Anak sehat, bangsa kuat” hanya jadi stiker di pintu kulkas kosong. Alih-alih menurunkan stunting, yang turun justru kepercayaan rakyat. Rakyat tersenyum getir: “Lawan stunting kok malah melahirkan stunting moral.” Bangsa ini stunting bukan karena kurang protein, tapi karena kelebihan hipokrisi. Kekurangan gizi kejujuran, kurang vitamin empati, kelebihan lemak keserakahan.
Pak Presiden Prabowo di Rakor BGN, Sentul, 3 Juni 2026, sudah mengingatkan: “Program gizi harus dijalankan dengan hati dan integritas, bukan sekadar laporan keuangan.” Tapi di negeri ini, integritas sering kalah oleh intensitas: intensitas rapat, intensitas mark-up, intensitas selfie di depan spanduk program. Semoga dapur gizi tak lagi jadi restoran pejabat. Kalau tidak, jangan salahkan bila bangsa ini tumbuh bukan jadi generasi emas, tapi generasi anemia—kenyang MBG, tapi lapar integritas.
Dan akhirnya, rakyat pun belajar satu hal: di negeri ini, nasi kotak bisa jadi kotak Pandora. Begitu dibuka, keluar bukan aroma lauk pauk, tapi aroma busuk korupsi. Anak-anak tetap kurus, pejabat tetap gemuk. Bangsa ini pun terus berdoa, semoga suatu hari nanti dapur gizi benar-benar jadi dapur bangsa, bukan dapur rekening.(Kang Marbawi, 060626)
