Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 312: Gig Economy

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|18:12 WIB
Bagikan:
Pojokan 312: Gig Economy
Kang Marbawi.

Pojokan 312: Gig Economy 

“Tagihan itu nyata!” begitulah seru Sherly, Gubernur Maluku Utara, lewat media sosialnya. Nadanya mirip emak-emak yang menyiram air ke wajah anaknya yang masih molor jam sepuluh pagi, tapi kali ini sasarannya adalah Gen Z. Ia menohok anak muda agar bangun dari mimpi indah generasi rebahan.

Ajakan itu memang benar, meski terdengar seperti alarm jam weker yang minta dibanting. Masalahnya, kita ini sudah terlanjur menggadaikan kedaulatan hidup pada algoritma Artificial Intelligence (AI). Kita menyerahkan kunci rumah tangga kita kepada mesin cerdas yang, jujur saja, kadang lebih paham selera kita daripada istri/suami sendiri. Dari bangun tidur sampai kembali mendengkur, kita tak bisa lepas dari gadget. Hidup yang katanya nyata ini, sebenarnya cuma remah-remah dari aktivitas yang kita jalani di dunia maya.

Kita ini, kalau mau jujur, hanyalah tambang emas bagi kapitalisme platform yang bercorak predator. Korporasi digital itu seperti tuan tanah modern yang menyediakan segalanya lewat aplikasi. Mau makan? Tinggal klik, datang abang ojek online. Mau beli barang? Klik lagi, sampai ke depan pintu. Tapi ingat, di dunia algoritma, tidak ada makan siang gratis, apalagi negosiasi harga. Segalanya harus dibayar dengan dua mata uang: uang beneran dan data pribadi kita.

Setiap kali kita menekan tombol “SETUJU” pada syarat dan ketentuan aplikasi—yang jujur saja, tak ada satu pun manusia waras yang membacanya sampai tuntas—kita sebenarnya sedang menjual sepotong jiwa kita. Jargon “efisien, mudah, murah, dan bebas” adalah candu yang lebih manis daripada janji kampanye calon legislatif. Kita merasa jadi bos bagi diri sendiri, padahal kita cuma pion yang kapan saja bisa “diputus mitra” oleh mesin jika dianggap tak lagi produktif. Inilah wajah rupawan kapitalisme baru yang dipoles rapi bernama Gig Economy.

Gig Economy 

Gig economy itu sistem kerja yang katanya bikin kita bebas merdeka. Beda dengan zaman bapak kita dulu yang terikat kontrak panjang, masuk pagi pulang sore, dan digaji bulanan dengan jaminan kesehatan yang jelas. Sekarang, kita jadi “mitra”.

"Mitra aplikasi zaman now ini, kalau dipikir-pikir, adalah titisan langsung dari si Marhaen yang dulu ditemui Bung Karno di Bandung tahun 1926. Bedanya, kalau Marhaen dulu sibuk mencangkul tanah yang tanahnya sendiri, mitra aplikasi sekarang sibuk mencangkul aspal dengan motor yang cicilannya masih nunggak tiga bulan.

Marhaen itu, kata Bung Karno, adalah petani kecil yang punya tanah, punya cangkul, dan punya kemauan. Dia berdikari—berdiri di atas kaki sendiri. Kedengarannya memang gagah, seperti pahlawan di buku sejarah. Tapi mari kita jujur: 'Berdikari' versi mitra aplikasi ini sebetulnya adalah eufemisme untuk 'dilepas sendirian'.

Mitra artinya kita harus beli motor sendiri, ganti ban sendiri, bensin tanggung sendiri, sampai kalau kena tilang atau kecelakaan, ya ditanggung sendiri. Kalau kena tipu orderan fiktif, ya telan sendiri. Kalau kehujanan sampai masuk angin, juga jadi tanggung jawab sendiri.  Perusahaan cuma menyediakan aplikasi—sebuah perantara yang memotong komisi dengan presisi setajam silet.

Dia dibilang punya alat sendiri—entah motor, entah smartphone—seperti Marhaen yang punya cangkul. Tapi, lihatlah siapa yang sebenarnya mengatur ritme napas ekonominya. Si Marhaen baru ini memang 'punya alat', tapi dia adalah budak dari algoritma yang tidak punya wajah dan tidak bisa diajak bicara. Dia tertindas oleh sistem ekonomi yang tidak adil, yang dibungkus rapi dengan istilah 'ekonomi berbagi' atau 'kemitraan'.

Lucu memang. Dulu Marhaen tertindas oleh kolonial yang pakai seragam dan bawa senapan. Sekarang, Marhaen modern tertindas oleh sistem yang pakai dasi, duduk di ruang ber-AC, dan cuma perlu klik tombol update di server untuk menentukan apakah hari ini si mitra bisa makan enak atau harus puasa gara-gara kena suspend.

Jadi, kalau Bung Karno hidup lagi dan melihat mereka, mungkin beliau akan tersenyum kecut. Ternyata, kemerdekaan itu memang tidak cukup hanya dengan mengusir penjajah, tapi juga harus melawan mereka yang hobi memeras keringat rakyat kecil dengan dalih 'kemitraan' yang lebih mirip perbudakan dengan tambahan bonus kuota internet. Melawan untuk mendapatkan keadilan ekonomi yang setara.

Platform digital itu wahana penghisapan yang dilakukan dengan sangat sopan. Mereka tak perlu memaki, tak perlu cambuk. Mereka cukup menggunakan algoritma. Jika Anda malas, algoritma akan membuat penghasilan Anda turun secara otomatis. Masyarakat kelas bawah, yang hidupnya pas-pasan, dijadikan bantalan utama dari eksploitasi model ini. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang bekerja di bawah terik matahari, tanpa jaminan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), tanpa tunjangan hari raya, dan tanpa kepastian apakah esok hari masih bisa menyalakan mesin untuk mencari sesuap nasi.

Jadi, ketika ada yang bilang “bangunlah dari generasi rebahan”, mungkin maksudnya adalah mari sadar bahwa kita sedang diperas oleh mesin yang bahkan tidak punya perasaan. Tagihan itu nyata, Mas Bro, tapi eksploitasi di balik aplikasi itu jauh lebih nyata lagi. Jangan sampai kita mati konyol hanya karena terlalu percaya pada keramahan sebuah aplikasi. Nyatanya saat ini, kita membutuhkan dan rela berada di bawah duli paduka aplikasi. Selamat bekerja, para mitra yang tak pernah tahu siapa bosnya. (Kang Marbawi, 040726)

 

Berita Terbaru

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Hakim Agung Mahkamah Agung RI Tinjau Kawasan Yudikatif di Nusantara

Nasional8 jam lalu
Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Perubahan APBD 2026 Kabupaten Subang Disepakati

Subang9 jam lalu
Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Beredar Surat Disebut-sebut Sebagai Undangan Pelantikan Sekda Subang untuk Rona Mairansyah Besok

Subang9 jam lalu
Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Revitalisasi Pasar Ciroyom Ditargetkan Rampung 2 Tahun

Bandung Barat9 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Terima 100 Becak Listrik, Om Zein: Bentuk Kasih Sayang Pak Prabowo

Purwakarta10 jam lalu
Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Pagar Nusa Luncurkan Naskah Kuno "Serat Nitipraja Eyang Gandasoli"

Purwakarta10 jam lalu
Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Kawasan Industri Baru Subang Jadi Sasaran Rekrutmen Serikat Buruh

Subang10 jam lalu
Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Jadwal Konser dan Fanmeeting Kpop di Bulan Oktober 2026, Ada NCT 127 hingga Gong Yoo

Lifestyle13 jam lalu
Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Wajah Anak Bukan Konten, Privasi Anak di Sosial Media Jangan Disepelekan

Lifestyle14 jam lalu
Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Nama Sekda Kabupaten Subang Sudah Ada, Bupati: Besok Pelantikan, Tunggu Saja

Headline14 jam lalu