Topeng Digital: Mengapa Kita Harus “Bersembunyi” di Second Account?

Oleh: Salfasa Islami Faska
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro
Di era sekarang, Instagram bukanlah hanya sekedar media sosial untuk membagikan foto atau moment tertentu, melainkan bisa menjadi panggung sandiwara. Kita mengenal First Account (akun utama) dengan unggahan yang penuh estetika, pencapaian berharga, senyuman terbaik. Namun, dibaliknya Second Account (akun kedua) adalah menggambarkan diri asli sendiri.
Akun kedua memiliki pengikut yang lebih sedikit dari akun pertama, biasanya dibawah 100 atau 50, karena akun kedua hanya berisi orang-orang terdekat saja. Jika pada First Account kita dapat menerima permintaan pertemanan dari rekan kerja, atasan ataupun orang baru dikenal demi sopan santun, namun pada Second Account kita mempunyai hak untuk memilih siapa yang kita konfirmasi. Hal ini menciptakan rasa aman yang tidak ditemukan di akun pertama.
Di akun pertama ada aturan yang tidak tertulis, kita harus menjaga “Feeds” agar lebih rapih, estetik, dan enak dipandang. Tetapi di akun kedua aturan itu runtuh, kita dapat membagikan foto blur, video sedang menangis, cerita keluhan bahkan bisa membagikan meme atau video lucu.
Pada Social Penetration Theory (teori penetrasi sosial) yang di kembangkan oleh Altman dan Taylor, terdapat penggunaan analogi “bawang merah” yang menjelaskan kepribadian manusia. Lapisan terluar yaitu data demografis dan penampilan luar yang orang lihat, sementara lapisan terdalam adalah menunjukkan ketakutan, konsep diri, dan nilai-nilai intim.
Lapisan luar sebagai akun pertama, di sini kita melakukan self-disclosure (pendekatan diri) secara terbatas dan publik, kita akan memperlihatkan sebagaimana layaknya dilihat oleh rekan kerja, atasan, keluarga besar, ataupun kenalan jauh. Pada first account kita ingin harus menjaga citra sosial. Second account sebagai inti bawang, sebaliknya pada akun kedua kita dapat menembus lapisan terdalam tanpa harus takut akan penilaian publik. Di akun ini biasanya memiliki pengikut yang terbatas, seperti teman dekat, sahabat, dan lingkaran kepercayaan. Di sinilah penetrasi sosial yang sesungguhnya terjadi.
Dalam penetrasi sosial terdapat perlibatan antara proses pengungkapan diri dengan biaya dan imbalan (rewards and costs). Di akun pertama jika kita terlihat gagal atau berantakan, kita memiliki risiko (biaya) yang sangat tinggi, kita takut untuk dihakimi. Namun, di akun kedua imbalan yang kita dapat adalah kelegaan emosional seperti kita dapat bebas mengunggah foto tanpa filter, menceritakan keluh kesah, membagikan moment absurd yang hanya sedikit orang yang mengerti. Second account menjadi ruang yang aman untuk kita memperlihatkan sisi gelap kita, sisi konyol, dan sisi rapuh.
Fenomena second account ini membuktikkan bahwa kita haus akan kedekatan yang otentik. Kita membelah diri bukan karena kita palsu, tetapi kita mimilih kepada siapa yang tepat kita akan mengupas lapisan “bawang” pada ke intinya.
Pada akhirnya first account memenangkan kekaguman banyak orang, tetapi second account lah yang menjadikan kita bertahan dengan kewarasan kita melalui hubungan yang tulus dan mendalam. (*)
