Anak-anak di Purwakarta Dikenalkan Iket Sunda

PURWAKARTA-Ketua Komunitas Iket Sunda (KIS) Area Purwakarta atau KIS Arta, Agus Hidayatul Firdaus, konsisten mengenalkan Iket Sunda yang merupakan salah satu warisan Budaya Sunda kepada anak-anak.
Setiap akhir pekan, Agus menghabiskan waktunya di Taman Surawisesa, Purwakarta, bersama-sama anak-anak guna mengajarkan anak-anak cara memakai iket Sunda. Mulai dari mengenalkan kain yang digunakan, cara melipat, hingga membentuknya menjadi iket.
Bagi Agus, kegiatan tersebut bernilai budaya yang ingin terus diwariskan kepada generasi berikutnya. "Poin pertama, ingin melestarikan. Supaya generasi sekarang juga bisa memakai iket dan tahu apa itu iket. Jadi supaya tidak terputus budaya dari leluhur kita, iket Sunda ini," kata Agus kepada wartawan, Selasa (6/10/2026).
Terkait KIS Arta, Agus menyebutkan bahwa komunitas tersebut berdiri pada 30 Januari 2022. Beberapa bulan setelah berdiri, KIS Arta mulai melakukan edukasi Iket Sunda kepada masyarakat, termasuk anak-anak di Taman Surawisesa.
Selain kegiatan rutin tersebut, Agus bersama komunitasnya juga pernah mendatangi sejumlah sekolah yang mengundang mereka untuk kegiatan "ngiketan". Dalam kegiatan itu, anak-anak tidak hanya diajarkan mengenakan iket, tetapi juga diperkenalkan dengan seni dan budaya Sunda yang berkaitan dengannya.
Kecintaan Agus terhadap iket Sunda tidak terlepas dari aktivitasnya sejak kecil sebagai praktisi pencak silat. Menurutnya, pencak silat dan iket memiliki keterkaitan yang kuat. Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya terhadap iket semakin berkembang setelah bergabung dengan komunitas iket Sunda.
"Kalau saya dari kecil memang praktisi pencak silat, mungkin dasarnya dari sana saya berpijak karena pencak silat juga tidak lepas dari iket. Dari dasar itulah kemudian setelah saya bergabung dengan komunitas Iket Sunda, saya lebih gencar lagi mengedukasi soal Iket Sunda-nya," ujar Agus.
Saat mengenalkan iket kepada anak-anak, Agus tidak hanya memperkenalkan satu model. Ia menjelaskan, Iket Sunda memiliki puluhan jenis yang secara umum terbagi dalam dua kelompok besar, yakni iket buhun atau iket lama dan wanda kiwari atau rekaan anyar.
Iket buhun merupakan jenis iket yang telah digunakan sejak ratusan tahun lalu dan masih digunakan hingga kini. Sementara wanda kiwari mulai berkembang sekitar 2011, seiring munculnya komunitas iket di Bandung dan para kreator yang membuat berbagai bentuk iket baru. "Iket Sunda ini jenisnya ada puluhan, cuma terbagi dalam dua golongan besar. Yang pertama iket buhun atau lama, itu adalah yang dari ratusan tahun lalu yang sampai sekarang masih dipakai. Terus ada lagi wanda kiwari atau rekaan anyar yang mulai 2011 ke sini," ucap Agus.
Karena keterbatasan waktu saat mengajarkan anak-anak, Agus tidak mengenalkan seluruh jenis tersebut. Ia memilih beberapa bentuk iket yang umum dan lebih mudah dipahami.
Agus juga tidak menutup diri terhadap perkembangan bentuk iket yang lebih praktis. Menurut dia, iket praktis dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk mulai mengenal dan terbiasa menggunakan iket. "Iket praktis ini adalah untuk awal pengenalan saja bagi anak-anak atau masyarakat. Yang penting mereka terbiasa dulu, kemudian setelah terbiasa baru bisa berlanjut ke iket yang tradisional," katanya.
Baginya, bentuk praktis bukan berarti meninggalkan iket tradisional. Justru, model tersebut dapat menjadi tahap awal sebelum seseorang mengenal lebih jauh filosofi dan beragam bentuk Iket Sunda.
KIS Arta sendiri, sambungnya, tetap berkomitmen menggunakan dan memperkenalkan iket tradisional. Agus menyebut hal tersebut sebagai bagian dari amanah leluhur agar manusia dapat menjadi sosok yang "masagi", atau paripurna. "Kalau kami dari komunitas tetap teguh memakai iket tradisional atau disebutnya masagi, karena itu merupakan amanah dari leluhur agar kita menjadi manusia yang masagi atau paripurna atau sempurna istilahnya," ujarnya.
Bagi Agus, menjaga Iket Sunda tidak cukup hanya dengan berbicara tentang pelestarian. Warisan tersebut harus dikenalkan langsung dan dipraktikkan agar generasi muda memiliki pengalaman langsung.
Ia melihat, ketika iket dikenalkan dengan cara yang tepat, anak-anak justru menunjukkan ketertarikan untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. "Yang membuat kami terus bertahan mengedukasi anak-anak dan masyarakat terkait iket Sunda adalah yang pertama untuk pelestarian. Kedua, sebetulnya kalau kita perkenalkan dengan cara yang benar, anak-anak itu meskipun banyak yang belum tahu, mereka banyak yang tertarik mau ikut memakai iket dalam kesehariannya," ucap Agus.
Oleh karena itu, ia mengaku tetap konsisten dan optimistis Iket Sunda tidak akan hilang selama terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Di luar kegiatan komunitas, Agus juga memiliki kesibukan lain. Ia membuka usaha kedai kopi dan membantu kegiatan di sebuah sanggar tari Sunda klasik.
Meski demikian, kesibukan tersebut tidak membuatnya meninggalkan kegiatan edukasi budaya. Setiap akhir pekan, ia tetap menyempatkan diri mengajarkan iket kepada anak-anak di Taman Surawisesa. "Iket Sunda harus dipertahankan karena ini merupakan sebuah ciri yang melekat yang sudah ada dari ratusan tahun yang lalu, terus ada fungsi estetiknya juga dan kita bisa memilih model mana yang kita sukai sesuai dengan karakter kita, sesuai dengan acara yang kita ikuti," katanya.
Menurut Agus, kemampuan iket untuk beradaptasi dengan kehidupan modern justru dapat menjadi kekuatan dalam upaya pelestariannya. Selama masyarakat tetap mengenal, memakai, dan memahami nilai yang ada di baliknya, iket Sunda dapat terus hidup di tengah perubahan zaman.(add/sep)
