Bata Terakota Produk Plered Jadi Unggulan, Angkat UMKM Lokal

PURWAKARTA-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta membangun tiga gapura baru berkonsep Gapura Melati dengan memanfaatkan bata terakota sebagai material utama.
Satu gapura berdiri di Jalan Dr Mr Kusumaatmaja, tepatnya di samping Gedung Dakwah, sedangkan dua gapura lainnya dibangun di kawasan perempatan Pemda Purwakarta.
Yang menarik, bata terakota yang digunakan tak lain dan tak bukan merupakan produk lokal Plered yang kini mendapat ruang lebih luas untuk tampil di wajah perkotaan Purwakarta.
Penggunaan bata terakota Plered ini menjadi upaya pemerintah daerah mengangkat produk unggulan lokal agar semakin dikenal dan memiliki peluang pasar lebih luas melalui pembangunan fasilitas publik.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Purwakarta, Entin Suryatin mengatakan, pemanfaatan material lokal merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap potensi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya perajin di Plered.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur perkotaan seharusnya tidak hanya berorientasi pada keindahan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. "Pembangunan gapura ini menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap potensi UMKM lokal, khususnya produk terakota dari Plered. Kami ingin material lokal bisa dimanfaatkan dalam pembangunan sekaligus memberikan dampak bagi pelaku usaha di daerah," kata Entin kepada wartawan, Rabu (4/11/2026).
Pemanfaatan bata berbahan tanah liat tersebut juga sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap program gentengisasi yang belakangan menjadi sorotan di tingkat nasional. Pemkab Purwakarta, kata dia, mencoba menerjemahkan semangat penggunaan produk berbahan tanah liat itu melalui pembangunan fasilitas publik dengan melibatkan potensi material lokal.
Dari sisi desain, ketiga gapura mengadopsi konsep Gapura Melati yang dicanangkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Tampilan gapura dilengkapi elemen lampu Binokasih berbentuk mahkota kerajaan yang diharapkan dapat memperkuat karakter visual sekaligus identitas budaya kawasan.
Entin menyebut, penerapan konsep tersebut diharapkan membuat wajah perkotaan Purwakarta semakin tertata tanpa meninggalkan unsur budaya dan karakter daerah. "Konsep yang digunakan adalah Gapura Melati. Selain desain gapura, ada juga elemen lampu Binokasih dengan bentuk mahkota kerajaan yang menjadi bagian dari identitas visualnya," ujar Entin.
Untuk pembangunan di perempatan Pemda, pekerjaan tidak hanya mencakup dua gapura yang berdiri berpasangan, tetapi juga penataan taman median jalan. Berdasarkan data anggaran, proyek tersebut memiliki pagu sekitar Rp580 juta.
Sementara itu, pembangunan satu gapura di samping Gedung Dakwah memiliki pagu anggaran sekitar Rp248 juta. Tak berhenti pada pembangunan gapura, Disperkim Purwakarta juga melakukan penataan ruang terbuka melalui pembangunan sejumlah taman baru di beberapa titik perkotaan.
Di antaranya Taman Kapten Halim di kawasan Rancadarah dengan anggaran sekitar Rp247 juta, Taman Kemuning sekitar Rp99 juta, serta taman di kawasan Salem dengan anggaran sekitar Rp138 juta yang mulai dibangun.
Penataan tersebut, kata Entin, menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menghadirkan lingkungan perkotaan yang lebih menarik, tertata, sekaligus menyediakan ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat.(add/sep)
