Daya Tarik Wisata di Kampung Tajur Pasanggrahan, Padukan Budaya hingga Perjalanan Reflektif

PURWAKARTA-Kampung Tajur Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, merupakan Desa Wisata yang memadukan pengalaman budaya, edukasi, rekreasi keluarga, hingga perjalanan reflektif bagi para wisatawan. Beragam aktivitas disiapkan untuk memberikan pengalaman bermakna dengan mengajak pengunjung mengenal kekayaan warisan budaya, seni, serta nilai-nilai luhur khas Sunda.
Kampung ini mempertahankan deretan rumah panggung khas Sunda yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dan lembaga pendidikan dari berbagai daerah. Kampung Tajur diciptakan menjadi sebuah desa wisata oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Bukan tanpa sebab, desa yang berada di Kaki Gunung Burangrang masih menjaga kearifan lokal dan keasriannya. Keunikan yang jarang ditemukan di tempat lain inilah yang menjadi magnet utama pariwisata setempat.
Kepala Desa Pasanggrahan, Muh Adam Febriansyah menyampaikan bahwa wisata edukasi di Kampung Tajur ini merupakan bagian dari upaya Desa Pesanggrahan menghadirkan pengalaman yang memperkaya wawasan dan membangun kedekatan masyarakat dengan warisan budaya. "Desa Wisata ini diciptakan oleh Kang Dedi Mulyadi tahun 2004, karena mungkin melihat potensi warga yang masih memakai tungku, rumah panggung, sehingga ia menjadikan kampung ini tempat wisata", ujar Adam, Minggu (13/9/2026).
Di Kampung Tajur, kata dia, pengujung dapat berekowisata dengan aktivitas warga sekitar mulai dari bertani, beternak, bercocok tanam hingga melakukan pembuatan kuliner seperti membuat gula aren membuat wajit dan sejumlah kerajinan tangan lainnya. "Keunggulan di sini, pengunjung dapat mengikuti aktivitas pemilik rumah atau warga sekitar, yang mau ke sawah, ke kebun, mau bikin masakan atau kerajinan kami siapkan," jelasnya.
Adam menyebutkan, sedikitnya ada 40 rumah berbentuk rumah panggung dengan bahan dasar kayu dan bambu yang di jadikan Penginapan (Homestay), kerapian rumah ini ditambah dengan seragamnya cat rumah warga tersebut yakni hitam dan putih. Tak hanya itu, lanjut dia, mayoritas warga masih mempertahankan kearifan lokal salah satunya memasak menggunakan kayu bakar di tungku pembakaran. "Kearifan lokal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunujungnya yang mayoritas warga perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Bekasi Dan Depok," ucapnya.
Di Kampu Tajur, sabung Adam, kegiatan perjalanan yang menggabungkan aktivitas wisata dengan proses pembelajaran. Pelajar dapat mengunjungi berbagai tempat sambil mempelajari budaya, lingkungan, maupun kehidupan masyarakat di sekitar destinasi. "Berbeda dengan perjalanan yang hanya berfokus pada hiburan, wisata edukasi memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendapatkan pengetahuan dari pengalaman langsung. Hal tersebut dapat membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan tidak monoton," ungkapnya.
Jika berkunjung ke kampung tajur, pengunjung diawali dengan suguhan pepohonan yang rindang dengan suasana yang sejuk, gunung yang menjulang, hamparan sawah yang menghijau dan angin berhembus menambah kenikmatan saat tiba di wilayah Desa Pasanggrahan. Saat tiba di Kampung Tajur, terlihat deretan rumah-rumah panggung layaknya rumah adat Sunda tempo dulu, dinding dari anyaman bambu, berlantai kayu dan bercat hitam putih menambah keasrian rumah itu.
Rumah itu merupakan rumah-rumah warga biasa mereka tinggal dan dipertahankan keasliannya dari dulu, setelah dinyatakan menjadi desa wisata, rumah itu bisa di sewakan bagi para wisatawan yang ingin menikmati suasana perkampungan.(mas/sep)
