Ikan Mati Massal di KJA Jatiluhur Purwakarta Meluas, Warga Berebut karena Dijual Murah

PASUNDANEKSPRES.ID - Fenomena ikan mati massal di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, terus meluas seiring tingginya curah hujan yang terjadi hampir sepekan terakhir.
Hingga kini, jumlah pasti ikan yang mati belum dapat dipastikan karena potensi penambahan kematian masih terus terjadi.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Purwakarta, Anton Kushartono, mengatakan, fenomena ini berkaitan erat dengan musim hujan yang berlangsung sejak November dan diperkirakan masih berlanjut hingga Maret.
"Untuk jumlah ikan yang mati, sampai saat ini kami belum bisa memastikan karena potensi penambahan masih ada. Curah hujan tinggi ini kan sudah berlangsung sejak November dan masih berlanjut," kata Anton kepada wartawan Pasundan Ekspres di Kantor Diskanak Purwakarta, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan hasil monitoring sementara yang dilakukan bersama UPTD Perairan Umum, sambungnya, wilayah terdampak umbalan yang menyebabkan ikan mati massal di KJA meliputi kawasan Jatiluhur, Ubrug, Tanggul Kayat, serta sebagian wilayah Sukasari.
"Laporan terbaru, kematian ikan mulai bergeser ke wilayah Citerbang, Kecamatan Sukatani. Hari ini teman-teman dari bidang perikanan budidaya langsung turun untuk memonitor dan survei lokasi," ujarnya.
Anton menjelaskan, penyebab utama kematian ikan adalah fenomena upwelling atau umbalan, yakni naiknya massa air dingin dari dasar waduk ke permukaan akibat percampuran suhu air yang dipicu hujan deras dan minimnya sinar matahari.
"Upwelling ini proses alami. Saat hujan tinggi dan tidak ada cahaya matahari, terjadi percampuran suhu antara lapisan atas dan bawah air. Air dingin dari bawah naik ke permukaan, oksigen menurun, ikan tidak kuat lalu mati," ucapnya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut diperparah oleh banyaknya eceng gondok di beberapa titik, khususnya di kawasan Ubrug, yang semakin menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan.
"Dampaknya tidak hanya dirasakan ikan di KJA, tetapi juga ikan liar di perairan waduk yang terlihat naik ke permukaan," kata Anton.
Menurutnya, jenis ikan yang paling banyak terdampak adalah ikan mas dan nila, dengan usia bervariasi, mulai dari benih hingga ukuran mendekati panen. Namun sebagian besar ikan yang mati belum memasuki usia panen.
"Banyak yang masih umur satu sampai satu setengah bulan. Normalnya panen itu dua setengah sampai tiga bulan," ujar Anton.
Pihaknya sebenarnya telah mengantisipasi potensi kejadian ini dengan menerbitkan surat imbauan kepada petani KJA sejak Agustus dan kembali diperkuat pada Desember.
"Dalam surat imbauan itu kami minta agar penebaran ikan dikurangi dan proses panen dipercepat untuk menghindari periode hujan tinggi," ucap Anton.
Berdasarkan data yang diterima dinas, jumlah total KJA di Waduk Jatiluhur saat ini mencapai sekitar 43.000 petak, menjadikan kejadian kematian massal ikan ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi petani budidaya ikan air tawar di Purwakarta.
Sebelumnya, salah satu petani KJA di Waduk Jatiluhur, Roni, mengaku mengalami kerugian besar akibat kematian ikan yang terjadi secara tiba-tiba di kolamnya di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani.
"Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton. Kejadiannya baru semalam, tapi di blok lain sudah dari dua hari lalu," kata Roni.
Menurutnya, di lokasi tersebut terdapat sekitar 32 petak KJA yang terdampak. Ia memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp100 juta.
Ikan Mabuk Diserbu Warga
Di sisi lain, fenomena ini justru dimanfaatkan sebagian warga untuk berburu ikan murah. Ratusan kilogram ikan yang mabuk akibat upwelling dijual dengan harga jauh di bawah pasaran dan diserbu warga dari berbagai daerah.
Pantauan di sekitar perairan Jatiluhur, tepatnya di Dermaga Serpis, Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, warga tampak berkerumun di tepi waduk untuk membeli ikan yang dikumpulkan dari KJA. Harga ikan yang biasanya dijual puluhan ribu rupiah per kilogram, kini bisa ditebus hanya Rp10.000 per kilo.
Ina (36), warga Cinangka, mengaku sengaja datang ke Waduk Jatiluhur setelah mendengar kabar ikan mabuk yang dijual murah.
"Sengaja ke sini, dengar kabar ikan mabuk di Jatiluhur. Saya beli dua kilo saja, harganya Rp10.000 per kilo, jauh lebih murah dari pasar," ujar Ina.
Meski ikan berasal dari peristiwa kematian massal, Ina menilai ikan tersebut masih layak dikonsumsi.
"Masih layak, masih bisa ditiris, warnanya juga masih merah. Enggak busuk-busuk amat. Bakal diolah jadi pesmol," ucapnya.
Hal serupa diungkapkan Mimin (42), warga yang juga sengaja datang ke kawasan Waduk Jatiluhur untuk membeli ikan. "Emang sengaja ke sini buat beli ikan, bukan cuma main aja," katanya.
Mimin mengaku sudah mengetahui sebelumnya bahwa banyak ikan mabuk akibat kondisi cuaca ekstrem. "Sudah tahu, makanya ke sini. Soalnya lebih murah dibanding harga normal," ujarnya.
Ia membeli ikan seharga Rp30.000 untuk beberapa ekor dan berencana mengolahnya menjadi pepes. "Paling dipepes," ucapnya singkat.(add/sep)
