Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ikan Mati Massal di KJA Jatiluhur Purwakarta Meluas, Warga Berebut karena Dijual Murah

A
Adam SumartoEditor: Asep
|08:00 WIB
Bagikan:
Ikan Mati Massal di KJA Jatiluhur Purwakarta Meluas, Warga Berebut karena Dijual Murah
Warga tampak berebut membeli ikan dengan harga murah di Dermaga Serpis Jatiluhur. Ikan-ikan tersebut dalam kondisi mabuk lantaran fenomena upwelling dan dianggap masih layak dikonsumsi.(Adam Sumarto/Pasundan Ekspres)

PASUNDANEKSPRES.ID - Fenomena ikan mati massal di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, terus meluas seiring tingginya curah hujan yang terjadi hampir sepekan terakhir.

Hingga kini, jumlah pasti ikan yang mati belum dapat dipastikan karena potensi penambahan kematian masih terus terjadi.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Purwakarta, Anton Kushartono, mengatakan, fenomena ini berkaitan erat dengan musim hujan yang berlangsung sejak November dan diperkirakan masih berlanjut hingga Maret.

"Untuk jumlah ikan yang mati, sampai saat ini kami belum bisa memastikan karena potensi penambahan masih ada. Curah hujan tinggi ini kan sudah berlangsung sejak November dan masih berlanjut," kata Anton kepada wartawan Pasundan Ekspres di Kantor Diskanak Purwakarta, Senin (26/1/2026).

Berdasarkan hasil monitoring sementara yang dilakukan bersama UPTD Perairan Umum, sambungnya, wilayah terdampak umbalan yang menyebabkan ikan mati massal di KJA meliputi kawasan Jatiluhur, Ubrug, Tanggul Kayat, serta sebagian wilayah Sukasari.

"Laporan terbaru, kematian ikan mulai bergeser ke wilayah Citerbang, Kecamatan Sukatani. Hari ini teman-teman dari bidang perikanan budidaya langsung turun untuk memonitor dan survei lokasi," ujarnya.

Anton menjelaskan, penyebab utama kematian ikan adalah fenomena upwelling atau umbalan, yakni naiknya massa air dingin dari dasar waduk ke permukaan akibat percampuran suhu air yang dipicu hujan deras dan minimnya sinar matahari.

"Upwelling ini proses alami. Saat hujan tinggi dan tidak ada cahaya matahari, terjadi percampuran suhu antara lapisan atas dan bawah air. Air dingin dari bawah naik ke permukaan, oksigen menurun, ikan tidak kuat lalu mati," ucapnya.

Ia mengatakan, kondisi tersebut diperparah oleh banyaknya eceng gondok di beberapa titik, khususnya di kawasan Ubrug, yang semakin menurunkan kadar oksigen terlarut di perairan.

"Dampaknya tidak hanya dirasakan ikan di KJA, tetapi juga ikan liar di perairan waduk yang terlihat naik ke permukaan," kata Anton.

Menurutnya, jenis ikan yang paling banyak terdampak adalah ikan mas dan nila, dengan usia bervariasi, mulai dari benih hingga ukuran mendekati panen. Namun sebagian besar ikan yang mati belum memasuki usia panen.

"Banyak yang masih umur satu sampai satu setengah bulan. Normalnya panen itu dua setengah sampai tiga bulan," ujar Anton.

Pihaknya sebenarnya telah mengantisipasi potensi kejadian ini dengan menerbitkan surat imbauan kepada petani KJA sejak Agustus dan kembali diperkuat pada Desember.

"Dalam surat imbauan itu kami minta agar penebaran ikan dikurangi dan proses panen dipercepat untuk menghindari periode hujan tinggi," ucap Anton.

Berdasarkan data yang diterima dinas, jumlah total KJA di Waduk Jatiluhur saat ini mencapai sekitar 43.000 petak, menjadikan kejadian kematian massal ikan ini berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi petani budidaya ikan air tawar di Purwakarta.

Sebelumnya, salah satu petani KJA di Waduk Jatiluhur, Roni, mengaku mengalami kerugian besar akibat kematian ikan yang terjadi secara tiba-tiba di kolamnya di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani.

"Di kolam saya saja yang mati hampir satu ton. Kejadiannya baru semalam, tapi di blok lain sudah dari dua hari lalu," kata Roni.

Menurutnya, di lokasi tersebut terdapat sekitar 32 petak KJA yang terdampak. Ia memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp100 juta.

Ikan Mabuk Diserbu Warga
Di sisi lain, fenomena ini justru dimanfaatkan sebagian warga untuk berburu ikan murah. Ratusan kilogram ikan yang mabuk akibat upwelling dijual dengan harga jauh di bawah pasaran dan diserbu warga dari berbagai daerah.

Pantauan di sekitar perairan Jatiluhur, tepatnya di Dermaga Serpis, Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, warga tampak berkerumun di tepi waduk untuk membeli ikan yang dikumpulkan dari KJA. Harga ikan yang biasanya dijual puluhan ribu rupiah per kilogram, kini bisa ditebus hanya Rp10.000 per kilo.

Ina (36), warga Cinangka, mengaku sengaja datang ke Waduk Jatiluhur setelah mendengar kabar ikan mabuk yang dijual murah.

"Sengaja ke sini, dengar kabar ikan mabuk di Jatiluhur. Saya beli dua kilo saja, harganya Rp10.000 per kilo, jauh lebih murah dari pasar," ujar Ina.

Meski ikan berasal dari peristiwa kematian massal, Ina menilai ikan tersebut masih layak dikonsumsi.

"Masih layak, masih bisa ditiris, warnanya juga masih merah. Enggak busuk-busuk amat. Bakal diolah jadi pesmol," ucapnya.

Hal serupa diungkapkan Mimin (42), warga yang juga sengaja datang ke kawasan Waduk Jatiluhur untuk membeli ikan. "Emang sengaja ke sini buat beli ikan, bukan cuma main aja," katanya.

Mimin mengaku sudah mengetahui sebelumnya bahwa banyak ikan mabuk akibat kondisi cuaca ekstrem. "Sudah tahu, makanya ke sini. Soalnya lebih murah dibanding harga normal," ujarnya.

Ia membeli ikan seharga Rp30.000 untuk beberapa ekor dan berencana mengolahnya menjadi pepes. "Paling dipepes," ucapnya singkat.(add/sep)

Berita Terbaru

Pojokan 328: Mitelor

Pojokan 328: Mitelor

Opini2 jam lalu
Cara Sematkan Postingan Foto dan Video di Instagram, Pake Fitur Ini

Cara Sematkan Postingan Foto dan Video di Instagram, Pake Fitur Ini

Lifestyle2 jam lalu
Tips Sehat di Musim Pancaroba agar Tidak Mudah Tumbang Saat Cuaca Berubah

Tips Sehat di Musim Pancaroba agar Tidak Mudah Tumbang Saat Cuaca Berubah

Lifestyle3 jam lalu
Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar, Cek 11 Sasaran ETLE dan Dendanya

Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar, Cek 11 Sasaran ETLE dan Dendanya

Nasional3 jam lalu
ADVERTISEMENT
Klasemen Super League 2026/2027 Persib Naik ke Posisi 5

Klasemen Super League 2026/2027 Persib Naik ke Posisi 5

Olahraga3 jam lalu
DTIIF 2026 Digelar di Jakarta, Danantara Bidik Investasi Teknologi Global

DTIIF 2026 Digelar di Jakarta, Danantara Bidik Investasi Teknologi Global

Nasional4 jam lalu
Kementerian ESDM Buka Lowongan Pengawal Energi 2026, Tersedia 108 Formasi

Kementerian ESDM Buka Lowongan Pengawal Energi 2026, Tersedia 108 Formasi

Nasional4 jam lalu
Krisis Air Bersih Subang Selatan, Pemkab Siapkan Jaringan Pipa 5 Kilometer

Krisis Air Bersih Subang Selatan, Pemkab Siapkan Jaringan Pipa 5 Kilometer

Subang4 jam lalu
KPK Usulkan Harta Pejabat yang Tidak Dilaporkan dalam LHKPN Dirampas Negara

KPK Usulkan Harta Pejabat yang Tidak Dilaporkan dalam LHKPN Dirampas Negara

Nasional4 jam lalu
Viral! Kopdes di Rantauprapat Terendam Banjir, Pemilihan Lokasi Ikut Dipersoalkan

Viral! Kopdes di Rantauprapat Terendam Banjir, Pemilihan Lokasi Ikut Dipersoalkan

Nasional5 jam lalu
Ikan Mati Massal di KJA Jatiluhur Purwakarta Meluas, Warga Berebut karena Dijual Murah | Pasundan Ekspres