Pandawara dari Purwakarta, Kelola Sampah Secara Mandiri

PASUNDANEKSPRES.ID - Pandawara Group adalah sekelompok lima pemuda yang viral karena aksi nyata membersihkan sampah di sungai, selokan, dan pantai yang tercemar. Aksi-aksi mereka banyak dibagikan di TikTok @pandawaragroup dan Instagram @pandawaragroup, yang berhasil menarik perhatian warganet dan memotivasi relawan lain untuk bergabung.
Pandawara di Desa Nangerang
Siapa sangka di Kabupaten Purwakarta juga ada "Pandawara", tepatnya di Desa Nangerang, Kecamatan Wanayasa. Adalah sebuah tim kecil beranggotakan lima pemuda menjadi penggerak dalam mengelola sampah.
Inisiator gerakan tersebut, Asep Saepul, menyebutkan, masalah sampah seringkali menjadi polemik yang tak kunjung usai, tak terkecuali di tingkat desa.
"Kami membentuk tim kecil sebagai jawaban konkret atas keresahan masyarakat terkait kebersihan lingkungan. Gerakannya kami namakan unit pengelolaan sampah dan telah berjalan secara konsisten selama hampir dua tahun," kata Asep kepada Pasundan Ekspres, Minggu (19/4/2026).
Asep menceritakan bahwa langkah ini bermula dari banyaknya suara sumbang dan keluhan warga mengenai tumpukan sampah yang tidak terkelola dengan baik. Alih-alih menunggu bantuan dari pihak luar, Asep dan keempat rekannya memutuskan untuk turun tangan langsung.
"Kami berangkat dari keresahan atas keluhan warga mengenai sampah. Kami ingin menjadi jawaban atas masalah itu, bukan malah ikut mengeluh," ujar Asep.
Menjadi pengelola sampah di desa bukanlah pekerjaan yang selalu mendapat pujian. Di awal berdiri hingga perjalanannya yang hampir mencapai tahun kedua, tim ini sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.
Profesi yang berhubungan langsung dengan limbah domestik seringkali dianggap kurang bergengsi bagi anak muda. Akan tetapi, semangat mereka tidak surut. Bagi Asep dan timnya, hasil nyata di lapangan jauh lebih penting daripada opini publik.
"Walaupun kadang dipandang sebelah mata, tapi setidaknya kami memberikan jawaban atas masalah yang ada di lingkungan terdekat, yakni desa, apalagi terkait sampah," ucapnya tegas.
Konsistensi tim ini dalam menjaga wajah Desa Nangerang tetap bersih mulai membuahkan hasil. Lingkungan menjadi lebih tertata, dan pola pikir masyarakat perlahan mulai berubah.
Kini, setelah dua tahun berjalan, pengelolaan sampah berbasis komunitas di Desa Nangerang pun terus menunjukkan geliat positif.
Tim kecil yang diinisiasi Asep telah berhasil merangkul sedikitnya 200 Kepala Keluarga (KK) untuk terlibat aktif dalam sistem manajemen limbah domestik yang mandiri.
Bergerak dengan semangat swadaya, tim ini tidak hanya mengangkut sampah, namun juga melakukan pemilahan yang berorientasi pada kemanfaatan lingkungan dan ekonomi.
Sampah organik yang dikumpulkan diolah sedemikian rupa hingga menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi kesuburan tanah di sekitar pemukiman.
Sementara itu, sampah non-organik atau sampah kering, tim mengarahkannya ke sektor ekonomi sirkular. Sampah-sampah yang memiliki nilai jual dikumpulkan dan ditukarkan ke pengepul rongsok.
Hasil penjualan tersebut digunakan untuk mendukung biaya waktu operasional yang hingga kini masih dikelola secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar.
Ingin Jalankan Metode Budidaya Maggot
Meski telah menunjukkan hasil nyata bagi 200 KK, langkah tim "Sapu Bersih" ini bukan tanpa hambatan. Asep mengakui bahwa kendala utama yang menghadang saat ini adalah keterbatasan tenaga lapangan serta aspek permodalan.
Lebih lanjut, ia memaparkan rencana pengembangan inovasi yang masih tertahan. Tim sebenarnya memiliki visi untuk mengolah sampah organik secara lebih profesional menggunakan metode budidaya maggot.
Metode tersebut dikenal sangat efektif dalam mengurai limbah organik sekaligus memiliki nilai jual tinggi sebagai pakan ternak.
"Kami mempunyai keinginan untuk mengembangkan pengolahan organik menjadi maggot, namun saat ini kendalanya masih pada modal usaha. Jika ada dukungan modal, output ekonominya tentu akan jauh lebih besar bagi tim dan desa," katanya.
Kehadiran tempat pengolahan sampah sederhana di Desa Nangerang menjadi bukti bahwa keresahan warga dapat dijawab dengan kreativitas. Ke depan, Asep berharap ada sinergi yang lebih kuat, baik dari sisi penambahan personel maupun dukungan investasi alat dan modal, agar efisiensi pengolahan sampah organik dan non-organik dapat terus ditingkatkan demi lingkungan Wanayasa yang lebih bersih.
"Semoga apa yang kami lakukan menjadi motivasi bagi para pemuda di berbagai desa yang lain. Bahwa anak muda harus berani mengambil peran, sekecil apapun itu, demi kemajuan desanya sendiri," kata Asep.
Melalui tagline "Jadilah Bagian dari Solusi, Bukan Polusi", lima pemuda Desa Nangerang ini membuktikan bahwa perubahan besar kerap dimulai dari kepedulian di halaman rumah sendiri.(add/sep)
