PMII Purwakarta Gaungkan Oposisi Fidelis

PASUNDANEKSPRES.ID - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Purwakarta masa khidmat 2026–2027 resmi dilantik pada 9 Mei 2026 dengan mengusung tema Revelasi Pergerakan sebagai penegasan arah gerakan mahasiswa yang kritis, ideologis, dan berpihak kepada rakyat. Pelantikan PC PMII Purwakarta ke-XV itu tidak hanya menjadi seremoni pergantian kepengurusan, tetapi juga momentum konsolidasi ideologis di tengah situasi sosial dan politik yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan masyarakat kecil.
Ketua PC PMII Purwakarta terlantik, I. Aldi Wiguna, menegaskan konsep Revelasi Pergerakan merupakan ajakan untuk menghidupkan kembali watak gerakan mahasiswa sebagai alat kontrol sosial yang tidak tunduk pada kekuasaan.
Menurutnya, PMII harus kembali menjadi gerakan kader dan gerakan sosial yang lahir dari denyut perjuangan rakyat.
“PMII harus kembali menjadi parlemen jalanan yang menjadi suara rakyat kecil serta menjadi kekuatan moral yang tidak takut mengkritik ketika kebijakan melukai masyarakat,” tegas Aldi.
Ia juga memperkenalkan konsep Oposisi Fidelis, yakni oposisi yang tetap setia terhadap rakyat dan cita-cita kebangsaan, bukan oposisi yang sekadar mencari panggung politik.
“Kami tidak akan menjadi oposisi yang menjadikan kritik sebagai komoditas kekuasaan, tetapi oposisi ideologis yang mengawal kebijakan publik dengan keberpihakan kepada masyarakat,” katanya kepada Pasundan Ekspres.
PMII Purwakarta Menyoroti Ancaman Neo-Kolonialisme
Sementara itu, Majelis Pembina Cabang PMII Purwakarta, Ramlan Maulana, menyoroti ancaman neo-kolonialisme yang kini hadir melalui penetrasi ekonomi, budaya, hingga dominasi teknologi dan media sosial.
“Anak muda hari ini sering merasa merdeka, padahal pikirannya dijajah algoritma dan kepentingan modal. Ini bentuk baru kolonialisme yang harus dilawan melalui kesadaran intelektual,” ujarnya.
Dari unsur Pengurus Besar PMII, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Yusril Nager, mengingatkan tantangan gerakan mahasiswa di era digital semakin kompleks karena ruang perjuangan kini juga berlangsung di media sosial dan ruang digital.
“Perjuangan hari ini memiliki risiko nyata. Ketika kader berpihak kepada rakyat, ada kemungkinan diserang melalui opini digital,” ungkapnya.
Ketua IKA PMII Purwakarta, Akhfaz Fauzi Asyqin, turut menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai fondasi moral gerakan di tengah arus pragmatisme politik dan individualisme generasi muda.
Pelantikan tersebut menjadi penegasan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap menjaga daya kritis di tengah dominasi kapitalisme dan kompromi politik, serta terus berdiri bersama rakyat ketika kekuasaan menjauh dari cita-cita keadilan sosial.(mas/ded)
