Tak Terpengaruh MBG, Omzet Pedagang Sate Maranggi Tetap Stabil

PASUNDANEKSPRES.ID - Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah di berbagai wilayah ternyata tidak memberikan dampak negatif bagi usaha kuliner tradisional, khususnya para pedagang Sate Maranggi. Di sejumlah lokasi pusat jajanan dan pasar rakyat, aktivitas jual beli tetap berjalan lancar dan dipadati pembeli seperti biasa.
Salah satunya terlihat di kios-kios Sate Maranggi yang berlokasi di Kecamatan Plered, dimana deretan warung dan gerobak sate masih dipenuhi pengunjung mulai dari siang hingga malam hari.
Para pedagang mengaku bahwa jumlah pembeli dan omzet penjualannya relatif stabil, bahkan masih mengalami peningkatan di akhir pekan, sama seperti sebelum program MBG berjalan.
Pedagang Sate Maranggi: MBG Memiliki Sasaran dan Segmen Berbeda
Jaka (40), seorang pedagang sate Maranggi yang sudah berjualan selama belasan tahun di Plered, mengungkapkan bahwa keberadaan program MBG justru memiliki sasaran dan segmen yang berbeda.
"Sejak ada program makan bergizi gratis, dagangan saya tetap berjalan lancar, tidak ada penurunan pembeli. Program itu kan tujuannya untuk membantu pemenuhan gizi siswa dan warga tertentu, sedangkan pembeli saya datang karena memang ingin menikmati rasa sate yang khas, untuk makan keluarga atau acara santai," ujarnya kepada Pasundan Ekspres.
Hal senada disampaikan Ahmad, pedagang sate Maranggi di lokasi yang sama. Menurutnya, program MBG lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi dasar, sedangkan kuliner seperti sate memiliki nilai selera dan budaya tersendiri yang tetap dicari masyarakat.
"Orang tetap butuh variasi makanan. Makan bergizi gratis itu bagus untuk membantu warga, tapi bukan berarti mereka berhenti membeli makanan di warung kami. Justru banyak warga yang setelah mendapatkan layanan program, tetap mampir untuk membeli sate sebagai hidangan tambahan," tambahnya.
Pantauan di lapangan juga menunjukkan bahwa jam operasional dan lokasi penyelenggaraan program MBG, umumnya berlangsung pada jam sekolah atau jam kerja. Hal ini tidak berpengaruh terhadap penjual sate yang tetap ramai dan buka berjualan selama 24 jam.
Berbeda dengan jam sibuk pedagang kuliner yang lebih ramai pada sore hingga malam hari. Hal ini membuat kedua kegiatan berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.
Salah satu pembeli, Siti mengatakan bahwa program MBG sangat membantu meringankan beban keluarga, namun ia dan keluarganya tetap rutin membeli sate.
"Program makan bergizi gratis sangat bermanfaat, terutama untuk anak-anak di sekolah. Tapi untuk makan malam bersama keluarga, kami tetap suka membeli sate di sini. Rasanya khas dan menjadi kebiasaan kami sejak lama," ungkapnya.
Hingga saat ini, para pedagang berharap program MBG terus berjalan demi kesehatan masyarakat. Sementara mereka pun tetap dapat mengembangkan usaha kuliner tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya kuliner daerah. Kedua kegiatan ini dianggap saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat secara luas.(mas/sep)
