Kenali Tanah nya Panenpun Melimpah: Analisis pH Tanah Kebun Buah Naga Kiwari Farm

Kami kelompok dari Mahasiswa Agrorektan, Fakultas Agrobisnis dan Rekayasa Pertanian, Universitas Subang melakukan kunjungan lapangan langsung ke Desa Sindang Sari, Kecamatan Cikaum, Kabupaten Subang, sekaligus melaksanakan tugas mata kuliah Dasar Dasar Ilmu Tanah yang diberikan oleh Bapak Hamdan Drian Adiwijaya, S.Hut., MP. Mengenai pH tanah yang berpengaruh pada buah naga. wawancara dan observasi mendalam bersama satu petani di Desa Sindang sari yaitu Kang Samba untuk mengulik lebih dalam bagaimana perjuangan para petani dalam membudidayakan komoditas mahal yang penuh tantangan ini.
Di Kiwari Farm bukan hanya kebun buah naga biasa. Di sini dibudidayakan lebih dari 50 jenis buah naga. Sebagian varietasnya diimpor dari luar negeri contohnya, Afrika, Taiwan, dan Israel, dengan varietas asal Taiwan sebagai yang terbanyak. Varietas yang paling laris saat ini adalah Falora, yang kemanisannya mencapai 24 Brix.
Salah satu hal yang menarik dari kunjungan kami adalah media tanam yang digunakan. Para petani Kiwari Farm tidak menanam buah naga di tanah murni, melainkan di campuran tiga bahan dengan perbandingan nya 2:1:1, yaitu dua bagian tanah, satu bagian kotoran sapi atau kambing, dan satu bagian sekam bakar. Karena buah naga memiliki akar serabut, kegemburan media tanam menjadi hal yang sangat diperhatikan. Petani rutin memeriksa apakah tanah masih gembur atau sudah memadat. Cara menggemburkannya masih manual, yaitu dicangkul bedengan demi bedengan. Cara ini bisa dilakukan karena lahan yang kami kunjungi adalah lahan percobaan yang skalanya tidak terlalu besar.
Perawatan tanaman dibagi mengikuti fasenya. Pada fase vegetatif, petani memberikan pupuk NPK seimbang, urea, dan Gandasil. Memasuki fase generatif, perhatian petani beralih fokus ke media tanam saja.
Dari awal tanam sampai panen, buah naga membutuhkan waktu sekitar 10 bulan hingga 1 tahun. Rata-rata tanaman mulai masuk fase generatif pada usia 1 tahun. Ada satu perlakuan khusus yang wajib dilakukan: pada usia 8 sampai 10 bulan, tanaman disinari lampu pada malam hari. Buah naga memiliki kebutuhan sinar matahari yang tinggi pada fase generatif, sehingga lampu dipakai untuk merangsang ujung bunga. Tanpa lampu, bunga tidak akan tumbuh serentak.
Untuk melindungi tanaman, petani menggunakan pestisida Antracol, Bion M, dan Buldog. Gangguan yang paling sering muncul adalah penyakit cacar yang dipicu faktor lingkungan, dengan sinar matahari sebagai pengaruh terbesarnya. Cacar paling sering menyerang saat fase vegetatif, dan bagian yang paling rentan adalah tunas muda. Solusi yang dipilih petani adalah memasang atap transparan seperti yang biasa dipakai pada greenhouse. Adapun dari kelompok serangga, gangguan terbesar datang dari semut.
Lahan yang kami kunjungiadalahlahanpercobaan, tempat para petanimengawinsilangkanberbagaivarietasbuah naga. Setelahadavarietas yang dinilaibagusuntukdikembangkan, varietastersebutdisortir, laluproduksisilangannyadiperbanyak. Prosesnya dimulaidaribijihasilsilangan yang ditebar. Ketika tunas barumuncul, tunas tersebutdisambung (grafting) untukmenghasilkanvarietasbarudenganbentuk, rasa, dan warna yang berbeda. Kiwari Farm juga memilikiracikankhususuntukmenunjangpertumbuhanhasilsilangan, yang sifatnyarahasia dan tidakbisadisebutkan. Salah satuhasilpenelitianmerekaadalahvarietas Green Giant, yang ditelitiselama 2 tahun dan memiliki lima rasa dalamsatubuah. Saat dijualsecara online, penjualannyamelesathinggamendatangkan investor. Kini produksinyadihentikankarenapasokansudahdipegang oleh investor tersebut.
Kunjungan kami berfokus pada pH tanah. Menurut para petani, tanamanbuah naga membutuhkan pH tanah pada kisaran 6 sampai 7.
Dan Berdasarkan pengukuran yang kami lakukan pada satutitik di bagiandepankebunKiwari Farm, pH tanahterukursebesar 6,5. Hasil inimenunjukkanbahwakondisi media tanam di area tersebuttergolongsesuaiuntukbudidayabuah naga yang membutuhkan pH optimal 6 sampai 7. Meskipunpengukuranhanyadilakukan pada satutitik, hasilinimengindikasikanbahwapengelolaantanah di Kiwari Farm sudahdilakukandenganbaik.
PetaniKiwari Farm menjelaskan dua kemungkinanmasalah pH dan caramengatasinya:
• pH terlalurendah (di bawah 5). Tanamanmengalamistres dan pertumbuhannya sangat terhambat, sehinggajumlah bunga dan buahberkurang. Cara mengatasinyaadalahdengankapurdolomitataukapurpertanian. Kapur ditaburmengelilingitanaman agar bisaterserap oleh akarserabutnya. Dolomitlebihdisukaikarenasekaligusmenambahunsurkalsium dan magnesium.
• pH terlalutinggi (di atas 7). Unsurmikrosepertiseng, mangan, dan tembagamenjadisulitterseraptanaman. Tandanyaadalahklorosis, yaituujung tunas mudamenguningsementaratulangdaunnyatetaphijau, disertaipertumbuhan yang terhambat. Cara mengatasinyaadalahdenganbelerangatau sulfur pertanian. Mikrobatanahakanmengubahnyaperlahanmenjadiasamsulfat, sehinggapemberiannyacukupsedikitsaja dan hasilnyaperluditunggu.
Kesimpulan
Dari kunjunganini, kami belajarbahwakeberhasilanbudidayabuah naga tidakhanyaditentukan oleh varietasunggul, tetapi juga oleh kondisitanah dan media tanamnya. Di Kiwari Farm, tanahdiperlakukandenganteliti, mulaidaricampuran media, pemeriksaankegemburan, sampaipemantauanpH. Kami mengucapkan terimakasihkepada [Kang Samba] dan seluruhtimKiwari Farm yang telahmenerima kami denganbaik dan berbagiilmu yang sangat berharga
