Peneliti POLSUB dan BRIN Sulap Limbah Pisang Jadi Bioplastik

SUBANG - Limbah bonggol dan batang pohon pisang yang selama ini dibiarkan membusuk di Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, kini dikembangkan menjadi bahan baku bioplastik sebagai alternatif kemasan berkelanjutan.
Inovasi tersebut lahir dari penelitian tim akademisi Politeknik Negeri Subang (POLSUB) melalui riset bertajuk "Bioplastik Komposit Pisang–ZnO Sebagai Alternatif Kemasan Berkelanjutan: Studi Sifat Fisik-Mekanik Dan Penerimaan Konsumen".
Penelitian ini merupakan kolaborasi Tim Dosen dan Mahasiswa POLSUB dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta para Petani Pisang Ambon di Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang.
Tim riset dikomandoi Irna Dwi Destiana, S.Pd., M.Si., dengan anggota dosen bidang pengemasan Fenny Apriliani S.TP., M.Si., peneliti pascapanen BRIN Lista Eka Yulianti, S.Pd., M.Si., serta dua mahasiswa D3 Agroindustri, Jurusan Pertanian, Muhammad Ghifari Alfarizqi dan Dzikri Alyasa.
Irna Dwi Destiana menjelaskan, ide penelitian tersebut berawal dari melimpahnya limbah bonggol dan batang pisang pascapanen yang kaya akan pati dan selulosa, namun selama ini dibiarkan membusuk begitu saja.
"Bioplastik berbasis pati sebenarnya bukan hal baru, tetapi memiliki kelemahan mendasar pada sifat mekanik yang rapuh dan rentan terhadap air. Kami melihat bahwa penambahan selulosa dari batang pisang sebagai penguat, serta zinc oxide (ZnO) sebagai filler, diharapkan mampu meningkatkan karakteristik fisik, mekanik, dan fungsional bioplastik secara signifikan,” ungkap Irna yang kini tengah menempuh Program Doktor Teknik Industri Pertanian di IPB University.
Untuk menghasilkan kemasan alternatif berkualitas, proses penelitian di laboratorium dilakukan secara terukur. Irna memaparkan, tahapan dimulai dari ekstraksi pati bonggol pisang dan isolasi selulosa batang pisang melalui proses pemutihan (bleaching).
Bahan-bahan tersebut kemudian dicetak menjadi bioplastik menggunakan metode solution casting dengan variasi konsentrasi ZnO sebesar 10, 20, dan 30 persen.
Hasil cetakan tersebut tidak langsung dilempar ke publik, melainkan harus melewati serangkaian uji karakterisasi ketat. Pengujian meliputi ketebalan, daya serap air, kekuatan tarik (tensile strength), elastisitas, hingga seberapa cepat plastik tersebut hancur di alam (biodegradasi) dan bagaimana penerimaan konsumen (uji organoleptic).
Seluruh rancangan eksperimen ini divalidasi menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Menurut Irna, Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) dari riset ini telah mencapai TKT 4. Artinya, formulasi bioplastik ini telah teruji dan tervalidasi secara eksperimental di skala laboratorium, membuktikan kelayakan teknisnya sebagai kandidat kuat pengganti plastik konvensional.
Lebih dari sekadar pencapaian akademis, riset kolaboratif ini sukses menghidupkan konsep ekonomi sirkular. Limbah pisang di Kecamatan Cijambe yang dulunya tak bernilai, kini memiliki potensi ekonomi baru sebagai bahan baku kemasan.
Tak hanya itu, ekosistem riset yang sehat ini juga berhasil mengantarkan dua mahasiswa D3 Agroindustri yang terlibat di dalamnya untuk lulus tepat waktu dengan hasil tugas akhir yang optimal.
Ke depannya, tim peneliti menaruh asa besar agar temuan ini tidak hanya berhenti di laci laboratorium.
“Kami berharap dengan hasil penelitian ini, teknologi bioplastik komposit pisang–ZnO terbukti memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut menuju skala prototipe dan dapat segera diaplikasikan di dunia industri,” pungkas Irna.(adv/ysp)
