150 Km Jalan Dikebut 2 Tahun, Bupati Subang Punya Target Besar di 2029

SUBANG – Pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu program yang paling menonjol dalam hampir dua tahun masa kepemimpinan Bupati Subang Renaldi bersama Wakil Bupati Agus Maskur.
Bupati Subang Punya Target Besar di 2029
Dalam wawancara program Bincang-bincang Pasundan yang dipandu Yusuf Suparman dari Pasundan Ekspres, Bupati Subang mengungkapkan bahwa sekitar 150 kilometer jalan ditargetkan telah diselesaikan dalam kurun waktu dua tahun.
Menurutnya, pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah mengembalikan uang masyarakat dalam bentuk pembangunan yang dapat dirasakan secara langsung.
"Kalau pas dua tahun itu bisa dikumulatifkan 95 kilometer ditambah tahun ini 55 kilometer. Berarti sekitar 150 kilometer dalam dua tahun kita selesaikan," ujar Renaldi.
Ia menegaskan, pembangunan jalan bukan semata-mata pencapaian pemerintah, melainkan bentuk pengembalian manfaat dari uang masyarakat yang berasal dari pajak dan sumber pendapatan daerah lainnya.
APBD Rp2,8 Triliun, Hanya Rp400 Miliar yang Fleksibel
Di balik pembangunan tersebut, pemerintah daerah menghadapi tantangan anggaran yang cukup berat.
Renaldi menjelaskan, secara nominal APBD Kabupaten Subang mencapai sekitar Rp2,8 triliun. Namun, angka tersebut tidak seluruhnya dapat digunakan secara bebas untuk pembangunan.
Setelah memperhitungkan belanja pegawai, dana transfer yang sudah memiliki peruntukan, BPJS, honor, dana desa dan berbagai kebutuhan lainnya, ruang fiskal yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai program prioritas disebut hanya sekitar Rp400 miliar.
"Orang di luar sana melihat APBD Rp2,8 triliun itu besar. Tapi uang yang bisa kita kembalikan untuk membangun itu hanya Rp400 miliar," katanya.
Kondisi tersebut semakin berat setelah terjadi pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) sekitar Rp350 miliar.
Padahal, sejak awal menjabat, pemerintah daerah telah memiliki skema pembangunan infrastruktur secara bertahap.
Renaldi menyebut, pada 2025 direncanakan anggaran jalan sekitar Rp250 miliar. Kemudian pada 2026 semula ditargetkan meningkat hingga Rp450 miliar, sementara 2027 diarahkan untuk tahap penuntasan sekitar Rp300 miliar.
Namun, rencana tersebut harus disesuaikan akibat adanya pengurangan TKD.
Anggaran Jalan Turun Jadi Rp175 Miliar
Dampak pengurangan anggaran membuat alokasi pembangunan jalan pada 2026 ditetapkan sekitar Rp175 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp250 miliar.
Meski demikian, Renaldi masih membuka peluang penambahan anggaran melalui perubahan APBD.
"Walaupun kita sedang melihat kondisi struktur belanja kita seperti apa dan pendapatannya, saya masih ada keinginan untuk tetap menambahkan lagi untuk jalan-jalan yang kondisinya sudah rusak berat," ujarnya.
Ia juga optimistis anggaran pembangunan jalan pada 2027 dapat kembali didorong lebih besar.
Pangkas Hibah, Efisiensi untuk Infrastruktur
Untuk mendapatkan ruang fiskal bagi pembangunan, Pemkab Subang melakukan efisiensi terhadap sejumlah belanja.
Renaldi mengatakan, salah satu pos yang mendapat perhatian adalah anggaran hibah yang sebelumnya dapat mencapai Rp80 miliar hingga Rp100 miliar.
Hibah yang dinilai tidak bersifat wajib atau tidak memiliki manfaat yang jelas bagi masyarakat dipangkas dan dialihkan untuk program prioritas.
Ia juga mencontohkan efisiensi terhadap fasilitas pemerintahan. Bahkan, Renaldi mengaku tidak mengambil mobil dinas untuk dirinya.
"Saya bilang, mobil dinas saya mending buat bangun jalan," katanya.
Ia menegaskan prinsip yang digunakan dalam pengelolaan anggaran adalah memastikan setiap rupiah yang berasal dari masyarakat kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.
"1 persen pun uang itu harus kembali ke masyarakat," tegasnya.
Bukan Hanya Bangun Jalan, Pemeliharaan Jadi Perhatian
Pembangunan jalan, menurut Renaldi, tidak cukup hanya dengan membuat jalan baru. Pemeliharaan juga menjadi persoalan penting agar jalan yang telah dibangun tidak kembali mengalami kerusakan.
Ia menyebut idealnya anggaran pemeliharaan jalan mencapai sekitar 20 persen dari total anggaran pembangunan jalan.
Namun, keterbatasan fiskal membuat Pemkab Subang belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara ideal.
Pada 2026, pemerintah daerah mengalokasikan sekitar Rp15 miliar untuk pemeliharaan jalan.
Selain jalan, pembangunan infrastruktur juga harus dibarengi dengan perbaikan drainase, irigasi dan tembok penahan tanah (TPT).
Menurutnya, drainase menjadi faktor penting karena jalan yang dibangun tanpa sistem pembuangan air yang baik akan lebih cepat rusak.
Target 2029: Jalan Rusak Dituntaskan
Renaldi memasang target besar hingga akhir masa jabatannya.
Ia berharap pada 2029, persoalan jalan rusak di Kabupaten Subang dapat dituntaskan.
Bukan hanya jalan, pemerintah daerah juga menargetkan ribuan ruang kelas yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki secara bertahap.
"Di 2029 nanti saya ingin jalan di Kabupaten Subang itu sudah tidak ada lagi yang rusak. Saya ingin di 2029 nanti tidak ada lagi ruang kelas yang rusak," ungkapnya.
Pemkab Subang sendiri mulai mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki sekitar 305 ruang kelas pada 2026, dengan target jangka panjang sekitar 2.100 ruang kelas rusak dapat diselesaikan hingga 2029.
Infrastruktur Disebut sebagai Pondasi Ekonomi Subang
Bagi Renaldi, pembangunan jalan bukan sekadar mempercantik infrastruktur daerah. Jalan yang baik dinilai menjadi pondasi untuk menggerakkan sektor lain.
Dengan akses jalan yang lebih baik, masyarakat dinilai akan lebih mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, mengakses pendidikan, menjalankan aktivitas ekonomi hingga menuju kawasan industri dan pariwisata.
"Omong kosong ketika kita ingin membangun daerah kalau infrastrukturnya kita biarkan," ujarnya.
Ia menilai cita-cita menjadikan Subang sebagai daerah industri, pariwisata maupun pusat ekonomi harus didukung infrastruktur yang memadai.
Ingin Dikenang karena Pembangunan
Menjelang akhir masa jabatannya pada 2030, Renaldi mengaku tidak ingin dikenang karena hal-hal yang bersifat seremonial.
Ia justru berharap masyarakat mengingat pemerintahannya melalui pembangunan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
"Saya ingin masyarakat tahu ketika menginjakkan kakinya di tanah, mereka tahu ini jalan dibangun oleh saya. Ketika mereka mengantarkan anaknya sekolah, mereka tahu ruang kelasnya ini dibangun oleh saya," katanya.
Ia juga menargetkan peningkatan layanan kesehatan, penurunan angka kemiskinan dan pengangguran serta peningkatan akses pendidikan.
Bagi Renaldi, pembangunan dengan anggaran besar mungkin bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, membangun dengan anggaran terbatas dan tetap memberikan dampak bagi masyarakat menjadi tantangan yang ingin dibuktikannya.
"Selama kita mengirit, selama kita berkorban, kita punya idealisme untuk membangun," pungkasnya
