Desa Anggasari di Subang Krisis Air Asin, Lima Tahun Gagal Tanam Padi

PASUNDANEKSPRES.ID - Akibar abrasi yang menyebabkan krisis air asin, Ratusan hektar sawah di Desa Anggasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, tidak bisa lagi ditanami padi.
Kepala Desa Anggasari, Sukendi, mengungkapkan kepada Pasundan Ekspres bahwa permasalahan air asin tersebut telah menghambat produktivitas pertanian di desanya secara signifikan.
“Desa saya saat ini terbelenggu persoalan air asin seluas kurang lebih 326 hektare. Selama hampir lima tahun, warga tidak bisa menanam padi,” ujar Sukendi kepada Pasundan Ekspres.
Ia menjelaskan, dari total 562 hektare lahan sawah yang dimiliki desa, kini hanya sekitar 236 hektare yang masih bisa digarap. Kondisi itu disebabkan oleh tanggul yang rusak akibat abrasi air laut dan pasang surut yang terus terjadi setiap tahun.
Untuk menahan abrasi, pemerintah desa bersama warga melakukan upaya gotong royong dengan menanam mangrove di sepanjang tanggul. Langkah ini dilakukan dengan dukungan Yayasan Lingkungan Nusantara Indah (YLNI) yang turut membantu pemulihan kawasan pesisir.
“Alhamdulillah, kami bersama warga sudah berupaya menahan abrasi dan menanam mangrove di pinggir pantai,” ujarnya.
Selain membantu rehabilitasi lingkungan, YLNI juga mendorong pemerintah desa untuk mengoptimalkan lahan yang terdampak air asin melalui budidaya perikanan.
“YLNI menawarkan agar lahan yang tergenang air asin bisa dimanfaatkan. Kami diberikan bibit ikan dan udang sebagai kompensasi, agar tanah tidak menganggur,” jelas Sukendi.
Namun, hingga kini persoalan air asin di Anggasari belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Sukendi menyebut, satu-satunya langkah besar yang pernah dilakukan adalah normalisasi saluran air oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sepanjang hampir delapan kilometer.
“Belum ada tindakan signifikan dari Pemda. Yang baru dilakukan itu normalisasi oleh BBWS, sekitar delapan kilometer,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya telah beberapa kali berdialog dengan Bupati Subang agar permasalahan ini segera ditangani secara menyeluruh, mengingat dampaknya sangat besar terhadap ekonomi masyarakat pesisir.
“Saya sudah membicarakan langsung dengan Pak Bupati agar ada penanganan serius untuk persoalan ini,” ujarnya berharap.
Sukendi menegaskan, masyarakat Anggasari hanya menginginkan solusi nyata agar mereka bisa kembali menanam padi seperti dulu.
“Kami berharap permasalahan air asin ini segera diatasi. Masyarakat sudah terlalu lama kesusahan,” pungkasnya.(fsh/ded)
