Dulu Diprotes Warga, Wisata Cimutan Subang Kini Diserbu Wisatawan

SUBANG- Wisata Cimutan Subang yang berada di Desa Kasomalang Kulon kini menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat. Siapa sangka, sumber mata air yang dahulu hanya dimanfaatkan warga untuk mencuci pakaian, piring, hingga beras itu kini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, hingga melahirkan puluhan homestay.
Ketua Unit Pariwisata BUMDes Sauyunan, Iwan Bule, mengungkapkan perjalanan panjang lahirnya wisata tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan, saat pertama kali digagas pada 2019, ide menjadikan sumber mata air sebagai objek wisata sempat menuai penolakan dari masyarakat.
"Awalnya hanya berangkat dari sekitar 12 pemuda Karang Taruna yang ingin membangun potensi desa. Dulu Cimutan adalah sumber mata air utama warga. Semua aktivitas, mulai dari mencuci pakaian, mencuci beras, sampai mencuci piring dilakukan di sini. Jadi ketika akan dijadikan tempat wisata, banyak yang menolak," ucapnya saat di wawancarai Sabtu (4/7/2026).
Menurut Iwan, saat itu sebagian besar rumah warga belum menikmati layanan air bersih sehingga keberadaan mata air Cimutan menjadi kebutuhan utama masyarakat. Kondisi tersebut membuat banyak warga khawatir jika pembangunan wisata justru akan menghilangkan akses mereka terhadap sumber air.
Namun seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terjadi. Masuknya layanan air bersih ke permukiman warga serta meningkatnya pemahaman masyarakat membuat penolakan perlahan berubah menjadi dukungan.
"Alhamdulillah sekarang masyarakat justru bersyukur. Mereka melihat sendiri manfaatnya. Cimutan bukan hanya tetap menjaga sumber air, tetapi juga membawa rezeki bagi warga," katanya.
Pembangunan kawasan wisata dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi Karang Taruna dengan Pemerintah Desa Kasomalang Kulon dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Berbagai fasilitas mulai dibangun, mulai dari gazebo, area kolam, hingga penataan kawasan agar lebih nyaman bagi pengunjung.
Iwan menjelaskan, pengelolaan wisata juga terus dibenahi agar berjalan profesional. Pada awalnya, pengunjung hanya memberikan uang sukarela karena belum ada sistem tiket resmi.
"Kami tidak ingin ada anggapan pungutan liar. Setelah dikelola bersama BUMDes, administrasi mulai ditata, termasuk penetapan harga tiket," jelasnya.
Harga tiket yang semula Rp5.000 sempat mengalami beberapa kali penyesuaian seiring bertambahnya fasilitas, termasuk kolam khusus anak-anak. Setelah menerima berbagai masukan dari pengunjung, akhirnya pengelola menetapkan tarif masuk sebesar Rp10 ribu per orang, sementara kolam anak dikenakan biaya tambahan Rp5 ribu bagi yang ingin menggunakannya.
"Kami ingin wisata ini tetap ramah untuk semua kalangan. Makanya tiket dibuat fleksibel supaya pengunjung tidak merasa keberatan," katanya.
Dampak ekonomi dari keberadaan Cimutan kini mulai dirasakan masyarakat sekitar. Sedikitnya delapan warga direkrut menjadi tenaga kerja tetap sebagai petugas kebersihan, penjaga kolam, hingga petugas tiket.
Lebih dari itu, geliat ekonomi juga dirasakan para pelaku UMKM. Jika sebelumnya pedagang hanya berjualan pada akhir pekan, kini aktivitas jual beli berlangsung setiap hari.
"Alhamdulillah sekarang UMKM buka setiap hari karena pengunjung juga datang setiap hari, apalagi saat musim libur sekolah seperti sekarang," ujar Iwan.
Selama masa libur sekolah, jumlah wisatawan meningkat signifikan hingga sekitar 80 persen dibanding hari biasa. Dalam sehari, jumlah pengunjung mencapai sekitar 500 hingga 600 orang, bahkan bisa lebih banyak pada Sabtu dan Minggu.
Tidak berhenti sebagai wisata pemandian, Cimutan kini mulai mengembangkan berbagai paket wisata berbasis edukasi. Pengunjung dapat mengikuti kegiatan menanam nanas, mengenal budidaya jamur, wisata sejarah desa, hingga menikmati tradisi khas masyarakat berupa ngagobyag di sumber mata air.
Inovasi lain yang menjadi perhatian adalah hadirnya 48 homestay milik warga. Program tersebut lahir setelah kawasan Cimutan menjadi lokasi berbagai kegiatan nasional yang menghadirkan tamu dari luar daerah.
"Kalau pengunjung kemalaman atau terjebak macet, sekarang mereka bisa menginap di rumah-rumah warga. Saat ini sudah ada 48 homestay dengan tarif mulai Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per malam, termasuk sarapan," jelasnya.
Menurut Iwan, keberadaan homestay menjadi peluang ekonomi baru yang langsung dirasakan masyarakat. Warga tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan dari berdagang, tetapi juga memperoleh pemasukan dari penyewaan rumah.
Ia berharap pengembangan kawasan wisata ke arah timur yang tengah direncanakan Pemerintah Desa Kasomalang Kulon dapat segera terealisasi agar semakin banyak ruang bagi UMKM dan masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi.
"Kami ingin Cimutan terus berkembang. Harapannya nanti UMKM bertambah, lapangan kerja bertambah, dan manfaatnya semakin luas bagi masyarakat," pungkasnya.
Dari tempat yang dahulu dipenuhi keraguan, kini Cimutan menjelma menjadi destinasi wisata yang menghidupi warga, menggerakkan UMKM, dan menarik ratusan wisatawan datang ke Desa Wisata Kasomalang Kulon. (hdi/ysp)
