Festival Literasi Subang 2026 Tak Hanya Hadirkan Buku, Disarpus Dorong UMKM dan Pelayanan Publik

PASUNANEKSPRES.ID - Festival Literasi Subang 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 27–29 Oktober, di halaman Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Subang, Jalan Ahmad Yani No. 12, Kelurahan Pasirkareumbi. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Subang ini tidak hanya menghadirkan aktivitas membaca, tetapi juga menghubungkan literasi dengan pemberdayaan ekonomi dan pelayanan publik.
Mengusung tema “Literasi Tumbuh, Subang Tangguh: Menguatkan Budaya Literasi untuk Subang Cerdas, Kreatif, dan Produktif”, festival ini dirancang untuk mendekatkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif, hiburan keluarga, pameran produk lokal, dan layanan lintas instansi.
Dalam laporan Pasundan Ekspres pada 30 September 2026, Kepala Bidang Pelayanan dan Pengelolaan Perpustakaan Disarpus Kabupaten Subang, Rosmayati, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini mengintegrasikan kegiatan literasi dengan pelayanan publik. Keterangan tersebut disampaikan dalam program talk show LEKAT di LPPL Radio Benpas Subang.
Perpustakaan Jadi Ruang Pemberdayaan Ekonomi
Salah satu program yang menjadi perhatian dalam Festival Literasi Subang 2026 adalah Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini mendorong masyarakat memanfaatkan pengetahuan dari bahan bacaan menjadi keterampilan praktis yang dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Pustakawan Perpustakaan Daerah Kabupaten Subang, Tami, menjelaskan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat perlu diterapkan untuk membantu menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari.
Melalui jaringan perpustakaan desa, Disarpus mendorong pengembangan keterampilan berdasarkan potensi masing-masing wilayah. Daerah penghasil nanas, misalnya, dapat memanfaatkan bahan bacaan tentang pengolahan nanas, sedangkan wilayah yang memiliki potensi perikanan dapat mengembangkan keterampilan mengolah hasil perairan.
Program tersebut juga melibatkan kelompok perempuan dan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) desa. Kegiatan dapat mencakup pembelajaran resep, pengolahan bahan pangan, hingga pengemasan produk seperti aneka keripik.
Produk hasil pembelajaran tersebut direncanakan tampil dalam pameran TPBIS selama festival, berdampingan dengan bazar buku dan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pameran ini berpotensi menjadi sarana promosi bagi produk masyarakat desa agar dikenal lebih luas. Namun, jumlah UMKM dan kelompok TPBIS yang mengikuti festival tahun ini belum tercantum dalam laporan yang berhasil diverifikasi.
Pelayanan KTP Elektronik hingga Kesehatan Dasar
Festival Literasi Subang 2026 juga dirancang menghadirkan pelayanan publik melalui kolaborasi Disarpus dengan sejumlah instansi pemerintah.
Rosmayati menyebutkan bahwa Disdukcapil Kabupaten Subang direncanakan menyediakan pelayanan pembuatan KTP elektronik bagi siswa SMA yang telah berusia 17 tahun. Sementara itu, Dinas Kesehatan dijadwalkan menghadirkan pelayanan kesehatan dasar dan donor darah.
Selain layanan tersebut, festival juga direncanakan menghadirkan bazar pangan murah bagi masyarakat.
Konsep ini memperluas fungsi festival dari kegiatan edukasi menjadi ruang pertemuan masyarakat dengan layanan pemerintah. Meski demikian, rincian teknis, persyaratan, dan realisasi setiap layanan tetap perlu dikonfirmasi kepada instansi penyelenggara.
Gelar Wicara, Bedah Buku, dan Aktivitas Kreatif Anak
Berdasarkan jadwal yang dipublikasikan Pasundan Ekspres pada 26 Oktober 2026, hari pertama festival dijadwalkan menghadirkan gelar wicara bersama Meyda Sefira pada Selasa, 27 Oktober, pukul 10.00–12.00 WIB.
Hari kedua, Rabu, 28 Oktober, akan diisi bedah buku Kita Sudah Tidak Disana bersama Niska Alfina Saniya, yang dijadwalkan berlangsung pukul 09.30–11.30 WIB.
Pada hari terakhir, Kamis, 29 Oktober, agenda dirancang lebih interaktif melalui senam literasi, kegiatan mewarnai bersama, storytelling, pertunjukan musik, dan hiburan lainnya.
Pustakawan Disarpus Subang, Intan, menjelaskan bahwa kegiatan mewarnai dan storytelling bagi anak-anak usia TK, PAUD, hingga SD kelas rendah dikemas sebagai kegiatan rekreatif, bukan perlombaan berhadiah. Tujuannya adalah memberikan ruang ekspresi yang menyenangkan agar anak-anak dapat menikmati pengalaman berada di lingkungan perpustakaan.
Festival juga dijadwalkan menghadirkan bazar buku, bazar produk TPBIS, bazar UMKM, dan penampilan seni setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Selain itu, penyerahan penghargaan direncanakan bagi para pemenang berbagai perlombaan literasi tingkat kabupaten yang telah berlangsung sepanjang tahun.
Tantangan Meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat
Penyelenggaraan Festival Literasi Subang 2026 juga berkaitan dengan upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
Dalam laporan Pasundan Ekspres, Kabupaten Subang disebut menempati peringkat pertama Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) se-Jawa Barat pada 2025. Namun, laporan yang sama menyoroti pemerataan keberadaan perpustakaan di tingkat desa sebagai salah satu tantangan dalam pengembangan literasi daerah.
TKM dan IPLM merupakan dua indikator yang berbeda. TKM menggambarkan perilaku atau kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi, sedangkan IPLM mengukur upaya pembangunan literasi melalui pengembangan perpustakaan, termasuk aspek koleksi, tenaga, layanan, dan pengelolaan.
Karena itu, capaian kegemaran membaca perlu diiringi dengan akses perpustakaan yang memadai agar masyarakat di berbagai wilayah memiliki kesempatan yang lebih merata untuk mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dalam konteks tersebut, TPBIS menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas manfaat perpustakaan. Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk membaca, tetapi juga didorong menerapkan pengetahuan dalam kegiatan produktif.
Meski demikian, dampak festival terhadap peningkatan IPLM belum dapat dinilai hanya dari agenda yang direncanakan. Evaluasi membutuhkan data pelaksanaan, jangkauan program, dan hasil kegiatan yang dapat diukur.
Mendorong Literasi yang Berdampak bagi Masyarakat
Festival Literasi Subang 2026 menghadirkan pendekatan yang menghubungkan kegiatan membaca, pengembangan keterampilan, promosi produk lokal, dan akses pelayanan publik.
Keterlibatan berbagai kelompok masyarakat dalam kegiatan literasi diharapkan dapat memperluas fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar sekaligus ruang pemberdayaan.
Namun, keberlanjutan program tetap menjadi aspek penting. Pengembangan perpustakaan desa, pendampingan kelompok masyarakat, serta kesempatan memasarkan produk hasil pelatihan dapat membantu memastikan bahwa manfaat literasi tidak berhenti ketika festival berakhir.
Informasi mengenai jumlah peserta, target pengunjung, jumlah UMKM yang terlibat, dan indikator keberhasilan Festival Literasi Subang 2026 belum ditemukan dalam sumber yang berhasil diverifikasi.
Dengan demikian, data mengenai realisasi kegiatan dan dampaknya terhadap masyarakat masih perlu ditelusuri melalui keterangan resmi Disarpus Kabupaten Subang.
