FKIP Unsub Uji Bahan Ajar Digital CMI Berbasis Lectora

PASUNDANEKSPRES.ID - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang (Unsub) melalui Program Studi Pendidikan Matematika menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pengujian Validitas Isi Bahan Ajar Model Comprehensive Mathematics Instruction (CMI) berbasis Lectora, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Laska Hotel Subang tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan pembelajaran matematika yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
Kegiatan ini merupakan implementasi Hibah Penelitian dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Tahun 2026 melalui Skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR).
Penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan bahan ajar digital interaktif yang tidak hanya membantu pemahaman konsep matematika, tetapi juga meningkatkan kemampuan computational thinking (CT) peserta didik.
FGD tersebut melibatkan dua pakar, yakni Prof. Dr. Nurul Anriani, S.Si., M.Pd. dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten, serta Dr. Surya Amami Pramuditya, M.Si., MOS dari Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), Cirebon. Hadir pula Rektor Universitas Subang Dr. Drs. H. Komir Bastaman, S.H., M.Si., beserta jajaran.
Selain itu, kegiatan juga diikuti sekitar 30 guru matematika jenjang SMA/SMK/MA di Kabupaten Subang serta dosen pendidikan matematika. Ketua Tim Peneliti sekaligus Dosen Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Subang, Dr. Nita Delima, S.Si., M.Pd., mengatakan pengembangan bahan ajar tersebut dilatarbelakangi kebutuhan pendidikan di era transformasi digital.
Menurutnya, peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir abad ke-21, termasuk kemampuan menyelesaikan persoalan secara sistematis melalui proses dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, penyusunan algoritma, hingga debugging.
“Sebetulnya kegiatan FGD ini untuk menguji bahan ajar yang sudah kami kembangkan. Bahan ajarnya merupakan bahan ajar digital interaktif berbasis Lectora yang mengimplementasikan sintaks model CMI,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres saat diwawancarai di Aula Laska Hotel Subang.
Bahan ajar tersebut dirancang dengan tiga tahapan utama dalam model CMI, yakni Develop, Solidify, dan Practice. Ketiga tahapan tersebut disusun secara bertahap sehingga siswa tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan computational thinking dalam menyelesaikan berbagai persoalan matematika.
Nita menjelaskan, bahan ajar digital tersebut tidak dirancang agar digunakan siswa secara mandiri tanpa pendampingan. Guru tetap memiliki peran penting sebagai fasilitator dalam menjalankan siklus pembelajaran, mulai dari memberikan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, mengarahkan eksplorasi media interaktif, hingga memfasilitasi proses diskusi.
“Harapannya bahan ajar interaktif ini digunakan untuk membantu guru dalam pembelajaran di kelas. Jadi bukan berarti siswa menggunakan sendiri tanpa bantuan guru, tetap harus ada bantuan guru sebagai fasilitator,” jelasnya.
Dalam penggunaannya, siswa akan diperkenalkan dengan permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan konsep matematika. Selanjutnya, siswa mengeksplorasi media interaktif, menuliskan jawaban, memperoleh umpan balik dari aplikasi, kemudian mendiskusikan hasil eksplorasinya.
Pola tersebut diharapkan dapat menciptakan pembelajaran matematika yang lebih aktif, kontekstual, dan mendorong siswa berpikir secara sistematis. Nita menambahkan, hasil FGD akan menjadi bahan penting untuk menyempurnakan produk sebelum diterapkan lebih luas di sekolah.
Penilaian mencakup aspek materi, pedagogis, desain media, antarmuka aplikasi, pengalaman pengguna, hingga kesiapan implementasi di kelas. Ke depan, bahan ajar yang telah dikembangkan juga berpeluang memasuki tahap hilirisasi melalui kerja sama dengan mitra.
“Kalau mau dihilirisasi, berarti kami harus mencari mitra. Itu salah satu rencana ke depannya,” pungkasnya.
