Menguak Sejarah Ciater Subang, Ada Kisah Kemarau Panjang dan Pohon Ater

PASUNDANEKSPRES.ID - Sejarah Ciater Subang menyimpan cerita yang cukup panjang. Sebelum dikenal sebagai kawasan pekebunan dan tujuan wisata air panas, wilayah di selatan Kabupaten Subang ini diebut sebagai hutan belantara yang subur.
Perubahan dari kawasan permukiman, perkebunan, hingga tempat wisata membuat Ciater memiliki cerita yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Cerita asal-usul Ciater juga tidak hanya berkaitan dengan perkembangan wilayah.
Ada legenda masyarakat mengenai sosok Eyang Ebos, kisah musim kemarau panjang, hingga sumber air yang dikaitkan dengan pohon ater.
Sejarah Ciater Subang
Sejarah Ciater Subang dalam cerita masyarakat bermula ketika wilayah tersebut masih berupa hutan yang sangat lebat. Kesuburan tanah membuat kawasan ini dianggap cocok untuk dijadikan perkebunan.
Pada masa kolonial Belanda, muncul rencana membuka perkebunan karet dan teh. Membuka hutan pada masa itu tentu bukan pekerjaan mudah.
Selain kondisi alam yang masih liar, masyarakat setempat juga memiliki kepercayaan mengenai keberadaan makhluk gaib yang dianggap dapat mengganggu orang yang mencoba membuka kawasan tersebut.
Menurut cerita rakyat yang dihimpun dalam dokumen Sejarah Desa Ciater dan Sari Ater, sosok yang kemudian dikaitkan sebagai orang yang membuka kawasan tersebut adalah Embah Ebos atau Eyang Ebos.
Hutan yang sebelumnya lebat perlahan berubah menjadi kawasan permukiman. Kehadiran masyarakat kemudian membuat wilayah yang sekarang dikenal sebagai Desa Ciater mulai berkembang.
Cerita berlanjut ketika kawasan tersebut mengalami kemarau panjang. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, hujan tidak turun selama berbulan-bulan, bahkan ada versi yang menyebut kemarau berlangsung hingga delapan bulan.
Eyang Ebos bersama masyarakat kemudian berdoa memohon air. Tidak lama kemudian muncul sumber air yang dikaitkan dengan pohon bambu yang disebut pohon ater.
Ada pula versi cerita yang menyebut sosok Embah Tajimalela memotong pohon ater hingga kemudian air keluar dari bawah pohon tersebut. Air itu dipercaya tidak pernah benar-benar kering meskipun musim kemarau berlangsung panjang.
Dari cerita tersebut kemudian muncul penyebutan Ciater, yang berasal dari bahasa Sunda, yaitu cai yang berarti air dan ater yang berarti mengalir atau memancar. Secara harfiah, Ciater berarti “air yang memancar”, merujuk pada air yang konon muncul dari bawah pohon ater.
Kisah inilah yang membuat asal nama Ciater memiliki hubungan erat antara kondisi alam, sumber air, dan cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat.
Sejarah Perkembangan Air Panas Ciater
Sejarah Ciater Subang tidak berhenti pada cerita asal-usul nama desa. Sumber air panas yang ada di kawasan tersebut juga memiliki perjalanan panjang sebelum berkembang menjadi kawasan wisata seperti sekarang.
Pada awalnya, sumber air panas alam Ciater merupakan tempat pemandian yang biasa digunakan masyarakat dari Desa Ciater, Palasari, dan Nagrak.
Potensi air panas tersebut kemudian mulai dikenal lebih luas setelah seorang ahli berkebangsaan Belanda meneliti kandungan dan khasiat airnya. Sosok tersebut dikenal masyarakat sebagai Mr. Hack Bessel atau Tuan Bessel.
Menurut catatan sejarah setempat, Tuan Bessel bahkan membangun rumah tinggal di dekat sumber air panas Ciater untuk mendukung kegiatan penelitiannya.
Lokasinya diperkirakan berada di sekitar kawasan yang kini menjadi kantor Koperasi Karyawan PT Sari Ater.
Kabar mengenai khasiat air panas tersebut kemudian menyebar. Masyarakat dari berbagai daerah datang ke Ciater untuk mandi sekaligus memanfaatkan air panas tersebut sebagai bagian dari pengobatan tradisional.
Perkembangan itu sempat terhambat karena kondisi keamanan yang tidak stabil. Berbagai kekacauan dan peperangan membuat potensi sumber air panas Ciater tidak berkembang secara konsisten.
Mulai Dikembangkan sebagai Tempat Wisata
Pengembangan sumber air panas Ciater sebagai objek wisata mulai dilakukan secara lebih serius pada 1968.
Pemerintah Daerah Kabupaten Subang melalui Pekerjaan Umum Kabupaten bekerja sama dengan Dinas Pendapatan Daerah mulai menata kawasan tersebut secara bertahap.
Fasilitas awalnya masih sederhana. Saat itu dibangun satu kolam renang yang sekarang dikenal sebagai Kolam Mayangsari I atau kolam renang atas. Selain itu, terdapat kolam kecil yang kemudian dikenal sebagai Kolam Imas serta beberapa kamar mandi terbuka.
Pengelolaan awal tersebut dipimpin oleh Bapak Sahro dari Pekerjaan Umum Kabupaten sebagai manajer pertama. Jumlah karyawannya ketika itu sekitar 11 orang.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 1972. PPN Dwikora IV, yang kemudian dikenal sebagai PTP XIII Ciater, membangun fasilitas kamar mandi sekaligus pintu gerbang berbentuk joglo. Bangunan tersebut juga dilengkapi kamar dan loket penjualan tiket.
Dari fasilitas yang awalnya sederhana, kawasan air panas Ciater terus berkembang hingga dikenal luas sebagai salah satu tujuan wisata di Kabupaten Subang.
(pm)
