Mengulik Jejak Sejarah Perkeretaapian Subang: Revolusi Transportasi di Pamanoekan en Tjiasemlanden

PASUNDANEKSPRES.ID - Sejarah transportasi di Kabupaten Subang tidak terlepas dari kejayaan industri perkebunan pada masa kolonial.
Salah satu peninggalan yang paling berpengaruh adalah sistem perkeretaapian ringan yang dikenal dengan Decauville Spoor.
Ahli Sejarah Kabupaten Subang, Anggi Agustian Junaedi, M.Hum, menjelaskan bahwa populernya sistem perkeretaapian ringan pada pertengahan abad ke-19 mendorong wilayah Pamanoekan en Tjiasemlanden untuk menghadirkan sistem tersebut guna menunjang kepentingan pemerintah dan perusahaan perkebunan.
“Pamanoekan en Tjiasemlanden dalam catatan Bataviasch Handelsblad tercatat sebagai pembeli rel pada tahun 1881 dengan pesanan lebar sepur 0,60 meter sepanjang 12.000 meter (12 km), termasuk tiga unit lokomotif,” ujarnya dalam Seminar Kajian Transportasi pada Masa P&T Lands di Museum Subang kepada Pasundan Ekspres, Selasa (23/12/2025).
Berdasarkan catatan tersebut, Anggi menyebut hal ini mengonfirmasi bahwa sistem rel ringan telah beroperasi di wilayah Subang setidaknya sejak tahun 1886. Hal ini diperkuat dengan pemberitaan De Indische Courant yang menyebutkan bahwa Pamanoekan en Tjiasemlanden kembali memesan jaringan rel sepanjang 80 kilometer.
Anggi juga mengatakan sejarah mencatat adanya upaya perluasan jalur kereta api menuju Cirebon. Upaya ini ditandai dengan proposal pembangunan jalur kereta api ke arah Cirebon yang diajukan oleh Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij (BOS) setelah segmen jalur Jakarta–Karawang selesai dibangun.
Namun, proposal tersebut tidak disetujui berdasarkan keputusan tertanggal 11 Oktober 1883 Nomor 34 yang dikeluarkan oleh Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), selaku pihak yang akan menyuntikkan modal kepada BOS.
Keputusan tersebut kemudian tertuang dalam Undang-Undang tertanggal 14 Juni 1909 (Staatsblad Nomor 477), dan jalur tersebut mulai dioperasikan pada 3 Juni 1912.
Bahkan sebelum jalur utama rampung, dana telah dialokasikan untuk pembangunan jalur cabang Jatibarang–Indramayu sepanjang 19 kilometer yang selesai pada 15 September 1912.
Adapun jaringan stasiun dan halte yang tercatat antara lain Tanjungrasa, Pabuaran, Pringkasap, Pasirbungur, Cikaum, Gambarsari, Pegadenbaru, Cipleung, dan Cipunegara. (fsh/ded)
