Musim Kemarau, Tiga Wilayah di Subang Selatan Krisis Air Bersih

SUBANG – Sejumlah wilayah di Subang Selatan mengalami krisis air bersih pada musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang mencatat sedikitnya tiga wilayah terdampak, yakni Desa Palasari, Kecamatan Ciater; Desa Darmaga, Kecamatan Cisalak; dan Desa Cipancar, Kecamatan Serangpanjang.
Sekretaris BPBD Kabupaten Subang A. Sudrajat menyebut tiga wilayah tersebut mengalami krisis air bersih.
Pada Agustus 2026, BPBD Subang mencatat sejumlah desa mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang. Desa Palasari, Kecamatan Ciater, menjadi salah satu wilayah yang mendapat distribusi air bersih sebanyak 5.000 liter untuk sekitar 130 kepala keluarga.
SMP Negeri 1 Ciater juga mengalami krisis air bersih selama lebih dari satu bulan dan kemudian mendapat bantuan air bersih.
Di tengah kondisi tersebut, keberadaan perkebunan sawit dan tebu di kawasan Jalancagak-Kasomalang mendapat sorotan. Salah satu aktivis Gema menilai keberadaan sawit dan tebu perlu menjadi bagian dari pembahasan ketika pemerintah mengevaluasi penyebab krisis air di wilayah selatan Subang.
Menutur Gema, pandangan tersebut belum dapat menjadi kesimpulan mengenai penyebab krisis air. Sejumlah faktor lain juga berkaitan dengan ketersediaan air, seperti kemarau, perubahan tutupan lahan, kondisi tanah, debit mata air, pola penggunaan air, dan kondisi kawasan resapan.
Pada Juni 2026, aktivis lingkungan Kabupaten Subang juga menolak rencana alih fungsi lahan nanas menjadi pembibitan tebu di Kecamatan Jalancagak-Kasomalang. Salah satu kekhawatiran yang disampaikan berkaitan dengan fungsi resapan air di kawasan perbukitan Ciater.
Rencana tersebut disebut mencakup lahan sekitar 140 hektare. Sementara laporan lain menyebut areal yang dibuka untuk pembibitan tebu di Desa Sarireja berada di kisaran 160 hektare.
Persoalan ketersediaan air juga terjadi pada sistem pelayanan air bersih. Perumda Tirta Rangga Subang pada Mei 2026 mengakui adanya gangguan pasokan air kepada pelanggan di Jalancagak.
Gangguan tersebut antara lain berkaitan dengan penurunan debit sumber air baku Cipondoh dan Cileuleuy, kerusakan jaringan, serta persoalan pompa pembagi di Kasomalang.
Untuk penanganan kekeringan, Kementerian Pertanian pada Juli 2026 menyiagakan 16 unit pompa irigasi dan melakukan pengeboran sumur submersible di Subang.
Kementan menyebut fenomena El Nino mulai menguat pada pertengahan Juli 2026 dan meminta dilakukan mitigasi agar kekeringan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Di sisi lain, distribusi air bersih dilakukan sebagai penanganan terhadap warga dan fasilitas yang terdampak krisis air.(hdi/ysp)
