NasDem Desak Pemkab dan Pemprov Percepat Relokasi Pedagang di Subang, Kehilangan Sumber Penghasilan

SUBANG-Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Subang, Hafil Gaputra Sanjaya mengaku, mendapat banyak keluhan dari pedagang terdampak penertiban bangunan liar di jalur wisata Ciater Subang.
Mereka kehilangan sumber penghidupan karena kios atau tempat usaha yang selama ini menopang ekonomi keluarga sudah tidak ada lagi.
"Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sulit, penertiban ini tentu akan berdampak serius pada keluarga pedagang. Saya sudah mencatat semua keluhan warga dan akan segera menyampaikannya kepada pihak terkait," ujar Hafil saat dialog dengan pedagang saat meninjau kondisi pasca-penertiban bangunan liar di jalur wisata Ciater–Tangkuban Parahu, beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan, Fraksi NasDem DPRD Subang akan segera bersurat kepada para pemegang kebijakan publik di Kabupaten Subang untuk mendorong komunikasi dan koordinasi dengan Pemprov Jabar terkait percepatan pembangunan lokasi relokasi.
"Kami akan mendorong agar percepatan relokasi ini segera diwujudkan. Pedagang harus segera mendapat tempat usaha baru supaya tidak terlalu lama kehilangan mata pencaharian," tegasnya.
Lebih jauh, Hafil menekankan bahwa lokasi relokasi nantinya harus diprioritaskan bagi pedagang yang benar-benar terdampak penggusuran.
"Jangan sampai setelah lokasi baru dibangun, justru ditempati oleh pihak lain yang bukan korban penertiban. Prioritas utama adalah pedagang terdampak," tambahnya.
Menurutnya, penataan kawasan wisata Ciater hingga Tangkuban Parahu memang penting untuk mendukung pariwisata daerah. Namun, hal itu tidak boleh mengorbankan keberlangsungan hidup masyarakat.
"Penataan kawasan memang perlu, tetapi pemerintah juga harus hadir dengan solusi konkret. Jangan sampai penataan justru menimbulkan masalah sosial dan ekonomi baru," ungkapnya.
Hafil juga mengajak seluruh pihak terkait di Kabupaten Subang, baik eksekutif maupun legislatif, untuk aktif bersurat dan berkoordinasi dengan Pemprov Jabar maupun Gubernur Jawa Barat.
Tujuannya, agar solusi relokasi bisa segera terealisasi dan para pedagang terdampak tidak terlalu lama terkatung-katung tanpa sumber pendapatan.
Sementara itu, Aep, seorang mantan pedagang asal Desa Ciater yang turut hadir dalam kunjungan Hafil, mengungkapkan kesedihannya kios setelah miliknya dirobohkan. Ia mengatakan bahwa keluarganya kini kehilangan sumber pendapatan utama.
"Selama ini saya bisa menyekolahkan anak dan menghidupi keluarga dari hasil berdagang di jalur Ciater. Sekarang kios sudah tidak ada, kami bingung mau usaha apa lagi," ungkapnya.
Aep menambahkan pedagang sebenarnya tidak menolak mengatur kawasan wisata, asalkan pemerintah juga menyiapkan solusi yang adil.
Menurutnya, janji relokasi harus segera diwujudkan agar para pedagang bisa kembali beraktivitas.
"Kami berharap pemerintah benar-benar serius memikirkan nasib kami. Jangan hanya menertibkan, tapi juga memberi solusi," ujarnya dengan nada penuh harap.
Sebelumnya, Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Subang, Hafil Gaputra Sanjaya, turun langsung meninjau kondisi pasca-penertiban bangunan liar di jalur wisata Ciater–Tangkuban Parahu, Rabu (13/8/2025) minggu lalu.
Dalam kunjungan itu, Hafil didampingi Gafin Faturrahman. Mereka meninjau sejumlah titik lokasi bekas bangunan pedagang yang telah dirobohkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Penertiban dilakukan dalam rangka menata ulang jalur wisata sekaligus mengembalikan fungsi kawasan sesuai aturan.
Namun, langkah itu berdampak besar terhadap masyarakat setempat. Berdasarkan data Pemprov Jabar, total terdapat 978 bangunan yang ditertibkan.
Rinciannya, 233 bangunan berada di Desa Ciater, 202 di Desa Cisaat, 113 di Desa Palasari (ketiganya di Kecamatan Ciater), dan 430 bangunan di Kecamatan Jalancagak.(hdi/sep)
