Pemkab Gerak Cepat Tangani Kekeringan, BPBD Kirim Pompa 176 Liter per Detik Selamatkan 150 Hektare Sawah di Cipunagara

PASUNDANEKSPRES.ID - Pemerintah Kabupaten Subang bergerak cepat menangani dampak musim kemarau yang mulai mengancam sektor pertanian. Atas arahan langsung Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang menerjunkan pompa air berkapasitas 176 liter per detik untuk menyelamatkan sekitar 150 hektare lahan persawahan yang mengalami kekeringan di Kecamatan Cipunagara.
Lahan pertanian yang terdampak diketahui merupakan sawah yang telah memasuki fase bunting atau pembentukan bulir padi. Pada fase ini, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar proses pengisian bulir berjalan optimal. Kekurangan air berpotensi menyebabkan penurunan hasil panen bahkan puso apabila tidak segera ditangani.
Sekretaris BPBD Kabupaten Subang, Muhammad A. Sudrajat, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Bupati Subang yang meminta BPBD bergerak cepat membantu petani menghadapi ancaman kekeringan.
Kekeringan Melanda Sekitar 150 Hektare Sawah di Cipunagara
"Atas perintah Bupati Subang, BPBD langsung melakukan penanganan terhadap kekeringan yang melanda sekitar 150 hektare sawah di Kecamatan Cipunagara. Kami mengirimkan mesin pompa berkapasitas 176 liter per detik untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian yang saat ini memasuki usia bunting," ucapnya pada Senin (3/8/2026).
Menurut Sudrajat, penyelamatan lahan pertanian menjadi prioritas karena sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah. BPBD tidak hanya fokus pada penanganan bencana alam seperti banjir dan longsor, tetapi juga turut melakukan upaya mitigasi terhadap dampak kekeringan yang berpotensi mengganggu produksi pangan.
Ia menjelaskan, mesin pompa tersebut diharapkan mampu memasok kebutuhan air ke area persawahan yang selama beberapa waktu terakhir mengalami penurunan debit air akibat musim kemarau.
"Kami berharap suplai air ini dapat membantu petani mempertahankan kondisi tanaman sehingga produksi padi tetap optimal. Penanganan ini merupakan bentuk kolaborasi pemerintah dalam menjaga hasil pertanian masyarakat," katanya.
Musim kemarau yang mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Subang memang telah menyebabkan berkurangnya ketersediaan air irigasi di beberapa sentra pertanian. Kondisi tersebut membuat para petani harus berpacu dengan waktu agar tanaman padi tidak mengalami kekeringan, terutama pada fase-fase kritis pertumbuhan.
Karena itu, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Apabila ditemukan kondisi serupa di daerah lain, langkah penanganan akan segera dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Subang berharap upaya cepat tersebut mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus melindungi pendapatan petani di tengah musim kemarau. Selain penanganan darurat melalui pompa air, pemerintah juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga sumber daya air dan menggunakan air secara bijaksana agar kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.(hdi/ysp)
