Peninggalan Sejarah di Subang yang Wajib Diketahui

PASUNDANEKSPRES.ID - Peninggalan sejarah di Subang menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Wilayah yang dikenal dengan perkebunan teh, persawahan, dan wisata alamnya ini ternyata memiliki berbagai jejak sejarah yang berasal dari masa prasejarah hingga masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.
Berbagai peninggalan tersebut tidak hanya berupa bangunan tua, tetapi juga benda arkeologis, museum, situs, jembatan, hingga monumen yang menyimpan cerita mengenai perkembangan masyarakat Subang.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Subang, bukti kehidupan masyarakat pada masa prasejarah antara lain ditemukan dalam bentuk kapak batu di Bojongkeding, Pagaden, Kalijati, dan Dayeuhkolot.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah Subang telah dihuni oleh kelompok masyarakat yang menjalankan kehidupan pertanian sederhana sejak masa prasejarah.
Daftar Peninggalan Sejarah di Subang
1. Museum Rumah Sejarah Kalijati
Salah satu peninggalan sejarah di Subang yang paling terkenal adalah Museum Rumah Sejarah Kalijati. Museum ini berada di kawasan Lanud Suryadarma, Kecamatan Kalijati, dan memiliki hubungan erat dengan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Museum Rumah Sejarah Kalijati merupakan bekas rumah dinas yang digunakan sebagai tempat perundingan antara pihak Belanda dan Jepang pada 8 Maret 1942. Dalam perundingan tersebut, Belanda menyerahkan kekuasaan atas wilayah Hindia Belanda kepada Jepang.
Museum tersebut menyimpan sejumlah benda yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, antara lain meja dan kursi yang digunakan dalam perundingan, foto-foto sejarah, pedang, benda pecah-belah, radio kuno, serta berbagai dokumentasi mengenai kedatangan Jepang dan kondisi Pangkalan Udara Kalijati pada masa itu.
Keberadaan Museum Rumah Sejarah Kalijati menjadikannya salah satu tempat penting untuk mempelajari sejarah masa kolonial di Subang.
2. Pangkalan Udara Kalijati dan Lanud Suryadarma
Selain Museum Rumah Sejarah, kawasan Kalijati juga memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan penerbangan di Indonesia.
Pangkalan Udara Kalijati dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 30 Mei 1914. Pada perkembangannya, pangkalan tersebut juga digunakan sebagai tempat pendidikan penerbang oleh Belanda.
Setelah Indonesia memperoleh kedaulatan, pangkalan tersebut kemudian digunakan untuk mendukung pendidikan penerbang dan teknisi penerbangan Indonesia.
Pangkalan Udara Kalijati kemudian dikenal sebagai Lanud Suryadarma. Namanya diubah pada 7 September 2001 untuk mengenang Marsekal TNI (Purn.) Rd. Suryadi Suryadarma, tokoh penting dalam sejarah TNI Angkatan Udara.
Karena perjalanan sejarahnya yang panjang, kawasan ini tidak hanya memiliki nilai militer, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan penerbangan Indonesia.
3. Museum Amerta Dirgantara Mandala
Masih berada di kawasan Lanud Suryadarma, terdapat Museum Amerta Dirgantara Mandala atau yang sebelumnya dikenal sebagai Museum Hidup. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah penerbangan dan TNI Angkatan Udara.
Museum yang berada di Hanggar C tersebut menyimpan sejumlah pesawat lama, antara lain Grumman Goose, L-12 Lockheed, L-4J Piper Cub, Cessna 180, pesawat Gelatik, serta beberapa pesawat glider. Koleksi tersebut menjadi bagian dari sejarah perkembangan penerbangan di Indonesia.
Keberadaan museum ini menunjukkan bahwa peninggalan sejarah di Subang tidak hanya berkaitan dengan masa penjajahan, tetapi juga dengan sejarah perkembangan teknologi dan kedirgantaraan Indonesia.
4. Monumen Sejarah Tentara Jepang
Peninggalan sejarah lainnya di kawasan Kalijati adalah Monumen Sejarah Tentara Jepang. Monumen ini berkaitan dengan tentara Jepang yang meninggal dalam pertempuran melawan Belanda pada masa Perang Dunia II.
Monumen tersebut merupakan makam bersejarah tentara Jepang yang meninggal ketika terjadi perang melawan Belanda. Lokasinya berada di kawasan Lanud Suryadarma dan menjadi salah satu bagian dari objek pembelajaran sejarah di Kalijati.
Keberadaan monumen tersebut menjadi pengingat bahwa wilayah Subang pernah menjadi bagian dari rangkaian peristiwa besar yang terjadi di Indonesia pada masa Perang Dunia II.
5. Jembatan Lori di Desa Sidajaya
Tidak hanya bangunan museum dan monumen, peninggalan sejarah di Subang juga dapat ditemukan dalam bentuk infrastruktur lama. Salah satunya adalah Jembatan Lori yang berada di Desa Sidajaya.
Dikutip dari platform resmi pariwisata Kabupaten Subang, Jembatan Lori atau yang juga dikenal sebagai Jembatan Pelangi telah ditetapkan sebagai situs sejarah sejak 29 Desember 2021.
Jembatan sepanjang sekitar 100 meter tersebut merupakan peninggalan Belanda yang dahulu digunakan sebagai akses untuk mengangkut hasil bumi pada masa perusahaan perkebunan Pamanoekan & Tjiasem.
Jembatan tersebut menjadi bukti bahwa perkembangan perkebunan pada masa kolonial turut memengaruhi pembangunan infrastruktur di wilayah Subang.
Saat ini, Jembatan Lori menjadi salah satu bagian dari potensi wisata budaya di Desa Sidajaya. Keberadaannya juga memperlihatkan bagaimana peninggalan infrastruktur kolonial masih dapat ditemukan dan dikenalkan kepada masyarakat.
6. Temuan Kapak Batu dari Masa Prasejarah
Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah Subang sudah memiliki kehidupan masyarakat pada masa prasejarah. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai temuan arkeologis.
Berdasarkan sejarah yang dimuat di laman resmi Pemerintah Kabupaten Subang, kapak batu ditemukan di sejumlah wilayah, yaitu Bojongkeding di Kecamatan Binong, Pagaden, Kalijati, dan Dayeuhkolot di Sagalaherang. Temuan tersebut memiliki ciri kebudayaan Neolitikum.
Pemerintah Kabupaten Subang juga mencatat adanya perkembangan kebudayaan perunggu yang ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Sagalaherang.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa sejarah Subang memiliki akar yang sangat panjang dan tidak hanya dimulai pada masa kolonial.
7. Pecahan Keramik Cina di Patenggeng
Selain kapak batu, terdapat pula peninggalan berupa pecahan keramik yang ditemukan di kawasan Patenggeng, Kalijati.
Pecahan-pecahan keramik asal Cina yang ditemukan di Patenggeng menjadi salah satu bukti adanya hubungan atau kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. Pemerintah Kabupaten Subang menyebutkan bahwa kontak tersebut diperkirakan telah berlangsung antara abad ke-7 hingga abad ke-15.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa wilayah Subang pada masa lampau tidak terisolasi. Masyarakat di kawasan ini diperkirakan telah berhubungan dengan jaringan perdagangan yang lebih luas.
8. Museum Subang atau Wisma Karya
Peninggalan sejarah di Subang juga dapat dipelajari melalui Museum Subang yang berada di bangunan Wisma Karya.
Museum ini memiliki peran penting dalam memperkenalkan sejarah daerah kepada masyarakat. Museum Subang menyimpan berbagai koleksi yang mencerminkan perjalanan sejarah Kabupaten Subang, mulai dari masa prasejarah hingga masa modern.
Pada 2024, Pemerintah Kabupaten Subang bahkan meluncurkan Paket Wisata Sejarah yang menghubungkan sejumlah lokasi bersejarah, mulai dari Alun-Alun Subang, UPTD Ciheuleut, Radio Benteng Pancasila (Benpas), hingga Wisma Karya yang kini menjadi Museum Subang. Program tersebut ditujukan sebagai sarana edukasi sejarah, terutama bagi generasi muda.
Dengan adanya museum, masyarakat dapat mengenal berbagai benda dan informasi sejarah Subang dalam satu tempat.
9. Koleksi Golok Barlen
Museum Subang juga memiliki koleksi yang berkaitan dengan sejarah budaya masyarakat Subang, salah satunya adalah Golok Barlen.
Golok Barlen sepanjang 13 meter dibuat oleh masyarakat Cibereum, Tanjungsiang, dan diserahkan kepada Museum Subang pada November 2021. Pemerintah daerah menyebut koleksi tersebut sebagai salah satu benda yang menambah koleksi Museum Subang.
Keberadaan koleksi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai peninggalan sejarah tidak selalu terbatas pada bangunan kolonial atau situs arkeologi. Tradisi pembuatan benda budaya oleh masyarakat juga menjadi bagian dari kekayaan sejarah dan budaya daerah.
10. Radio Benteng Pancasila (Benpas) Subang
Radio Benteng Pancasila atau Benpas juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kabupaten Subang.
Radio Benpas termasuk dalam Paket Wisata Sejarah Kabupaten Subang bersama sejumlah lokasi lainnya. Pemerintah daerah menyebut Radio Benpas sebagai media massa yang memiliki sejarah dan pernah berperan dalam perjalanan perjuangan bangsa.
Keberadaan Radio Benpas memperlihatkan bahwa sejarah suatu daerah tidak hanya dapat ditemukan melalui benda atau bangunan tua. Media komunikasi yang pernah memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari warisan sejarah.
Peninggalan Sejarah di Subang sebagai Wisata Edukasi
Selain memiliki nilai sejarah, berbagai peninggalan tersebut juga berpotensi menjadi tujuan wisata edukasi. Masyarakat dapat mengunjungi museum, melihat benda-benda bersejarah, mengenal bangunan peninggalan kolonial, hingga mempelajari peristiwa penting yang pernah terjadi di Subang.
Pada Februari 2026, kawasan Lanud Suryadarma masih menjadi salah satu objek pembelajaran bagi pelajar dan masyarakat yang ingin mengenal sejarah kedirgantaraan dan sejarah Kalijati.
Museum Rumah Sejarah dan Museum Amerta Dirgantara Mandala disebut sebagai objek yang dapat memberikan pengetahuan mengenai sejarah tersebut.
Dengan demikian, wisata sejarah di Subang dapat menjadi sarana untuk berlibur sekaligus belajar. Generasi muda dapat mengenal sejarah daerahnya secara lebih dekat dan memahami bahwa berbagai tempat yang ada di sekitar mereka memiliki cerita yang penting.
