Peresmian Pabrik BYD di Subang Pekan Ini Batal Dihadiri Presiden Prabowo

PASUNDANEKSPRES.ID - Peresmian Pabrik BYD di Subang pekan ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis (3/9/2026). Nama Presiden Prabowo Subianto tercantum dalam undangan BYD Indonesia kepada media sebagai pihak yang akan meresmikan fasilitas manufaktur kendaraan listrrik tersebut.
"Menandai momentum tersebut, kami mengundang rekan media untuk menghadiri peresmian Pabrik BYD Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto,” tulis BYD Indonesia dalam undangan yang dikutip dari IDN Financial.
Agenda tersebut berlangsung saat Presiden Prabowo tengah menjalani kunjungan ke Rusia. Pada agenda kunjungan tersebut, Presiden juga dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Putin. Prabowo bersama rombongan terbatas bertolak dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Selasa (1/9/2026), pukul 23.20 WIB.
Presiden dijadwalkan menjadi tamu utama dalam Eastern Economic Forum atau EEF ke-11 di Vladivostok, Rusia, yang berlangsung pada 1 hingga 4 September 2026.
Pada 3 September, Prabowo juga dijadwalkan menjalani pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela agenda forum tersebut. Situasi tersebut membuat pelaksanaan peresmian Pabrik BYD di Subang tidak bisa dihadiri oleh Presiden Prabowo.
Peresmian Pabrik BYD di Subang Pekan Ini
Setelah sebelumnya ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2026, pabrik BYD di Subang kini dijadwalkan diresmikan di Subang Smartpolitan Industrial Park.
Fasilitas manufaktur kendaraan energi baru tersebut berdiri di atas lahan seluas 126 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp11,7 triliun. Kehadiran pabrik ini menjadi bagian dari strategi BYD untuk memperkuat ekosistem kendaraan energi baru sekaligus meningkatkan aktivitas manufaktur kendaraan di dalam negeri.
Sebagai bentuk kesiapan operasional, pabrik BYD di Subang telah mengantongi sejumlah sertifikasi penting, antara lain World Manufacturer Identifier (WMI) untuk Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK), Certificate of Standard, serta sertifikat Incompletely Knocked Down (IKD).
Meski demikian, hingga kini belum ada informasi mengenai model kendaraan yang akan diproduksi di pabrik tersebut. Sebelumnya, kendaraan BYD yang beredar di Indonesia masih banyak dipasok melalui impor utuh atau completely built-up (CBU).
Selain peresmian fasilitas produksi, rangkaian agenda BYD pada 3 September juga mencakup penyerahan kendaraan BYD ke-100.000 di Indonesia.
Pencapaian ini menjadi bagian dari perjalanan BYD di pasar otomotif nasional setelah memperkenalkan berbagai model kendaraan listrik, mulai dari Atto 1, M6 dan M6 DM, Dolphin, Atto 3, Seal, Sealion 7, hingga Denza D9.
Berikut data impor kendaraan BYD di Indonesia sejak 2024:
2024: 16.767 unit
- M6: 6.248 unit
- Dolphin: 1.195 unit
- Atto 3: 4.012 unit
- Seal: 5.312 unit
2025: 74.513 unit
- Seal: 650 unit
- Dolphin: 733 unit
- M6: 17.290 unit
- Atto 3: 2.100 unit
- Denza D9: 10.500 unit
- E6: 480 unit
- Atto 1: 30.060 unit
- Sealion 07: 12.700 unit
2026 (Januari-Juli): 3.518 unit
- Denza D9: 2.982 unit
- Atto 3: 536 unit
Kehadiran pabrik di Subang sekaligus menjadi langkah BYD untuk meningkatkan produksi lokal dan memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik.
(pm)
