Pesona Padi Hitam: Si ‘Beras Terlarang’ yang Kini Jadi Primadona Gaya Hidup Sehat

PASUNDANEKSPRES.ID - Pada awal Juni 2026 ini kami kelompok dari Mahasiswa Agroteknologi, Fakultas Agrobisnis dan Rekayasa Pertanian, Universitas Subang melakukan kunjungan lapangan langsung ke Desa Cibeusi, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, sekaligus melaksanakan tugas mata kuliah Pengantar Teknologi Pertanian (PTP) yang diberikan oleh Bapak Hamdan Drian Adiwijaya, S.Hut., MP. mengenai Padi Hitam. Kami melakukan wawancara dan observasi mendalam bersama tiga petani di Desa Cibeusi yaitu Bapak Mayub, Ibu Icih Nurlaila, dan Ibu Elis untuk mengulik lebih dalam bagaimana perjuangan para petani dalam membudidayakan komoditas mahal yang penuh tantangan ini.
Konon katanya di zaman Cina Kuno, ada satu jenis beras yang dijuluki "Forbidden Rice" atau Beras Terlarang karena saking mewah dan berkhasiatnya, ia hanya boleh dikonsumsi oleh keluarga raja dan kaum bangsawan. Beratus-ratus tahun berlalu, "Beras Terlarang" tersebut kini bertransformasi menjadi Padi Hitam, seiring berjalannya waktu komoditas premium ini yang sekarang mulai kembali naik daun karena tren gaya hidup sehat di masyarakat modern berkat kandungan antioksidannya yang selangit.
Perjalanan saya Damar Trisna Hakiki dan rekan-rekan saya Khairina Azkiya Sundus, Inayah Nurul Janah, Syifa Yurika, Ryihan Nurfahri, Aditya Fauzan Septiansyah, dan Rassya Maulana Syabandi ke Desa Cibeusi memperlihatkan potret desa wisata asri yang mayoritas penduduknya adalah petani. Dari hasil obrolan hangat kami dengan para petani, kami mengetahui meskipun harganya yang tinggi, terdapat produktivitas luar biasa yang dilakukan para petani hingga fase panen dalam budi daya Padi Hitam ini.
Proses panjang ini dimulai dari fase persemaian yang membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Langkah pertama diawali dengan menjemur gabah pilihan, yang kemudian dilanjutkan dengan proses perendaman menggunakan air hangat selama satu hari satu malam.
"Dalam proses perendaman ini, seleksi alam langsung terjadi. Gabah yang mengapung akan dibuang karena kualitasnya kurang baik, sedangkan gabah yang tenggelam akan dipertahankan," jelas narasumber kami.
Menariknya, gabah yang tenggelam tadi tidak langsung ditanam, melainkan harus melalui proses sterilisasi unik. Gabah tersebut direndam kembali menggunakan campuran air hangat dan garam selama 5 jam. Penggunaan garam ini bukan tanpa alasan; para narasumber menjelaskan bahwa garam berfungsi sebagai antiseptik alami agar gabah benar-benar bersih dan steril dari potensi penyakit.
Setelah fase perendaman selesai, gabah dimasukkan ke dalam karung untuk didiamkan (diperam) selama dua hari dua malam, lalu dibuka dan didiamkan selama satu malam. Sebelum benar-benar ditanam, gabah disebarkan terlebih dahulu selama dua hingga tiga malam sampai tunasnya siap untuk masuk ke fase penanaman.
Setelah bibit siap dan ditanam di hamparan sawah, proses perawatan pun dimulai. Demi menjaga kualitas Padi Hitam tetap premium dan sehat, para petani di Desa Cibeusi memilih jalur ramah lingkungan dengan rutin memberikan pupuk organik setiap dua minggu sekali.
Dari hasil obrolan kami, mengungkap bahwa ada dua versi masa panen Padi Hitam yang dibudidayakan di sini, yaitu versi 3 bulan dan versi 6 bulan. Perbedaan mendasar dari keduanya terletak pada intensitas perawatannya:
- Budi daya Padi Hitam 3 Bulan: Pengobatan menggunakan pestisida organik hanya dilakukan sekali, yaitu saat padi mulai berisi atau yang oleh warga lokal akrab disebut dengan istilah “reuneuh”. Setelah fase ini, petani tinggal menunggu sekitar 40 hari sampai masa panen tiba.
- Budi daya Padi Hitam 6 Bulan: Karena masa tanamnya dua kali lipat lebih lama, proteksinya pun harus lebih ekstra. Pada versi ini, petani melakukan pengobatan menggunakan pestisida organik secara berkala, yaitu sebulan sekali demi menjaga tanaman tetap aman dari hama selama proses pematangan yang panjang.
Satu hal yang menjadi catatan menarik dari kunjungan kami adalah sistem pengairan yang diterapkan dalam budi daya Padi Hitam. Hingga saat ini, sebagian besar petani di Desa Cibeusi masih sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama pengairan. Meskipun demikian, sebagian kecil petani telah memanfaatkan aliran sungai setempat untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor alam masih memegang peranan penting dalam keberhasilan budi daya Padi Hitam di daerah tersebut.
Meskipun Padi Hitam memiliki daya tarik yang tinggi dan pemasarannya cenderung tanpa kendala, proses untuk menghasilkan butiran premium ini rupanya bukanlah perkara mudah. Dari hasil kunjungan ini, kelompok kami mencatat bahwa tantangan terbesar para petani di Desa Cibeusi murni berada di dalam petak sawah itu sendiri, di antaranya:
- Ketelitian Ekstra di Fase Awal: Petani tidak bisa asal sebar benih. Proses seleksi ketat menggunakan air garam di awal persemaian menjadi penentu utama demi meminimalkan risiko penyakit sejak dini.
- Waktu dan Proteksi yang Panjang: Terutama untuk varietas yang menempuh masa tanam hingga 6 bulan. Semakin lama padi berada di sawah, semakin tinggi risiko serangan hama. Kondisi ini menuntut petani untuk secara konsisten melakukan pengobatan organik secara berkala, yaitu satu kali dalam sebulan.
- Proteksi Fisik Menjelang Panen: Tantangan tidak berhenti sampai padi menguning. Saat mendekati masa panen, sawah Padi Hitam ini harus ditutup bagian atasnya menggunakan jaring-jaring. Pemasangan jaring raksasa ini dilakukan demi melindungi bulir-bulir padi berharga dari serbuan hama yang bisa menggagalkan panen dalam sekejap.
- Faktor Alam (Pengairan): Ketergantungan sistem pengairan yang masih mengandalkan curah hujan dan aliran sungai lokal membuat para petani harus pintar membaca cuaca agar kebutuhan air padi tetap terpenuhi.
