Produksi Nanas Subang Melonjak 26,8 Persen, Aktivis Soroti Ancaman Alih Fungsi Lahan untuk Tebu

PASUNDANEKSPRES.ID – Produksi nanas Subang melonjak 26,8 persen sepanjang 2025 hingga menembus 2,13 juta kuintal. Di tengah capaian tersebut, muncul kekhawatiran dari kalangan aktivis terhadap pengembangan tanaman tebu yang dinilai berpotensi memicu alih fungsi lahan perkebunan nanas di wilayah Subang Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nanas Kabupaten Subang pada 2023 tercatat sebesar 1.674.136,22 kuintal. Angka tersebut meningkat menjadi 1.685.845,64 kuintal pada 2024 atau bertambah sekitar 11.709,42 kuintal.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada 2025. Produksi nanas mencapai 2.138.081,39 kuintal atau meningkat sekitar 452.235,75 kuintal dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan itu setara dengan pertumbuhan sekitar 26,8 persen dalam kurun waktu satu tahun.
Capaian tersebut semakin mengukuhkan Kabupaten Subang sebagai salah satu sentra produksi nanas terbesar di Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, komoditas unggulan tersebut juga menopang industri pengolahan, membuka lapangan kerja, hingga mendukung sektor pariwisata daerah.
Sentra Perkebunan Nanas Subang
Namun, di tengah tren positif itu, muncul sorotan terhadap rencana pengembangan tanaman tebu di sebagian wilayah Subang Selatan. Sejumlah pihak khawatir perluasan areal tebu akan mengurangi luas lahan produktif yang selama ini menjadi sentra perkebunan nanas Subang.
Aktivis muda Subang, Gema Fadhilah, menilai peningkatan produksi nanas seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan terhadap lahan perkebunan nanas, bukan justru membuka peluang terjadinya alih fungsi lahan.
"Produksi nanas saat ini sedang tinggi-tingginya. Justru di saat seperti ini muncul penanaman tebu. Ini menjadi pertanyaan besar karena komoditas nanas sudah terbukti memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian masyarakat," ujarnya kepada Pasundan Ekspres, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, tren kenaikan produksi menunjukkan komoditas nanas masih memiliki prospek yang sangat baik untuk terus dikembangkan. Karena itu, kebijakan pembangunan sektor perkebunan dinilai harus berpihak pada komoditas yang telah menjadi identitas Kabupaten Subang.
"Kalau produksinya terus meningkat, artinya potensi nanas masih sangat besar. Jangan sampai lahan produktif yang selama ini menghasilkan nanas justru beralih fungsi menjadi tanaman lain," katanya.
Gema mengingatkan, sejumlah petani di kawasan Subang Selatan menggantungkan mata pencaharian dari budidaya nanas. Oleh sebab itu, setiap kebijakan terkait pemanfaatan lahan harus mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
"Kita harus menjaga keseimbangan antara investasi dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Jangan sampai petani yang selama ini menghidupi keluarganya dari nanas justru kehilangan ruang produksi akibat alih fungsi lahan," pungkasnya.(hdi/ysp)
