Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Sanggar Weningrum: Menari dari Hati, Melestarikan Budaya, dan Membentuk Karakter Anak Subang

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|09:30 WIB
Bagikan:
Sanggar Weningrum: Menari dari Hati, Melestarikan Budaya, dan Membentuk Karakter Anak Subang
Foto bersama Sanggar Weningrum saat mengikuti event di Solo. HADI MARTADINATA/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG– Di tengah arus modernisasi dan dominasi budaya populer yang semakin mendesak tradisi lokal ke pinggiran, hadir sebuah sanggar seni tari di Kabupaten Subang yang berjuang melestarikan seni dan budaya nusantara sekaligus menjadi ruang tumbuh dan ekspresi anak-anak.

Sanggar ini bernama Sanggar Weningrum, yang berdiri sejak tahun 2022 dan berpusat di Kecamatan Kasomalang, Subang.

Dibentuk oleh pasangan suami istri, Aji Tri Rahman dan istrinya, Sanggar Weningrum menjadi bukti nyata cinta terhadap budaya, jika dipadukan dengan ketulusan dan konsistensi, bisa menjadi kekuatan besar yang menyentuh banyak kehidupan.

Aji Tri Rahman telah berkecimpung di dunia seni di Kasomalang selama hampir satu dekade sebelum akhirnya mendirikan sanggar ini.

Ia banyak terlibat dalam kegiatan seni sekolah, dari jenjang SD hingga SMP, serta berbagai event seperti Festival Seni, MPLS2N, dan perlombaan tingkat kabupaten.

Kepercayaan dari masyarakat dan pihak sekolah yang terus mengalir menjadi bahan bakar semangatnya untuk membuat wadah seni yang lebih terstruktur.

“Sebelum buka sanggar, saya banyak riset, tanya-tanya ke masyarakat. Gimana sih sebenarnya tanggapan mereka tentang seni? Alhamdulillah ternyata responsnya positif, dan itu jadi modal saya untuk membentuk Sanggar Weningrum,” ujar Aji.

Nama Weningrum sendiri berarti "bersih jiwa", sebuah filosofi yang mencerminkan niat tulus pendirinya.

Sanggar ini didirikan tanpa muatan kepentingan pribadi, hanya keinginan kuat untuk berkarya dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya melalui gerakan dan irama.

Uniknya, sejak awal didirikan, Aji tidak pernah melakukan promosi komersial. Ia percaya bahwa seni akan menemukan penikmatnya sendiri.

Ia lebih memilih pendekatan mulut ke mulut, dari orang tua ke orang tua. Metode ini terbukti efektif.

“Awalnya hanya dua orang, lalu jadi empat, terus berkembang hingga sekarang sudah ada sekitar 60 peserta yang datang dari berbagai penjuru desa di Kecamatan Kasomalang. Setiap latihan bisa hadir sekitar 40 sampai 50 anak,” ungkapnya.

Latihan diadakan tiga kali seminggu, yaitu hari Rabu, Jumat sore, dan hari Minggu.

Mayoritas anggota sanggar adalah anak-anak tingkat SD, bahkan ada juga yang berasal dari PAUD. Dengan kedisiplinan dan suasana yang menyenangkan, latihan tari menjadi kegiatan favorit anak-anak di waktu luang mereka.

Aji menekankan tujuan utama pendirian sanggar ini adalah menyediakan ruang positif, khususnya bagi anak-anak dan perempuan, agar memiliki kegiatan yang bermanfaat saat hari libur.

“Daripada main HP terus di rumah atau main di luar tanpa arah, mending mereka berkegiatan di sanggar. Di sini mereka bisa belajar kerja sama, menambah teman, berbagi cerita, dan tentu saja, melatih fisik dan otak mereka,” kata Aji.

Menurutnya, seni tari bukan hanya sekadar estetika, melainkan juga alat pendidikan karakter.

Tari melatih daya ingat anak karena harus menghafal gerakan, melatih kesabaran karena harus menjalani proses latihan, dan menjadi sarana pelampiasan emosi secara positif.

“Sekarang banyak anak-anak yang mengalami tantrum. Nah, seni tari itu bisa membantu mengelola emosi itu. Gerakan dalam tari bisa jadi terapi tersendiri,” tambahnya.

Aji menyadari bahwa setiap orang tua memiliki cita-cita besar bagi anak-anaknya, entah menjadi dokter, guru, atau polisi.

Tapi bagi Aji, seni tari juga mampu membentuk pribadi yang kuat dan percaya diri.

“Di sini kita mendidik anak-anak agar percaya diri, sehat, bisa bergaul dengan teman sebaya. Bahkan bagi yang ingin fokus di dunia seni, sanggar ini siap jadi batu loncatan,” ucapnya.

Sanggar Weningrum secara sistematis mengajarkan dasar-dasar seni tari Sunda, seperti gerakan ukel, cecer, serta nilai-nilai dalam tari seperti wirasa (perasaan), wiraga (gerakan tubuh), dan wirama (irama).

Tagline Sanggar Weningrum adalah “Budaya Lestari, Sehat Jasmani”. Kalimat sederhana ini merangkum tujuan besar sanggar: menjaga warisan budaya sekaligus membentuk jasmani dan rohani anak yang sehat.

Meski telah menunjukkan banyak dampak positif, Aji mengakui tidak mudah menjalankan sanggar ini. Di tengah banyaknya pondok pesantren di Kasomalang, seni tari kerap kali disalahpahami.

“Gerakan dalam tari itu ada maknanya. Misalnya gerakan tangan menutup muka itu bukan kesenonohan, tapi simbol seseorang sedang bercermin. Itu tinggal bagaimana sudut pandang orang saja,” jelasnya.

"Kita harus tau bahwa seni tari itu salah satu warisan budaya negara kita, dan negara Indonesia tau betul itu, makanya di balik mata uang Indonesia ada nya gambar seni tari, untuk bisa saling menghargai," Tambahnya. 

Tantangan lainnya adalah biaya. Setiap kali sanggar mengikuti event atau lomba tari, selalu ada kebutuhan akan kostum, transportasi, dan logistik lainnya.

Sanggar Weningrum biasanya mengikuti event tari sebulan sekali, baik di dalam maupun luar Kabupaten Subang.

“Jujur saja, kita selalu iuran bareng orang tua. Bahkan saya sebagai pendiri pun ikut patungan. Tapi demi anak-anak bisa tampil, itu semua saya jalani dengan ikhlas,” ujar Aji.

Menurutnya, seni itu mahal bukan karena uang, tetapi karena prosesnya yang panjang dan penuh perjuangan.

“Tampil di atas panggung paling lima menit, tapi prosesnya bisa berbulan-bulan. Itu yang mahal,” katanya.

Yang paling membanggakan bagi Aji bukan sekadar melihat anak didiknya menjuarai lomba, tapi ketika mereka berani tampil di depan umum. Kepercayaan diri yang tumbuh itu adalah pencapaian terbesar.

“Juara itu bonus. Tapi ketika anak bisa tampil di panggung dengan percaya diri, itu yang saya banggakan. Proses membentuk mental itu tidak mudah, dan saya bersyukur bisa mendampingi mereka,” ungkapnya.

Prestasi anak-anak Sanggar Weningrum tidak bisa dianggap remeh. Mereka sudah menorehkan berbagai pencapaian, dari tingkat kecamatan hingga provinsi.

Salah satu tonggak penting adalah ketika mereka dipercaya tampil di ajang World Dance Day 24 Jam Menari 2025 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, pada 29–30 April lalu.

Ajang tahunan ini merupakan perayaan internasional Hari Tari Dunia yang diikuti ratusan sanggar dari berbagai daerah dan negara.

Dengan tema Lands of Thousands Kingdom, Sanggar Weningrum mengangkat seni tari tradisional sebagai bentuk eksistensi budaya Sunda di panggung nasional.

Meski penuh tantangan, Aji tetap optimistis menatap masa depan. Ia berharap Sanggar Weningrum terus berkembang dan bisa menjangkau lebih banyak anak-anak, tak hanya di Kasomalang, tetapi juga wilayah lain di Subang. 

“Kalau bukan kita yang jaga budaya kita, siapa lagi? Jangan sampai anak-anak kita cuma kenal budaya luar tapi lupa pada seni tari atau budaya kita sendiri,” pungkas Aji.(hdi) 

Berita Terbaru

Analisa BMKG Munculnya Daratan Baru di Dekat Gunung Anak Krakatau

Analisa BMKG Munculnya Daratan Baru di Dekat Gunung Anak Krakatau

Nasional20 menit lalu
Rumah Ludes Dilalap Si Jago Merah, BAZNAS Subang Salurkan Bantuan untuk Keluarga Sudia

Rumah Ludes Dilalap Si Jago Merah, BAZNAS Subang Salurkan Bantuan untuk Keluarga Sudia

Headline59 menit lalu
10 Tempat Makan untuk Keluarga di Subang yang Nyaman dan Enak

10 Tempat Makan untuk Keluarga di Subang yang Nyaman dan Enak

Lifestyle1 jam lalu
Lapas Subang Buka Akses Pendidikan Paket A, B, dan C bagi Warga Binaan

Lapas Subang Buka Akses Pendidikan Paket A, B, dan C bagi Warga Binaan

Headline1 jam lalu
ADVERTISEMENT
Subang Masuk 4 Besar Daerah dengan Tambang Ilegal Terbanyak di Jabar, Ini Jumlahnya

Subang Masuk 4 Besar Daerah dengan Tambang Ilegal Terbanyak di Jabar, Ini Jumlahnya

Subang4 jam lalu
Uu Soroti Penurunan Perolehan Suara PPP di Subang, Minta Kader Menangkan Lima Kursi DPRD

Uu Soroti Penurunan Perolehan Suara PPP di Subang, Minta Kader Menangkan Lima Kursi DPRD

Headline4 jam lalu
Rekomendasi Villa untuk Gathering di Subang yang Pas Buat Acara Rame-rame

Rekomendasi Villa untuk Gathering di Subang yang Pas Buat Acara Rame-rame

Lifestyle5 jam lalu
Apa Itu Eskul Korp Kadet di SMA? Ini Penjelasan Lengkap dan Aturan Terbarunya

Apa Itu Eskul Korp Kadet di SMA? Ini Penjelasan Lengkap dan Aturan Terbarunya

Nasional6 jam lalu
Bagaimana Cara Melamar Di Kawasan Industri Subang Terbaru 2026, Lengkap dengan Jalur Resmi

Bagaimana Cara Melamar Di Kawasan Industri Subang Terbaru 2026, Lengkap dengan Jalur Resmi

Subang7 jam lalu
Belum Dieksekusi, Silfester Matutina Malah Sempat Jadi Komisaris BUMN, Cuma 5 Hari Menjabat

Belum Dieksekusi, Silfester Matutina Malah Sempat Jadi Komisaris BUMN, Cuma 5 Hari Menjabat

Nasional8 jam lalu