Tak Sampai Rp2 Miliar, WTP Cijambe Mampu Olah Air dengan Tingkat Kekeruhan Tinggi

PASUNDANEKSPRES -
Direktur Utama Perumda Tirta Rangga (PDAM) Subang, Lukman Nurhakim, mengungkapkan inovasi signifikan dalam pembangunan Water Treatment Plant (WTP) Cijambe yang diklaim mampu mengolah air baku dengan tingkat kekeruhan tinggi, meski dibangun dengan anggaran jauh lebih efisien dari standar umum.
Menurut Lukman, pembangunan WTP Cijambe telah rampung pada akhir 2025 dan saat ini masih dalam tahap uji coba operasional untuk memastikan kualitas serta stabilitas hasil olahan air.
“Alhamdulillah, pada akhir 2025 kami telah menyelesaikan pembangunan WTP Cijambe. Ini merupakan hasil modifikasi kami bersama para ahli, dengan kapasitas maksimum mencapai 140 liter per detik. Saat ini kami masih melakukan uji coba pada kisaran 80 hingga 120 liter per detik,” ujarnya.
Dalam pengujian sementara, kata Lukman, WTP tersebut menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Untuk air dengan tingkat kekeruhan sekitar 30 NTU, hasil olahan mampu ditekan hingga 2 sampai 5 NTU.
Sementara itu, pada kondisi kekeruhan tinggi mencapai 100 NTU, air masih dapat diolah hingga berada di kisaran 8 hingga 10 NTU.
Meski demikian, Lukman mengakui bahwa sistem tersebut masih dalam tahap penyempurnaan, terutama dalam menentukan dosis bahan kimia yang optimal serta peningkatan proses filtrasi dan aerasi.
“Kekeruhan air baku ini fluktuatif, sehingga kami masih terus mencari formulasi terbaik agar hasilnya lebih konsisten. Saat ini fokus kami pada penyempurnaan proses aerasi dan filtrasi,” kata Lukman kepada Pasundan Ekspres.
Ia menyebutkan, salah satu keunggulan utama WTP Cijambe terletak pada efisiensi biaya pembangunannya.
Jika mengacu pada desain ideal, pembangunan instalasi serupa dapat menelan anggaran hingga Rp14–15 miliar. Namun, melalui berbagai inovasi dan modifikasi, proyek ini berhasil direalisasikan dengan biaya sekitar Rp1,2 miliar.
“Dengan keterbatasan anggaran, kami berupaya mencari solusi terbaik. Alhamdulillah, dengan biaya yang jauh lebih rendah, WTP ini tetap dapat berfungsi dengan baik. Jika uji coba ini berhasil optimal, ini bisa menjadi temuan baru dalam teknologi pengolahan air,” ungkapnya.
WTP Cijambe dirancang untuk melayani kebutuhan air bersih di tiga wilayah, yakni Kecamatan Cijambe, Subang Kota, dan Cibogo. Sekitar 80 persen kapasitas dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sisanya digunakan untuk sektor industri.
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa perbedaan utama WTP ini dibandingkan instalasi pada umumnya terletak pada penyesuaian desain di setiap tahapan pengolahan, mulai dari koagulasi, flokulasi, sedimentasi, hingga filtrasi.
“Secara standar, setiap kompartemen memiliki desain baku. Namun, karena keterbatasan anggaran, ada beberapa penyesuaian yang kami lakukan. Kekurangan tersebut kami tutupi dengan modifikasi agar hasilnya tetap optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, inovasi ini juga mulai menarik perhatian sejumlah perusahaan daerah air minum lainnya. Dalam forum Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), belum ditemukan konsep serupa, khususnya di wilayah Jawa Barat.
“Teman-teman PDAM lain sangat menunggu hasil akhir dari uji coba ini. Jika berhasil, mereka siap datang ke Subang untuk melakukan studi banding,” tutupnya. (cdp/ded)
