Anak Harus Tempuh Jalan Terjal 2,5 Kilometer ke Sekolah dari Gunung Solok Pandan, Pemkab Bandung Barat Siapkan Solusi untuk 3 Keluarga

BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menyiapkan solusi bagi tiga keluarga di kawasan Gunung Solok Pandan, Kampung Cijanten RW 10, Desa Batulayang, Kecamatan Cililin. Anak-anak dari keluarga tersebut harus menempuh perjalanan sekitar 2,5 kilometer melalui medan terjal untuk bersekolah.
Tiga keluarga tersebut berjumlah 16 orang. Mereka tinggal di kawasan yang cukup sulit diakses karena harus berjalan kaki dari jalan raya melewati jalan setapak dengan kondisi terjal dan licin.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak yang setiap hari harus turun dan naik gunung untuk bersekolah.
Melihat kondisi itu, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menawarkan bantuan biaya sewa rumah selama dua tahun bagi keluarga yang memiliki anak sekolah.
Dengan skema tersebut, keluarga yang bersedia dapat tinggal di lokasi yang lebih dekat dengan sekolah. Sementara itu, orang tua tetap dapat menjalankan aktivitas bertani dan berkebun di kawasan Gunung Solok Pandan.
“Setelah saya lihat langsung kondisi di sana, terutama anak-anak yang setiap hari harus turun naik untuk sekolah, saya menawarkan untuk sementara tinggal di bawah,” kata Jeje di Ngamprah, Senin (5/10/2026).
Menurut Jeje, solusi tersebut diharapkan dapat mengurangi beban anak-anak sekaligus memberikan akses pendidikan yang lebih aman dan mudah.
Di sisi lain, orang tua tetap dapat mengelola lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghasilan keluarga.
“Kebunnya tetap bisa dikerjakan. Orang tua tetap bisa naik ke sini untuk bertani, tetapi anak-anak bisa tinggal lebih dekat dengan sekolah,” ujarnya.
Namun, dua keluarga lainnya memilih tetap tinggal di kawasan Gunung Solok Pandan karena sumber mata pencaharian mereka berada di sekitar kebun.
Jeje mengatakan, Pemkab Bandung Barat akan mengecek kondisi rumah kedua keluarga tersebut untuk menentukan kebutuhan perbaikan.
“Kalau memang memilih tetap tinggal di sini karena sumber penghidupannya ada di sini, kita cari solusi agar mereka tetap bisa tinggal dengan kondisi yang lebih layak. Kita lihat apa yang perlu diperbaiki dari rumahnya dan kita usulkan bantuannya,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah desa juga sempat menawarkan agar ketiga keluarga tersebut pindah ke lokasi yang lebih mudah diakses. Namun, warga memilih bertahan karena aktivitas bertani dan berkebun merupakan sumber penghasilan utama mereka.
Selain persoalan akses pendidikan dan hunian, Jeje meminta jajarannya segera menindaklanjuti administrasi serta pemutakhiran data sosial ketiga keluarga tersebut.
Ketiga keluarga tersebut diketahui pernah menerima sejumlah bantuan pemerintah. Namun, mereka belum masuk dalam bantuan sosial reguler seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Kondisi itu berkaitan dengan persoalan pemutakhiran data dan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Jadi kita jangan cuma perbaikan pendataan. Kita pastikan prosesnya berjalan sampai ada kejelasan,” pungkasnya.
