Darurat Kekeringan! 1.800 Hektare Lahan Sawah di Subang Terancam Gagal Panen

SUBANG – Musim kemarau mulai menguji ketahanan sektor pertanian Kabupaten Subang. Keterbatasan pasokan air telah melanda sejumlah kawasan pertanian di wilayah utara, dengan sekitar 1.800 hektare lahan sawah di Subang tercatat mengalami kekurangan suplai air.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena wilayah Pantura merupakan salah satu sentra pertanian Subang. Pemerintah daerah kini berpacu menjaga tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air agar produktivitas pertanian tidak terganggu dan kebutuhan pangan tetap terjaga.
Langkah cepat dilakukan dengan mengerahkan mesin pompa air ke sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan air. Pada saat bersamaan, Pemerintah Kabupaten Subang menyiapkan solusi jangka panjang berupa pembangunan embung dan perbaikan jaringan pengairan.
Bupati Subang Reynaldy Putra mengatakan pemerintah daerah telah menginventarisasi kawasan pertanian yang mengalami kekurangan pasokan air, terutama di wilayah Pantura.
“Ada sekitar 1.800-an hektare yang kekurangan suplai air, makanya kita bantu mesin pompa ini,” ujar Reynaldy.
Bantuan pompa air menjadi salah satu langkah mitigasi untuk menjaga lahan pertanian tetap mendapatkan suplai air selama musim kemarau. Salah satu bantuan tersebut diserahkan kepada Pemerintah Desa Kihiyang, Kecamatan Binong.
Selain pompa, Pemkab Subang juga menyalurkan bantuan dari Kementerian Pertanian untuk pemeliharaan jaringan irigasi tersier kepada tiga kelompok tani. Bantuan tersebut diberikan kepada Kelompok Tani Layungsari Desa Citrajaya, Kelompok Tani Sukardi Desa Kediri, dan Gapoktan Harapan Tani Jaya Desa Binong.
Menurut Reynaldy, penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan langkah darurat. Pemerintah daerah juga menyiapkan penguatan infrastruktur sumber air agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Pemkab Subang berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian terkait rencana pembangunan embung di kawasan pertanian wilayah utara. Dalam materi pemerintah daerah, pembangunan tiga embung disebut tengah disiapkan untuk memperkuat ketersediaan air bagi lahan pertanian.
“Salah satunya ini, kita memberikan bantuan pompa, dan kita dalam waktu dekat, insyaallah akan ada bantuan juga dari Kementerian untuk pembuatan embung,” kata Reynaldy.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan produksi padi Kabupaten Subang tetap terjaga. Pemerintah daerah menilai keberlangsungan produksi padi penting bukan hanya bagi petani, tetapi juga dalam menopang kebutuhan beras nasional.
“Untuk kebutuhan padi di Kabupaten Subang tetap terjaga, untuk menyuplai kebutuhan nasional,” ungkapnya.
Pemerintah daerah menyatakan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif agar kondisi tersebut tidak sampai mengganggu produktivitas padi.
Bantuan alat dan mesin pertanian berupa pompa air menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mengatasi persoalan tersebut. Sementara pembangunan embung diarahkan sebagai solusi untuk memperkuat ketahanan air dalam jangka panjang.
Di sisi lain, wilayah selatan Subang masih relatif aman. Reynaldy menyebut pasokan air di kawasan tersebut masih mencukupi sehingga belum mengganggu produksi padi.
“Kalau Subang selatan masih aman ya, karena suplai air masih cukup,” katanya.
Petani Berpacu dengan Waktu
Ancaman kekeringan semakin serius ketika tanaman padi memasuki fase pertumbuhan yang membutuhkan pasokan air cukup. Kondisi itu terlihat di Kecamatan Cipunagara.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang menerjunkan mesin pompa air berkapasitas 176 liter per detik untuk membantu menyelamatkan sekitar 150 hektare lahan persawahan di wilayah tersebut.
Lahan yang terdampak telah memasuki fase bunting atau pembentukan bulir padi. Pada fase tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar proses pengisian bulir berjalan optimal.
Sekretaris BPBD Kabupaten Subang Muhammad A. Sudrajat mengatakan pengerahan pompa merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Subang agar penanganan kekeringan dilakukan secara cepat.
“Atas perintah Bupati Subang, BPBD langsung melakukan penanganan terhadap kekeringan yang melanda sekitar 150 hektare sawah di Kecamatan Cipunagara. Kami mengirimkan mesin pompa berkapasitas 176 liter per detik untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian yang saat ini memasuki usia bunting,” ucapnya.
Menurut Sudrajat, kekurangan air pada fase tersebut berpotensi menyebabkan penurunan hasil panen bahkan puso apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, BPBD tidak hanya melakukan penanganan terhadap kondisi yang sudah terjadi, tetapi juga terus memantau wilayah lain yang berpotensi mengalami kekeringan.
“Penanganan ini merupakan bentuk kolaborasi pemerintah dalam menjaga hasil pertanian masyarakat,” katanya.
Mesin pompa diharapkan mampu memasok kebutuhan air ke lahan persawahan yang mengalami penurunan debit air akibat musim kemarau. Apabila ditemukan kondisi serupa di wilayah lain, penanganan akan dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.
-
DPRD Soroti Ancaman Air Bersih
Kekeringan juga mulai menjadi persoalan bagi masyarakat di luar sektor pertanian. Anggota DPRD Kabupaten Subang dari Daerah Pemilihan (Dapil) V, Albert Anggara Putra, menyebut menerima laporan mengenai sumur warga yang mulai mengering di sejumlah wilayah Pantura.
Menurut Albert, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya menyangkut keberlangsungan produksi padi, tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat.
“Wilayah Pantura merupakan salah satu sentra pertanian di Kabupaten Subang. Saat ini para petani mulai mengeluhkan lahan yang kekurangan air. Ini harus segera menjadi perhatian pemerintah,” kata Albert.
Ia menyebut beberapa daerah mulai mengalami keterbatasan air bersih karena sumur warga tidak lagi mengeluarkan air seperti biasanya.
“Keluhan warga juga mulai bermunculan. Ada beberapa daerah yang sumurnya sudah tidak mengeluarkan air. Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” ungkapnya.
Albert meminta pemerintah daerah tidak hanya fokus menyelamatkan lahan pertanian, tetapi juga memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi.
Menurutnya, distribusi air untuk lahan pertanian perlu dioptimalkan melalui koordinasi dengan instansi terkait. Sementara bagi masyarakat yang terdampak kekurangan air bersih, pemerintah perlu menyiapkan distribusi bantuan air.
Tidak Cukup dengan Pompa
Albert menilai penanganan kekeringan harus dilakukan secara terpadu. Pompa air memang dibutuhkan sebagai solusi cepat, tetapi pemerintah juga harus memperkuat infrastruktur pengairan agar persoalan kekurangan air tidak terus berulang.
“Selain solusi jangka pendek, pemerintah juga perlu menyiapkan langkah jangka panjang, seperti perbaikan jaringan irigasi, pembangunan embung, hingga penguatan sistem pengelolaan sumber daya air sebagai upaya menghadapi musim kemarau setiap tahunnya,” jelasnya.
Ia berharap seluruh organisasi perangkat daerah terkait bergerak bersama menangani dampak kekeringan.
“Harapan kami, pemerintah hadir memberikan solusi nyata bagi petani maupun masyarakat yang kesulitan air bersih. Jangan sampai kekeringan ini berdampak lebih besar terhadap produksi pertanian maupun kehidupan warga di Pantura,” pungkasnya.(cdp/sep/hdi/ysp)
