DP2KBP3A Subang Kejar Target KB Pria

SUBANG-Program keluarga berencana (KB) bagi pria di Kabupaten Subang masih menghadapi tantangan dalam menjaring peserta. Meski sosialisasi terus dilakukan, partisipasi kaum pria dalam program metode operasi pria (MOP) atau vasektomi menjadi salah satu pekerjaan rumah Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Subang.
Kepala Bidang KB DP2KBP3A Kabupaten Subang, dr. Nadiyah Tariq Basharahil, MARS, mengatakan target program MOP pada 2026 ditetapkan sebanyak 30 peserta. Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa putaran untuk menjaring peserta yang memenuhi persyaratan.
Pada putaran pertama yang dilaksanakan sekitar April atau Mei 2026, jumlah peserta yang hadir untuk menjalani tindakan disebut sebanyak sembilan orang. Sementara itu, pada putaran berikutnya, terdapat 16 calon peserta yang telah terdata untuk mengikuti pelayanan di Klinik Pratama Kodim 0605/Subang.
“Target Subang untuk tahun ini adalah 30 orang. Putaran pertama sudah dilaksanakan, kemudian sekarang dilanjutkan untuk memenuhi target yang telah ditetapkan,” ujar Nadiyah beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, jumlah calon peserta yang mendaftar tidak selalu sama dengan jumlah orang yang akhirnya menjalani tindakan. Sebagian calon peserta tidak lolos proses penyaringan kesehatan, sementara lainnya terkendala keperluan pribadi pada hari pelaksanaan.
Karena itu, calon peserta tidak dapat langsung datang dan menjalani prosedur MOP tanpa melalui tahapan pemeriksaan. Pendaftaran dapat dilakukan melalui petugas lapangan KB, unit pelaksana teknis, atau fasilitas pelayanan kesehatan terkait, untuk kemudian menjalani proses penyaringan sesuai ketentuan.
Nadiyah menegaskan, program MOP bukan pelayanan yang dapat diikuti semua orang tanpa persyaratan. Calon peserta perlu memenuhi kriteria yang ditetapkan, termasuk mempertimbangkan usia, jumlah anak, usia anak terkecil, serta persetujuan pasangan.
“Tidak serta-merta datang kemudian bisa langsung mengikuti program. Harus melalui penyaringan terlebih dahulu,” jelasnya.
Menurut Nadiyah, persetujuan istri menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Meskipun calon peserta memenuhi persyaratan lainnya, tindakan tidak dapat dilanjutkan apabila tidak terdapat kesepakatan antara suami dan istri.
Selain MOP, DP2KBP3A Subang juga menjalankan pelayanan KB bagi perempuan melalui metode kontrasepsi lainnya. Nadiyah menyebutkan, pelayanan kontrasepsi tubektomi atau MOW pada perempuan telah dilaksanakan dalam dua putaran, dengan jumlah peserta masing-masing 163 dan 62 orang.
Perbedaan partisipasi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mendorong keterlibatan pria dalam program KB. Menurut Nadiyah, penyuluhan kepada masyarakat perlu terus dilakukan agar keluarga memahami pilihan kontrasepsi yang tersedia dan dapat menentukan metode yang sesuai berdasarkan informasi yang benar.
Ia mengimbau masyarakat yang berminat mengikuti program MOP agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan petugas KB atau fasilitas kesehatan.(hdi/ysp)
