Ketua RW Ungkap Ada Warga Dengar Teriakan di Malam Terjadinya Dugaan Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur

PURWAKARTA-Kasus kematian Sumarna, pembunuhan satpam Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, masih dalam penyelidikan dan tanda tanya besar. Pihak kepolisian pun masih terus bekerja mengungkap pelaku di balik kematian korban yang diduga menjadi korban pembunuhan.
Di tengah proses penyelidikan, muncul keterangan baru dari warga sekitar lokasi kejadian. Adalah ketua RW 07 Desa Kembang Kuning, Kecamatan Jatiluhur, Dadang Kusnadi, yang mengungkapkan bahwa pada malam sebelum jasad korban ditemukan, ada warga yang mengaku mendengar suara keributan hingga teriakan seseorang yang meminta tolong.
Menurut Dadang, suara tersebut terdengar pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Akan tetapi, warga yang mendengarnya tidak berani keluar rumah karena takut dan kondisi lingkungan yang masih gelap.
"Ada warga yang mendengar suara kegaduhan seperti orang ribut. Ada juga warga lain yang mendengar suara jeritan minta tolong. Tetapi mereka tidak berani keluar rumah sehingga tidak melihat siapa yang berada di luar," kata Dadang kepada wartawan saat ditemui di lokasi Tanggul Kayat, Senin (3/8/2026).
Dadang juga menegaskan bahwa dirinya tidak meyakini kematian Sumarna berkaitan dengan aksi vandalisme di kawasan waduk.
Ia mengaku sempat bertemu dengan almarhum pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 03.30 WIB. Saat itu, korban bercerita pernah menegur sejumlah orang secara baik-baik dan tidak pernah mengaku memiliki konflik dengan siapa pun.
"Saya yakin ini bukan berkaitan dengan vandalisme. Almarhum pernah bilang sudah menegur secara baik-baik. Kalau soal konflik, menurut cerita beliau tidak ada konflik," ujarnya.
Dadang juga mengungkapkan informasi lain yang diterimanya dari warga. Salah seorang warga yang rutin berbelanja ke pasar untuk kebutuhan warung mengaku masih melihat Sumarna berada di sekitar Tanggul Kayat sekitar pukul 02.30 WIB.
Menurut informasi yang diterimanya, saat itu korban terlihat sedang melakukan peregangan atau senam ringan di sekitar lokasi.
"Informasi yang saya terima, sekitar pukul 02.30 WIB almarhum masih terlihat di ujung sana sedang peregangan atau senam. Warga yang melihat memang setiap subuh berangkat belanja untuk jualan di rumah," ucapnya.
Sementara itu, terkait barang bukti berupa handy talky (HT) milik korban, Dadang mengatakan dirinya tidak mengetahui siapa yang pertama kali menemukannya. Namun ia memastikan HT tersebut ditemukan berada di atas sebuah perahu yang berada di lokasi kejadian.
"Saya tidak tahu siapa yang pertama menemukan. Tapi memang HT itu ada di ujung perahu. Kami bersama petugas keamanan dan pihak terkait mengetahui keberadaan HT tersebut di atas perahu," kata Dadang.
Saat mendatangi lokasi penemuan HT, Dadang mengaku tidak melihat adanya jejak kaki yang mencurigakan di sekitar lokasi.
"Waktu saya ke lokasi penemuan HT, kondisinya bersih, tidak ada bekas jejak kaki," ujarnya.
Di sisi lain, Dadang membantah adanya isu yang menyebut warga sekitar menjadi terduga pelaku atau pun telah diamankan polisi.
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan seluruh ketua RT di wilayah RW 07 yang membawahi lima RT dan memastikan tidak ada warga yang menghilang maupun dicurigai sejak kasus itu terjadi.
"Saya sudah mengecek ke lima RT. Alhamdulillah tidak ada kejanggalan, tidak ada warga yang hilang ataupun pendatang yang mencurigakan. Sampai sekarang juga saya belum mendapat informasi ada warga yang ditangkap atau diamankan polisi," ucapnya.
Menurut Dadang, aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kejadian kini sudah kembali berjalan normal. Meski begitu, sebagian warga memilih tidak banyak berkomentar karena khawatir terseret dalam proses hukum.
Ia berharap kepolisian segera berhasil mengungkap pelaku di balik kematian Sumarna agar keluarga korban memperoleh kepastian hukum.
"Kami berharap kasus ini segera terungkap dan pelakunya bisa ditangkap. Keluarga korban tentu sangat menunggu kepastian hukum dari pihak kepolisian," kata Dadang.(add/ysp)
