Pabrik BYD di Subang Diresmikan, Luas 126 Hektare dengan Nilai Investasi Rp11,6 Triliun

SUBANG - Pabrik BYD di Subang diresmikan pada Kamis (3/9/2026). Pabrik tersebut berada di kawasan industri Subang Smartpolitan Industrial Park, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Pabrik yang dikelola PT BYD Auto Indonesia tersebut berdiri di atas lahan seluas 126 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp11,6 triliun. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi maksimal hingga 150 ribu unit kendaraan per tahun.
Dalam tahap awal, pabrik BYD disebut telah melibatkan sekitar 5.000 pekerja lokal. Jumlah tersebut berpotensi meningkat menjadi lebih dari 20 ribu tenaga kerja lokal apabila fasilitas produksi beroperasi dalam kapasitas penuh.
Vice President BYD Co., Ltd. Liu Xueliang mengatakan, fasilitas manufaktur BYD di Subang memiliki kemampuan produksi yang terintegrasi, mulai dari proses stamping, welding, painting, hingga assembly.
“Hari ini sangat penting, peresmian pabrik BYD di Indonesia. Ini tidak hanya penting bagi kami, tapi juga pemerintah Indonesia karena mendukung transformasi kendaraan,” kata Liu dalam sambutannya.
Menurut Liu, pembangunan pabrik di Indonesia menjadi bagian dari perjalanan panjang BYD dalam mengembangkan kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV).
Ia menyampaikan, BYD menjadi salah satu produsen yang menghentikan produksi kendaraan konvensional berbahan bakar bensin dan diesel sejak 2022 dan kemudian sepenuhnya berfokus pada pengembangan kendaraan energi baru.
Pada 2025, BYD disebut telah menjual sekitar 4,6 juta unit kendaraan secara global. Sementara secara kumulatif, penjualan BYD telah mencapai 17,8 juta kendaraan hingga Agustus 2026.
“Perjalanan ini sudah 35 tahun,” ujar Liu.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai keputusan BYD membangun fasilitas produksi di Jawa Barat merupakan langkah yang tepat. Jawa Barat dinilai memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yakni mencapai 5,73 persen secara tahunan (year on year).
Peresmian pabrik tersebut juga dinilai menjadi momentum penting di tengah pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional yang terus meningkat.
Agus mengatakan, kehadiran pabrik BYD tidak boleh berhenti pada kegiatan perakitan kendaraan. Pemerintah mendorong investasi tersebut berkembang menjadi ekosistem industri kendaraan listrik yang lebih luas.
“Ke depan kami berharap investasi BYD tidak berhenti sampai pabrik, tapi juga meluas ke ekosistem kendaraan listrik,” kata Agus.
Ia menambahkan, investasi BYD merupakan bagian penting dari agenda pemerintah untuk mempercepat transformasi industri otomotif nasional menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
“Transformasi market menuju green mobility harus lebih cepat. Beliau (Presiden Prabowo) menyampaikan BYD harus sukses di Indonesia,” ujarnya.
Dia menyebut, realisasi investasi hingga berdirinya fasilitas produksi BYD di Indonesia merupakan proses panjang. Pemerintah, kata dia, terus mengawal investasi strategis tersebut agar memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian dan industri nasional.
“Realisasi investasi hingga berdirinya pabrik BYD di Indonesia, ini merupakan proses yang sangat panjang,” ucapnya.
Dia menyebut, salah satu aspek yang menjadi perhatian pemerintah adalah peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam produk kendaraan listrik yang diproduksi di Indonesia.
Model pertama yang diproduksi di fasilitas Subang adalah BYD M6 DM, dengan TKDN disebut telah mencapai lebih dari 40 persen.
"Dengan resmi beroperasinya pabrik tersebut, BYD kini memiliki basis produksi kendaraan listrik di Indonesia. Fasilitas ini tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga berpotensi menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok dan basis produksi kendaraan listrik di kawasan," pungkasnya. (cdp/ysp)
