Ruwat Laut ke-59 Blanakan Jadi Momentum Perkuat Kebersamaan, Kapolres Subang Tekankan Jaga Tradisi dan Kamtibmas

SUBANG -Tradisi Ruwat Laut bukan sekadar rangkaian ritual tahunan masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur, kebersamaan, serta kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat nelayan.
Di tengah tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu, Kapolres Subang AKBP Andi Purwanto, hadir bersama jajaran di KUD Mina Fajar Sidik di Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Sabtu (26/9/2026) malam.
Andi menyampaikan, Ruwat Laut menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat nelayan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk memanjatkan rasa syukur sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat setelah menjalani kehidupan dan aktivitas di laut yang penuh tantangan.
"Bagi Polri, pengamanan tradisi masyarakat tidak semata-mata dimaknai sebagai penjagaan terhadap sebuah kegiatan, melainkan bagian dari upaya membangun kedekatan dengan masyarakat," terangnya.
Ia menegaskan, keberadaan Polri di tengah tradisi masyarakat harus mampu menghadirkan rasa aman sekaligus membangun komunikasi yang baik dengan seluruh elemen masyarakat.
“Polri hadir untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat dapat berlangsung dengan aman dan nyaman. Mari bersama-sama menjaga ketertiban, saling menghormati, dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib,” tegasnya.
Dia menyebut, keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian. Situasi kamtibmas yang kondusif membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui kesadaran untuk menjaga ketertiban dan menghormati satu sama lain.
"Karena rangkaian Ruwat Laut diwarnai aktivitas di kawasan pesisir, prosesi pelarungan, karnaval perahu, pertunjukan seni budaya hingga hiburan masyarakat kami melalukan pendekatan preventif dan melakukan pemantauan serta patroli di sejumlah lokasi untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan sekaligus memastikan masyarakat dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aman, Alhamdulillah aman dan kondusif," ungkapnya.
Menurut Andi, tradisi dan budaya lokal dipandang sebagai kekuatan sosial yang dapat mempererat hubungan antarmasyarakat. Di sisi lain, pelestarian tradisi juga perlu berjalan seiring dengan kesadaran menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, serta kelestarian lingkungan.
"Ruwat Laut ke-59 akhirnya tidak hanya menjadi penanda keberlangsungan sebuah tradisi yang telah dijaga selama puluhan tahun, tetapi juga menjadi ruang bertemunya masyarakat, budaya dan aparat keamanan dalam semangat kebersamaan," kata Andi.
Polres Subang juga menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan sosial, budaya, keagamaan maupun tradisi lokal.
"Melalui pendekatan yang humanis, komunikatif dan kolaboratif, kami berharap hubungan dengan masyarakat semakin kuat. Sebab, keamanan yang berkelanjutan tidak hanya dibangun melalui kehadiran personel di lapangan, tetapi juga melalui kepercayaan, komunikasi dan partisipasi masyarakat," tutupnya. (cdp/ysp)
