Soal Data Center AI di Jatiluhur, PDAM Sebut Kebutuhan Air Masyarakat Tak Terganggu

PASUNDANEKSPRES.ID - Pembangunan Data Center Berbasis Kecerdasan Buatan (AI) BDx CGK 4 di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air bersih akibat rencana operasional proyek tersebut.
Dikonfirmasi terkait hal itu, Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu (PDAM), Riana Afriadi mengatakan bahwa kebutuhan air untuk Data Center BDx tidak akan mengambil jatah air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, PDAM justru melihat kebutuhan pelanggan berskala besar tersebut sebagai momentum untuk memperbarui infrastruktur sekaligus meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih di Kabupaten Purwakarta.
Kehadiran Data Center BDx CGK 4
"Jadi, kehadiran Data Center BDx CGK 4 tidak semata-mata kami lihat sebagai tambahan kebutuhan air. Kita melihatnya sebagai sebuah kesempatan," kata Riana kepada wartawan saat dikonfirmasi, belum lama ini.
Ia menjelaskan, gangguan pelayanan air bersih yang terjadi belakangan ini tidak berkaitan dengan kehadiran data center. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan debit sumber mata air akibat musim kemarau serta kondisi infrastruktur PDAM yang sebagian besar telah berusia tua dan melewati batas usia teknis penggunaannya.
"Persoalan air bersih bukan hanya tentang seberapa banyak air yang tersedia di sumber. Air harus diambil dari sumber, diolah menjadi air bersih, kemudian dialirkan melalui jaringan perpipaan hingga akhirnya sampai kepada masyarakat," ujarnya.
Berdasarkan data tim koordinasi pengelolaan sumber daya air wilayah Sungai Citarum yang disampaikan PDAM, Kabupaten Purwakarta memiliki kuota air sebesar 3,01 meter kubik per detik. Dari kuota tersebut, PDAM saat ini menggunakan sekitar 380 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan air lebih dari 30.000 keluarga.
Riana menyebutkan, apabila seluruh keluarga di Kabupaten Purwakarta menggunakan layanan PDAM, kebutuhan air masyarakat secara keseluruhan diperkirakan sekitar 1,45 meter kubik per detik.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 1,56 meter kubik per detik dari kuota tersebut yang menurut PDAM dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pelayanan, termasuk rencana penyediaan air bagi Data Center BDx.
"Dengan demikian, setelah kebutuhan masyarakat Purwakarta terpenuhi, masih ada sisa kuota yang dapat kita manfaatkan untuk pengembangan," ucap Riana.
Dalam rencana pengembangan tersebut, PDAM menyiapkan kapasitas pengolahan air sekitar 750 liter per detik. Dari kapasitas itu, kebutuhan untuk Data Center BDx CGK 4 dialokasikan maksimal sekitar 400 liter per detik.
Artinya, lajut Riana, masih terdapat sekitar 350 liter per detik kapasitas pengolahan yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan pelayanan lainnya.
Jika dikonversikan, kapasitas 350 liter per detik setara sekitar 30,24 juta liter air per hari. Dengan asumsi kebutuhan 120 liter per orang per hari dan rata-rata empat orang dalam satu keluarga, kapasitas tersebut secara teoritis setara dengan kebutuhan sekitar 63.000 keluarga.
Meski demikian, Riana menegaskan angka tersebut merupakan perhitungan kapasitas secara teoritis. Dalam penerapannya, pelayanan tetap harus mempertimbangkan kondisi sumber air, kemampuan produksi, jaringan perpipaan, tekanan air hingga pola pemakaian pelanggan.
"Artinya, sebesar apa pun potensi sumber air yang kita miliki, tanpa didukung infrastruktur yang memadai, kemampuan untuk mengolah dan mendistribusikan air tetap akan terbatas," katanya.
Oleh karena itu, menurut Riana, kehadiran pelanggan besar seperti BDx juga dapat menjadi momentum bagi PDAM untuk mempercepat pembaruan infrastruktur yang selama ini sudah berusia tua.
Pengembangan tersebut mencakup peningkatan kapasitas produksi, peremajaan jaringan perpipaan serta penguatan sistem distribusi agar pelayanan air bersih kepada masyarakat semakin andal.
Tak hanya itu, PDAM juga melihat peluang untuk memperluas cakupan pelayanan ke wilayah yang selama ini masih mengalami keterbatasan akses air bersih.
Beberapa di antaranya berada di sekitar Waduk Jatiluhur, seperti Desa Cibinong, Desa Cikao Bandung, Desa Cilegon dan Desa Kembang Kuning. Padahal, wilayah tersebut berada di sekitar salah satu sumber air terbesar di Indonesia.
"Inilah yang ingin kita ubah dan selesaikan. Pengembangan infrastruktur ke depan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pelanggan industri, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperluas dan meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat," ujar Riana.
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur air bersih ke depan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini, tetapi juga memperkuat sistem pelayanan dalam jangka panjang.
"Kesempatan untuk memperbarui infrastruktur, kesempatan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, kesempatan untuk memperluas jaringan, dan yang paling penting, kesempatan untuk membangun sistem pelayanan air bersih yang lebih kuat bagi masyarakat Purwakarta," ucapnya.(add/ysp)
