Subang Miliki Potensi 1.165 Ton Jagung, Kemenkop Dorong KDKMP Jadi Penggerak Korporasi Petani

SUBANG – Kementerian Koperasi Republik Indonesia (Kemenkop RI) mendorong penguatan jaringan usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk mengembangkan komoditas jagung di Kabupaten Subang. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat rantai usaha pertanian dari penyediaan sarana produksi hingga pemasaran hasil panen.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Fasilitasi Penguatan Jaringan Usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Komoditas Jagung yang digelar di Aula Dayang Sumbi, Sariater, Subang, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang diikuti 30 KDKMP ini diselenggarakan Kemenkop RI bekerja sama dengan Koperasi Produsen Putra Permatasari, Perum BULOG, PT BISI International, dan Bank Mandiri. Asisten Deputi Akselerasi Jaringan Usaha Kemenkop RI, Cecep Setyawan, hadir membuka kegiatan tersebut.
Turut hadir Asisten Daerah II Setda Subang yang mewakili Bupati, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Subang Hj. Yeni Nuraeni, unsur Polres Subang, serta para pengurus koperasi.
Cecep mengatakan, Kabupaten Subang memiliki potensi produksi jagung yang dapat terus dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memenuhi kebutuhan industri pakan ternak.
Berdasarkan publikasi Kabupaten Subang Dalam Angka 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen jagung di Subang pada 2024 mencapai 207 hektare, dengan produksi sebesar 1.165 ton dan produktivitas rata-rata 56,27 kuintal per hektare.
Produksi tersebut antara lain berasal dari Kecamatan Purwadadi, Cipunagara, Dawuan, Cipeundeuy, dan Kalijati.
“Berdasarkan publikasi BPS Kabupaten Subang Dalam Angka 2025, pada tahun 2024 luas panen jagung di Kabupaten Subang tercatat mencapai 207 hektare dengan produksi sebesar 1.165 ton dan produktivitas rata-rata 56,27 kuintal per hektare. Produksi tersebut antara lain berasal dari Kecamatan Purwadadi, Cipunagara, Dawuan, Cipeundeuy, dan Kalijati,” ujar Cecep.
Menurutnya, jagung merupakan komoditas strategis karena menjadi salah satu bahan baku utama pakan unggas. Namun, pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses benih unggul, sarana produksi, pembiayaan, hingga persoalan pascapanen dan kepastian harga.
Kondisi tersebut dapat membuat petani memiliki posisi tawar yang lemah ketika menjual hasil panen secara individual. Karena itu, koperasi dinilai memiliki peran penting untuk memperkuat daya tawar petani melalui pengadaan kebutuhan produksi dan pemasaran secara kolektif.
“Melalui koperasi, kebutuhan benih dan sarana produksi dapat dipenuhi secara bersama, hasil panen petani dapat dikumpulkan dan dipasarkan dalam skala ekonomi yang lebih besar, serta akses pembiayaan dan kemitraan usaha dapat dibangun secara lebih terarah,” jelasnya.
Kemenkop berharap kolaborasi dengan Koperasi Produsen Putra Permatasari, Perum BULOG, PT BISI International, dan Bank Mandiri dapat membangun jaringan usaha jagung dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi wadah administrasi, tetapi juga mampu menjalankan fungsi ekonomi yang memberikan manfaat bagi petani.
Sementara itu, Kepala DKUPP Kabupaten Subang Hj. Yeni Nuraeni menegaskan bahwa pemerintah daerah siap mendukung keberhasilan program KDKMP.
Ia menyebutkan, sebanyak 156 KDKMP telah dibangun, sedangkan 116 lainnya sedang menjalani verifikasi lapangan. Pemerintah daerah menargetkan proses verifikasi tersebut selesai pada akhir Oktober sehingga koperasi yang memenuhi persyaratan dapat mulai berjalan pada awal November.
“Yang sudah dibangun KDMP itu ada 156 dan yang lagi diverifikasi lapangan itu 116 dan insya Allah setelah verifikasi selesai di akhir Oktober, awal November mulai berjalan. Kami siap, Kabupaten Subang menyukseskan program KDMP. Insya Allah Subang bisa menjadi salah satu kabupaten yang bisa sukses,” ujar Yeni.
Yeni menilai pengembangan jaringan usaha komoditas jagung di Subang memiliki prospek karena ditopang kebutuhan pasar, khususnya industri pakan ternak. Ia mencontohkan keberadaan pabrik GDA yang menurutnya membutuhkan pasokan jagung untuk mendukung kegiatan produksinya.
“Komoditi jagung ini luar biasa. Subang memang tiga besar penghasil padi di Jawa Barat, tapi jagung kita yakin. Kita ada pabrik GDA dan dua minggu lalu saya ke GDA itu sangat butuh pakan dari jagung. Jadi pasarnya sudah ada di depan mata,” jelasnya.
Selain memperkuat pemasaran, Yeni juga menekankan pentingnya menjaga daya saing harga produk yang dijual melalui koperasi. Ia berencana melakukan survei harga di pasar agar harga jual koperasi tetap kompetitif dan menarik bagi masyarakat.
“Saya akan survei harga ke pasar-pasar. Jangan sampai harga jual koperasi di atas harga pasar. Kalau di atas pasar, masyarakat tidak tertarik belanja di koperasi. Insya Allah harga koperasi bisa lebih murah,” tegasnya.
Kegiatan lokakarya yang berlangsung selama tiga hari tersebut diharapkan menghasilkan konsorsium jaringan usaha komoditas jagung yang solid. Melalui kolaborasi antarkoperasi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan mitra pemasaran, KDKMP diharapkan berkembang menjadi korporasi petani yang profesional.(hdi)
