Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Warga Subang Mulai Kesulitan Air Bersih, Kemarau Diprediksi hingga Oktober

H
Hadi MartadinataEditor: Yusup Suparman
|08:30 WIB
Bagikan:
Warga Subang Mulai Kesulitan Air Bersih, Kemarau Diprediksi hingga Oktober
DISTRIBUSIKAN AIR: BPBD Kabupaten Subang mendistribusikan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Hadi Martadinata/Pasundan Ekspres

Berbagai Pihak Siaga Salurkan Bantuan Air

SUBANG – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Subang mulai memperlihatkan dampak yang semakin luas. Bukan hanya lahan pertanian yang kehilangan pasokan air, sebagian masyarakat di sejumlah wilayah juga mulai kesulitan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut diperkirakan belum akan segera berakhir. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta instansi terkait, musim kemarau di wilayah Subang diprediksi masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026.

Artinya, masyarakat masih harus menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air dalam beberapa pekan ke depan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang pun terus memperkuat penanganan. Selain mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang terdampak, BPBD bersama instansi terkait melakukan berbagai upaya untuk membantu sektor pertanian yang mengalami kekurangan pasokan air.

Sekretaris Badan BPBD Kabupaten Subang, A Sudrajat, mengatakan penanganan dilakukan seiring dengan status siaga darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah ditetapkan.

Status siaga darurat tersebut mengacu pada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat tanggal 10 Juni 2026 Nomor 360/Kep.307-BPBD/2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2026.

Pemerintah Kabupaten Subang kemudian menetapkan status siaga darurat melalui keputusan Bupati Subang pada 3 Juli 2026. Selanjutnya, Bupati Subang juga mengeluarkan surat edaran pada 27 Juli 2026 mengenai siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla di wilayah Kabupaten Subang.

“BPBD dan instansi terkait terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan, koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa dan instansi terkait, serta melakukan upaya-upaya penanganan,” ujar Sudrajat saat diwawancarai Pasundan Ekspres, Kamis (20/8/2026).

Air Bersih Mulai Diburu Warga

Salah satu persoalan yang muncul akibat kemarau adalah berkurangnya akses masyarakat terhadap air bersih.

Di sejumlah wilayah, warga mulai membutuhkan bantuan pasokan air karena sumber air yang biasa digunakan tidak lagi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Kebutuhan tersebut mencakup berbagai aktivitas dasar, mulai dari minum, memasak, mandi hingga mencuci.

BPBD Subang telah menyalurkan bantuan air bersih berdasarkan laporan dan permintaan masyarakat melalui pemerintah desa.

Sejumlah wilayah telah mendapatkan suplai air bersih. Di antaranya Desa Neglasari, Kecamatan Pagaden, sebanyak sekitar 20.000 liter; Desa Legon Kulon sekitar 25.000 liter; Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, sekitar 20.000 liter; wilayah Pusakajaya sekitar 15.000 liter; Desa Palasari, Kecamatan Ciater, sekitar 20.000 liter; serta Desa Munjul, Kecamatan Pagaden Barat, sekitar 20.000 liter.

Penyaluran tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih mulai menjadi persoalan yang harus diantisipasi selama kemarau berlangsung.

BPBD memperkirakan permintaan bantuan air bersih berpotensi meningkat apabila kondisi kemarau terus berlanjut.

“Prediksi kemarau ini akan sampai dengan bulan Oktober. Tentunya kami akan terus mengantisipasi lonjakan permintaan air bersih masyarakat terhadap BPBD,” kata Sudrajat.

613 KK di Gambarsari Dapat Bantuan Air

Penanganan kekeringan juga dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

Di Desa Gambarsari, Kecamatan Pagaden, sebanyak 25.000 liter air bersih disalurkan kepada masyarakat terdampak kekeringan.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi warga yang tersebar di wilayah terdampak dengan total penerima mencapai 613 kepala keluarga.

Distribusi air menjadi salah satu langkah untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar ketika sumber air di lingkungan mereka mengalami keterbatasan.

Bagi masyarakat yang terdampak, bantuan tersebut menjadi penting karena kekeringan tidak hanya berdampak terhadap aktivitas pertanian, tetapi juga kehidupan sehari-hari.

Ketersediaan air menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Ketika sumber air mulai berkurang, masyarakat harus mencari sumber alternatif atau menunggu bantuan distribusi dari pemerintah dan lembaga terkait.

Cinungku Kesulitan Air

Persoalan serupa terjadi di Kampung Cinungku, Desa Palasari.

Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang (Perumda TRS) bersama Anggota DPR RI Komisi I, Hj. Elita Budiarti, S.K.M., M.Si., turun langsung meninjau kondisi masyarakat di wilayah tersebut pada Sabtu (29/8/2026).

Kunjungan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat mengenai kesulitan mendapatkan air bersih.

Dalam penanganan tersebut, Perumda TRS mengerahkan dua unit mobil tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga Kampung Cinungku.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang, Lukman Nurhakim, M.I.Kom., mengatakan pihaknya siap membantu wilayah mana pun di Kabupaten Subang yang mengalami kesulitan air bersih.

Menurut Lukman, bantuan dapat diberikan berdasarkan permintaan resmi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kepolisian, TNI hingga masyarakat.

“Daerah manapun yang kekeringan kita akan bantu, berdasarkan permintaan resmi pemerintah desa, kepolisian, TNI atau permintaan warga. Tapi alhamdulillah unit pengolahan air kita tidak ada kekurangan debit air,” ujar Lukman.

Meski debit air pada unit pengolahan Perumda TRS masih mencukupi, kondisi masyarakat di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan tetap menjadi perhatian.

Karena itu, mobil tangki digunakan sebagai salah satu langkah cepat untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pasokan air.

Perumda TRS juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk merespons laporan kekeringan dan kebutuhan air bersih di lapangan.

Laporan Warga Mengalir

Elita Budiarti mengatakan kunjungannya ke Kampung Cinungku merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat.

Ia mengaku menerima banyak laporan warga yang menyampaikan kesulitan mendapatkan air bersih.

“Alhamdulillah buat warga Cinungku, saya sudah datang. Jadi jangan WA lagi. Banyak yang WA ke saya, di Cinungku nggak bisa minum, nggak bisa mandi. Hari ini saya dengan Pak Lukman dari PDAM, dengan Fraksi Partai Golkar sudah datang ke Cinungku,” ungkap Elita.

Menurut Elita, bantuan air bersih diperlukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam kondisi darurat. Namun, persoalan tersebut tidak cukup jika hanya diselesaikan melalui distribusi air secara berkala.

Ia berharap ada solusi yang lebih permanen sehingga masyarakat Kampung Cinungku memiliki akses air yang lebih memadai.

“Mudah-mudahan ke depannya kita bisa memohon bantuan kepada pihak-pihak terkait, pemerintah daerah, atau kita akan mencoba minta bantuan ke Kementerian Pertahanan untuk di sini agar ada air,” ujar Elita.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan mulai membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat sementara.

Distribusi air melalui mobil tangki dapat memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek. Namun, akses terhadap sumber air yang berkelanjutan tetap menjadi persoalan penting bagi wilayah yang berulang kali mengalami kekurangan air ketika musim kemarau.

Sawah Ikut Terancam

Di tengah persoalan air bersih, sektor pertanian juga menghadapi tekanan.

Subang sebagai salah satu daerah pertanian harus berhadapan dengan berkurangnya pasokan air untuk persawahan.

Di sejumlah wilayah, lahan pertanian mulai mengalami kekurangan air. Kondisi tersebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko kerugian bagi petani apabila pasokan air tidak segera tersedia.

BPBD bersama instansi terkait melakukan pompanisasi di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Pusakanagara, Compreng dan Cipunagara.

Pompanisasi dilakukan pada areal persawahan yang masih memiliki sumber air dan memungkinkan dilakukan penyedotan.

Di Pusakanagara, sumber air untuk pompanisasi diambil dari Kali Kuara.

Sementara di Jatimulya, Kecamatan Compreng, air diambil dari resapan Sungai Cigadung. Adapun di wilayah Cipunagara, sumber air untuk pompanisasi berasal dari Sungai Cilamatan.

Namun, pompanisasi tidak dapat dilakukan di seluruh lahan yang mengalami kekeringan.

Persoalannya sederhana: harus tersedia sumber air yang masih dapat disedot.

“Bagi area persawahan yang membutuhkan air untuk pompanisasi tetapi tidak ada sumber airnya, kita tidak bisa membantu. Jadi memang harus ada sumber air yang bisa disedot,” jelas Sudrajat.

Kondisi itu membuat sebagian lahan pertanian memiliki tingkat kerentanan berbeda. Areal yang masih berdekatan dengan sumber air dapat mendapatkan bantuan pompanisasi, sementara lahan yang sumber airnya sudah mengering menghadapi persoalan lebih berat.

Warga Diminta Hemat Air

Menghadapi kemarau yang diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober, BPBD mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijak.

Penghematan menjadi penting karena kebutuhan air berpotensi meningkat seiring semakin panjangnya periode tanpa hujan.

Masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dapat menyampaikan laporan melalui pemerintah desa.

Kepala desa kemudian dapat mengajukan surat permohonan kepada BPBD agar wilayahnya mendapatkan suplai air bersih.

“Jadi masyarakat bisa menghubungi pemerintah desa di mana mereka berada. Kepala desa nanti bersurat kepada BPBD, kemudian BPBD akan menyuplai kebutuhan air bersihnya,” ungkap Sudrajat.

Pola tersebut menjadi mekanisme bagi pemerintah untuk memetakan wilayah yang membutuhkan bantuan sekaligus menyesuaikan distribusi dengan kondisi di lapangan.

Di sisi lain, Perumda TRS juga membuka ruang bantuan bagi wilayah yang mengalami kesulitan air bersih berdasarkan permintaan resmi.

Dengan demikian, penanganan kekeringan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari BPBD, Perumda TRS, BBWS Citarum, pemerintah desa hingga unsur pemerintah lainnya.

Kemarau dan Ancaman Karhutla

Kemarau panjang juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

BPBD mencatat sekitar 100 kejadian kebakaran selama status siaga darurat berlangsung. Kejadian tersebut mencakup kebakaran dalam skala kecil maupun besar.

Sejumlah kebakaran besar terjadi di kawasan pembuangan sampah Panembong, Ecoaper dan Jalupang.

Sementara kebakaran lahan dengan skala lebih kecil terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Subang Selatan serta Kecamatan Cibogo, Wanareja, Purwadadi dan Cisalak.

Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar.

Rumput dan vegetasi yang kehilangan kelembapan menjadi material yang mudah terbakar, sehingga aktivitas masyarakat yang menghasilkan api perlu mendapat perhatian lebih.

“Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam menjaga lingkungan. Terutama bagi mereka yang punya kebiasaan merokok, jangan membuang puntung rokok sembarangan,” tegas Sudrajat.

Masyarakat juga diminta berhati-hati ketika membakar sampah.

Api yang tidak dipastikan benar-benar padam dapat merembet ke lahan sekitar yang kondisinya kering.

“Lahan-lahan sekarang rumputnya mengalami pengeringan, jadi mudah terbakar. Seandainya terjadi kebakaran segera hubungi kami ataupun pemadam kebakaran,” ujarnya.(hdi/ysp)

Berita Terbaru

Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur Purwakarta Masih Misteri, Polisi Periksa Puluhan Saksi

Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur Purwakarta Masih Misteri, Polisi Periksa Puluhan Saksi

Purwakarta19 menit lalu
Cara Hemat Kuota Internet Saat Main TikTok, Pakai Fitur Ini!

Cara Hemat Kuota Internet Saat Main TikTok, Pakai Fitur Ini!

Lifestyle59 menit lalu
Tak Sekadar Jual Iklan, Serikat Perusahaan Pers Dorong Media Tawarkan Solusi Komunikasi Berbasis AI

Tak Sekadar Jual Iklan, Serikat Perusahaan Pers Dorong Media Tawarkan Solusi Komunikasi Berbasis AI

Nasional1 jam lalu
Jadwal Final Badminton Asian Games 2026 Perorangan: Dua Wakil Indonesia Hadapi China

Jadwal Final Badminton Asian Games 2026 Perorangan: Dua Wakil Indonesia Hadapi China

Olahraga1 jam lalu
ADVERTISEMENT
Pelayanan KIA Kabupaten Subang Kini Bisa Diakses di Kecamatan dan MPP, Ini Syaratnya

Pelayanan KIA Kabupaten Subang Kini Bisa Diakses di Kecamatan dan MPP, Ini Syaratnya

Subang1 jam lalu
Cara Merawat Kasur Spring Bed agar Awet dan Nyaman

Cara Merawat Kasur Spring Bed agar Awet dan Nyaman

Lifestyle1 jam lalu
Kapolsek Subang Ingatkan Pelajar SMK Pasundan Jauhi Geng Motor, Narkoba dan Pergaulan Bebas

Kapolsek Subang Ingatkan Pelajar SMK Pasundan Jauhi Geng Motor, Narkoba dan Pergaulan Bebas

Subang2 jam lalu
66 Tahun Peringatan UUPA, Kementerian ATR/BPN Akselerasi Sejumlah Program Strategis di Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

66 Tahun Peringatan UUPA, Kementerian ATR/BPN Akselerasi Sejumlah Program Strategis di Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

Nasional2 jam lalu
Nilai Batas Wajar Gratifikasi 2026 Berubah, Cek Aturan Baru KPK yang Berlaku

Nilai Batas Wajar Gratifikasi 2026 Berubah, Cek Aturan Baru KPK yang Berlaku

Nasional2 jam lalu
Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Laga Krusial Menuju Final

Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Laga Krusial Menuju Final

Olahraga2 jam lalu