Apa Itu Fenomena Upwelling? Memahami Penyebab Ribuan Ikan Nila Mati di Waduk Cirata

Fenomena upwelling kembali menjadi perhatian setelah ribuan ikan nila dilaporkan mati mendadak di kawasan Waduk Cirata Jangari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Perubahan cuaca, hujan deras, dan angin kencang diduga memicu pergerakan massa air dari lapisan bawah ke permukaan. Lantas, apa sebenarnya fenomena upwelling dan mengapa bisa mematikan ikan dalam jumlah besar?
Kematian massal ikan nila dilaporkan terjadi di kawasan Waduk Cirata Jangari, Desa Cimanggu Pasir Kaung, Kabupaten Cianjur, pada Senin, 28 September 2026.
Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan fenomena upwelling, atau dalam konteks perairan darat Indonesia kerap disebut sebagai umbalan.
Menurut laporan yang beredar, ikan mulai terlihat mengalami gangguan dengan muncul ke permukaan dan terengah-engah sebelum akhirnya mati.
Fenomena tersebut terjadi setelah kawasan waduk mengalami perubahan cuaca ekstrem dan hujan deras setelah periode kering.
Namun, upwelling bukan sekadar istilah untuk menjelaskan ikan yang mati. Fenomena ini berkaitan dengan perubahan struktur massa air, suhu, oksigen terlarut, serta kondisi kimiawi perairan.
Apa Itu Upwelling?
Secara sederhana, upwelling adalah proses naiknya massa air dari lapisan yang lebih dalam menuju lapisan permukaan.
Istilah ini lebih sering digunakan dalam oseanografi untuk menjelaskan naiknya air laut yang lebih dalam akibat pergerakan angin. Air dari lapisan bawah dapat membawa nutrien dalam jumlah tinggi ke permukaan.
Pada waduk atau danau, mekanismenya memiliki karakteristik yang berbeda. Pergerakan air dapat terjadi ketika perubahan cuaca, angin, suhu permukaan, dan kondisi stratifikasi perairan menyebabkan massa air dari lapisan bawah bergerak naik.
Bagi ekosistem, pergerakan massa air sebenarnya merupakan proses alami. Masalah muncul ketika air dari lapisan bawah memiliki kandungan oksigen terlarut yang rendah serta membawa hasil penguraian bahan organik dan senyawa tertentu.
Ketika massa air tersebut mencapai zona tempat ikan hidup atau keramba, kualitas lingkungan ikan dapat berubah dengan sangat cepat.
Mengapa Upwelling Bisa Membuat Ikan Mati?
Salah satu faktor paling penting adalah oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO).
Ikan tidak mengambil oksigen langsung dari udara seperti manusia. Ikan menggunakan insang untuk mengambil oksigen yang tersedia di dalam air. Karena itu, ketika kadar oksigen terlarut turun secara drastis, ikan dapat mengalami stres, kesulitan bernapas, hingga kematian. Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan bahwa ketersediaan oksigen terlarut merupakan kebutuhan penting bagi organisme akuatik.
Lapisan air yang lebih dalam pada waduk dapat memiliki kadar oksigen lebih rendah karena proses konsumsi oksigen dalam penguraian bahan organik. Apabila massa air tersebut bergerak naik, air dengan kondisi kurang oksigen dapat masuk ke lapisan tempat ikan berada.
Akibatnya, ikan yang sebelumnya hidup dalam kondisi relatif stabil dapat menghadapi perubahan kualitas air secara tiba-tiba.
Bukan Cuma Soal Air Dingin
Ada anggapan sederhana bahwa ikan mati karena “air dingin dari dasar naik ke atas”. Penjelasan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi belum menggambarkan seluruh mekanismenya.
Perubahan suhu memang dapat menjadi bagian dari proses. Namun, persoalan yang lebih penting bagi ikan adalah perubahan kondisi lingkungan secara cepat, terutama kadar oksigen terlarut dan kualitas kimia air.
Dalam kondisi tertentu, air dari lapisan bawah juga dapat membawa bahan organik dan hasil penguraian yang sebelumnya berada di dasar waduk.
Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan beban pencemar dan memperburuk kondisi perairan ketika terjadi pencampuran massa air.
Kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai Waduk Cirata menemukan bahwa fenomena kematian massal ikan berkaitan dengan degradasi kualitas perairan dan fenomena umbalan. Dalam penelitian tersebut, kadar oksigen terlarut tercatat di bawah 4 mg/l pada kondisi tertentu, sementara beban bahan organik yang tinggi menjadi salah satu persoalan kualitas perairan.
Mengapa Cirata Rentan Mengalami Persoalan Ini?
Waduk Cirata bukan hanya berfungsi sebagai sumber daya air dan pembangkit listrik. Perairannya juga dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan menggunakan keramba jaring apung (KJA).
Aktivitas budidaya dalam jumlah besar membuat kondisi kualitas air menjadi faktor yang sangat penting.
Sisa pakan dan kotoran ikan yang masuk ke perairan dapat menjadi bahan organik. Jika beban bahan organik terlalu tinggi, proses penguraiannya dapat mengonsumsi oksigen dan menyebabkan kualitas air menurun.
Penelitian KKP mengenai Waduk Cirata mencatat bahwa jumlah KJA dan beban nutrien menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu diperhatikan. Kajian tersebut juga mengaitkan fenomena umbalan dengan kejadian kematian massal ikan budidaya.
Dengan kata lain, upwelling dapat menjadi pemicu kejadian akut, tetapi kondisi ekosistem perairan sebelumnya ikut menentukan seberapa besar dampaknya.
Fenomena Ini Bukan Pertama Kali Terjadi di Cirata
Peristiwa September 2026 juga bukan kejadian yang benar-benar baru.
Pada 9 September 2026, sekitar 10 ton ikan dilaporkan mati di Blok Salam, Waduk Cirata Jangari. Kerugian pembudidaya saat itu ditaksir sekitar Rp250 juta. Pembudidaya menyebut fenomena upwelling hampir selalu muncul pada periode tertentu, terutama sekitar Agustus hingga September.
Kemudian pada 28 September 2026, kembali dilaporkan kematian ribuan ikan nila di kawasan Jangari. Laporan terbaru tersebut mengaitkan kejadian dengan perubahan cuaca ekstrem, hujan deras, dan angin kencang yang diduga memicu pergerakan massa air.
Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan upwelling di kawasan waduk bukan hanya mengenai satu kejadian ikan mati, tetapi juga berkaitan dengan kerentanan kegiatan budidaya terhadap perubahan kondisi perairan secara mendadak.
Hujan Setelah Kemarau Bisa Menjadi Faktor Pemicu
Perubahan cuaca menjadi salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan. Setelah periode kering, kemudian terjadi hujan deras dan perubahan angin, struktur massa air di waduk dapat mengalami perubahan.
Angin yang kuat dapat membantu mencampurkan massa air. Sementara perubahan suhu permukaan dapat memengaruhi kestabilan lapisan air.
Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat menyebabkan air dari lapisan bawah bergerak menuju permukaan.
Fenomena serupa juga telah diamati pada kasus kematian ikan di berbagai waduk di Indonesia. KKP sebelumnya menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dapat memicu upwelling dan menyebabkan pasokan oksigen berkurang secara drastis pada perairan budidaya.
Ada Teknologi untuk Mendeteksinya Lebih Awal
Menariknya, persoalan kualitas air Waduk Cirata juga sudah menjadi perhatian dari sisi teknologi.
Pada April 2026, BRIN mengembangkan prototipe Water Quality Monitoring System (WQMS) berbasis sensor dan Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas air Waduk Cirata secara real-time.
Sistem tersebut dirancang untuk memantau sejumlah parameter penting, termasuk pH, temperatur, konduktivitas, dan dissolved oxygen (DO). Data dapat dikirim ke server berbasis cloud sehingga kondisi perairan dapat dipantau dari jarak jauh.
Teknologi semacam ini penting karena perubahan kualitas air dapat terjadi lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengamati gejalanya secara langsung.
Jika perubahan DO, suhu, atau parameter lain dapat diketahui lebih awal, pembudidaya memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan mitigasi sebelum kematian ikan meluas.
Apa yang Harus Diwaspadai Pembudidaya?
Ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem, pembudidaya ikan di waduk perlu memperhatikan perubahan perilaku ikan dan kondisi perairan.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain ikan mulai sering berada di permukaan, ikan terlihat mengambil udara dengan cepat, perubahan warna atau kondisi air, serta perubahan suhu yang berlangsung secara tiba-tiba.
KKP sebelumnya juga mendorong langkah pencegahan seperti panen lebih awal ketika kondisi cuaca dan perairan menunjukkan risiko kematian massal.
Selain respons saat kejadian, pengelolaan jangka panjang juga penting. Pengendalian jumlah KJA, pengelolaan pakan, pemantauan kualitas air, serta sistem peringatan dini dapat membantu mengurangi risiko.
Upwelling Tidak Selalu Berarti Bencana
Hal penting lainnya adalah memahami bahwa upwelling sendiri merupakan fenomena alam, bukan pencemaran dan bukan penyakit ikan.
Di laut, upwelling bahkan memiliki fungsi ekologis penting karena membawa nutrien dari perairan dalam ke permukaan dan dapat meningkatkan produktivitas biologis.
Persoalannya berbeda ketika fenomena pergerakan massa air terjadi pada waduk yang memiliki kondisi ekologis tertentu dan digunakan secara intensif untuk budidaya.
Jika air dari lapisan bawah memiliki oksigen rendah atau membawa beban bahan organik tinggi, pencampuran mendadak dapat menciptakan kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi ikan.
Karena itu, yang menjadi masalah bukan sekadar air bergerak dari bawah ke atas, tetapi apa yang ikut bergerak bersama air tersebut dan bagaimana kondisi perairan saat fenomena terjadi.
Pelajaran dari Waduk Cirata
Kematian ribuan ikan nila di Waduk Cirata kembali memperlihatkan bahwa perubahan cuaca dapat berinteraksi dengan kondisi ekosistem perairan dan aktivitas manusia.
Fenomena upwelling merupakan proses alami. Namun, dampaknya terhadap budidaya dapat menjadi jauh lebih besar ketika kualitas air sudah menghadapi tekanan dari tingginya beban organik dan aktivitas keramba.
Karena itu, pemantauan kualitas air menjadi bagian penting dari pengelolaan waduk.
Terlebih, peristiwa kematian ikan di Cirata telah berulang dan penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara fenomena umbalan, rendahnya oksigen terlarut, serta kondisi kualitas perairan dengan kematian ikan budidaya.
Jadi, ketika ribuan ikan tiba-tiba mati setelah hujan deras dan angin kencang, persoalannya tidak berhenti pada “ikan kekurangan oksigen”. Di baliknya terdapat dinamika massa air, suhu, oksigen terlarut, bahan organik, dan kondisi ekosistem waduk yang saling berkaitan.
Peristiwa di Waduk Cirata menjadi pengingat bahwa memahami tanda-tanda perubahan kualitas air dan membangun sistem pemantauan dini dapat menjadi bagian penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar bagi pembudidaya ikan.
