Kampung Bunikasih Subang, Tersembunyi di Tengah Hutan yang Kini Menanti Wisatawan Kembali

SUBANG – Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, sebuah kampung terpencil di Kabupaten Subang, Jawa Barat, menyimpan panorama alam yang seolah membawa pengunjung masuk ke dunia berbeda.
Kampung Bunikasih Subang
Namanya Kampung Bunikasih, berada di Desa Cupagara, Kecamatan Cisalak, Subang. Kampung yang berada di tengah kawasan hutan ini menawarkan perpaduan alam, kehidupan agraris, budaya Sunda, hingga sejumlah curug yang masih relatif tersembunyi.
Perjalanan menuju Bunikasih pun bukan perkara mudah. Dari Kota Subang, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Pasir Kaso Malang sebelum masuk ke jalur menuju kampung. Waktu tempuh dari titik tersebut bisa mencapai sekitar 90 menit dengan kondisi jalan yang cukup menantang.
Sepanjang perjalanan, pengunjung akan melewati kawasan perkebunan teh, lahan pertanian, hingga aktivitas warga seperti panen tomat, cabai dan padi.
Kampung Bunikasih sendiri berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Subang. Lokasinya berada di bagian selatan Kabupaten Subang dan hanya dihuni sekitar 43 kepala keluarga dalam satu RT.
Keterpencilan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sana. Sinyal telekomunikasi masih terbatas dan hanya terdapat satu warung di kampung tersebut.
Bahkan, anak-anak yang bersekolah harus berangkat sejak selepas salat Subuh karena jarak sekolah cukup jauh dan sebagian perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki.
Namun, di balik keterbatasan tersebut, Bunikasih menyimpan potensi besar.
Mayoritas masyarakat menggantungkan kehidupan dari pertanian dan perkebunan. Saat musim panen, pengunjung dapat melihat langsung aktivitas warga memanen cabai, padi hingga mengolah nira menjadi gula aren.
Gula Aren Bunikasih Jadi Produk Andalan
Salah satu aktivitas menarik di kampung ini adalah proses pembuatan gula aren secara tradisional.
Nira dari pohon aren direbus hingga mengental, kemudian masuk ke tahap pencetakan. Warga menyebut gula aren Bunikasih memiliki aroma khas karena dibuat dari nira aren tanpa campuran bahan lain.
Produk tersebut kemudian dijual ke pasar atau diambil pengepul secara berkala untuk dipasarkan ke luar kampung.
Bunikasih juga pernah mendapat bantuan peralatan untuk mengembangkan produksi gula semut. Namun, fasilitas tersebut kini tidak beroperasi karena mengalami kerusakan pada sejumlah peralatan.
Akibatnya, sebagian warga kembali memproduksi gula aren dalam bentuk tradisional.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pengembangan ekonomi masyarakat Bunikasih.
Punya 18 Curug, Tapi Wisatawan Mulai Sepi
Potensi wisata alam Bunikasih juga tak kalah menarik.
Sedikitnya terdapat 18 curug yang tercatat di kawasan tersebut, meski baru sebagian yang dibuka dan dikembangkan untuk wisatawan.
Salah satunya adalah Curug Cipanggulaan, yang sebelumnya sempat ramai dikunjungi wisatawan untuk menikmati pemandian alami maupun berkemah.
Sayangnya, aktivitas wisata kini jauh menurun.
Jalur menuju sejumlah lokasi wisata mulai terbengkalai dan kondisi akses yang sulit membuat wisatawan semakin jarang datang. Bahkan, aktivitas camping yang sebelumnya sempat berkembang kini hampir tidak terlihat.
Padahal, kejernihan air dan suasana alami menjadi daya tarik tersendiri.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi wisata Bunikasih sebenarnya cukup besar, tetapi aksesibilitas menjadi salah satu tantangan utama.
Pernah Terang dengan Tenaga Air
Ada pula cerita menarik mengenai perjalanan listrik di kampung ini.
Sebelum jaringan listrik masuk, masyarakat Bunikasih pernah memanfaatkan tenaga air melalui sebuah turbin untuk menghasilkan listrik.
Turbin tersebut berada cukup jauh dari permukiman dan untuk mencapainya pengunjung harus melewati kawasan hutan dengan medan yang menanjak dan menurun.
Setelah listrik masuk ke permukiman sekitar tahun 2005, turbin tersebut akhirnya tidak lagi digunakan secara rutin.
Kini, fasilitas itu lebih banyak menjadi saksi perjalanan masyarakat Bunikasih dari masa ketika malam hanya diterangi lampu minyak dan senter hingga hadirnya listrik dan jaringan komunikasi.
Jalan Jadi Harapan Warga
Bagi masyarakat Bunikasih, persoalan utama yang diharapkan mendapat perhatian adalah akses jalan.
Mereka menilai perbaikan infrastruktur bukan hanya akan mempermudah mobilitas warga, tetapi juga bisa membuka kembali peluang ekonomi dari sektor wisata.
Jika akses semakin baik, wisatawan akan lebih mudah datang. Kehadiran wisatawan juga berpotensi menggerakkan warung, usaha warga, parkir, produk pertanian hingga kerajinan dan hasil perkebunan lokal.
Bunikasih pada akhirnya bukan sekadar kampung terpencil di tengah hutan.
Di tempat ini, alam, pertanian, budaya dan perjuangan masyarakat untuk bertahan hidup berpadu menjadi sebuah cerita.
Sebuah potensi ekowisata yang pernah ramai, kemudian meredup karena persoalan akses, kini masih menunggu kesempatan untuk kembali dikenal.
Bunikasih adalah gambaran bahwa di balik jalan yang sulit dan lokasi yang jauh dari pusat kota, Subang masih menyimpan banyak tempat yang belum sepenuhnya dikenal
