Kawasan Rebana Jawa Barat, 7 Daerah Masuk Koridor Ekonomi Baru

PASUNDANEKSPRES.ID - Peta pembangunan Jawa Barat tidak hanya berpusat di Bandung dan kawasan sekitarnya saja. Bagian utada hingga timur provinsi ini juga tengah disiapkan sebagai pusat kegiatan ekonomi baru melalui Kawasan Rebana Jawa Barat.
Namanya berasal dari tiga titik utama, yakni Cirebon, Patimban, dan Kertajati. Ketiganya menjadi bagian penting dalam rancangan kawasan yang menghubungkan kegiatan industri, perdagangan, logistik, transportasi hingga pertanian.
Kawasan ini tidak berada di satu kabupaten saja. Wilayah Rebana mencakup tujuh kabupaten/kota yang memiliki karakter ekonomi berbeda, tetapi diarahkan untuk saling terhubung melalui jaringan infrastruktur dan kegiatan usaha.
Kawasan Rebana Jawa Barat
Mengutip dari akun Instagram resmi @kawasanrebana, Kawasan Rebana Jawa Barat meliputi:
- Kabupaten Subang
- Kabupaten Indramayu
- Kabupaten Sumedang
- Kabupaten Majalengka
- Kabupaten Cirebon
- Kota Cirebon
- Kabupaten Kuningan
Subang memiliki posisi penting karena menjadi lokasi Pelabuhan Patimban sekaligus kawasan industri.
Majalengka memiliki Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan dan jasa, sementara Indramayu memiliki basis pertanian dan energi.
Sumedang terhubung melalui jaringan transportasi menuju kawasan timur Jabar.
Kuningan mempunyai potensi pertanian dan pariwisata yang dapat menjadi bagian dari kegiatan ekonomi kawasan.
Konsep tersebut membuat Rebana tidak hanya diarahkan untuk menjadi kawasan pabrik. Setiap daerah memiliki peran yang dapat saling melengkapi.
1. Infrastruktur Jadi Penghubung Utama
Salah satu fondasi pengembangan Rebana adalah konektivitas. Kawasan ini sudah terhubung oleh Jalan Tol Trans Jawa, Tol Cipali, Tol Cisumdawu, jalur kereta api ganda, serta terminal barang dan penumpang.
Tiga simpul utama juga berada di dalam kawasan, yaitu:
- Pelabuhan Patimban di Subang untuk mendukung kegiatan logistik dan perdagangan.
- BIJB Kertajati di Majalengka sebagai simpul transportasi udara.
- Pelabuhan Cirebon yang mendukung aktivitas perdagangan dan distribusi.
Fasilitas pendukung lain juga tersedia, seperti bendungan, pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik tenaga air, kilang minyak Balongan dan tempat pengolahan sampah akhir.
Rangkaian infrastruktur tersebut disiapkan untuk menopang aktivitas kawasan ketika kegiatan industri dan investasi berkembang lebih besar.
2. Industri, Investasi, dan Target 2030
Pengembangan industri menjadi salah satu bagian utama Kawasan Rebana Jawa Barat. Sebanyak 13 Kawasan Peruntukan Industri (KPI) dirancang untuk menampung berbagai kegiatan usaha.
Sektor yang dibidik mencakup manufaktur, otomotif, elektronika, logistik hingga agribisnis. Keberadaan industri diharapkan menciptakan rantai usaha baru, termasuk kebutuhan terhadap transportasi, pergudangan, jasa, makanan, hunian dan pemasok bahan baku.
Skala pengembangannya juga cukup besar. Berdasarkan Perpres Nomor 87 Tahun 2021, terdapat 81 proyek yang masuk dalam agenda pembangunan Kawasan Rebana.
Pemerintah memproyeksikan kawasan ini mampu mendorong perekonomian hingga 7,16 persen pada 2030, membuka peluang sekitar 4,39 juta lapangan pekerjaan, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui investasi hingga 7,77 persen.
Target tersebut tentu membutuhkan realisasi pembangunan secara bertahap. Infrastruktur perlu berjalan beriringan, sementara kebutuhan tenaga kerja harus dipersiapkan sejak awal.
3. Helmy Yahya Ditunjuk Kelola Kawasan Rebana
Pengelolaan kawasan juga mengalami perkembangan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menunjuk Helmy Yahya sebagai Kepala Pelaksana Badan Pengelola Kawasan Rebana.
Badan pengelola tersebut bertugas membantu koordinasi pembangunan kawasan yang melibatkan tujuh kabupaten/kota. Posisi ini penting karena pembangunan Rebana tidak bisa dikerjakan oleh satu pemerintah daerah saja.
Pengembangan industri di Subang, misalnya, memiliki hubungan langsung terhadap kebutuhan transportasi dan logistik. Begitu pula perkembangan Kertajati yang berkaitan dengan akses dari wilayah lain.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Bagi warga di sekitar kawasan, perkembangan Rebana dapat membuka peluang pekerjaan dan usaha baru.
Ketika industri tumbuh, kebutuhan terhadap tenaga kerja ikut meningkat. Usaha lokal juga berpotensi mendapat pasar baru dari pekerja dan perusahaan yang beroperasi di kawasan.
Peluang tersebut mencakup sektor makanan, transportasi, jasa, perdagangan, tempat tinggal hingga usaha yang memasok kebutuhan industri.
Namun, pertumbuhan kawasan juga membutuhkan persiapan. Ketersediaan air, listrik, hunian, transportasi dan pengelolaan lingkungan harus mengikuti perkembangan jumlah industri dan penduduk.
Kualitas tenaga kerja menjadi bagian lain yang tidak kalah penting. Pelatihan dan pendidikan vokasi perlu disesuaikan agar masyarakat lokal memiliki keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.
(pm)
