Keracunan MBG di Cisarua Bogor, Jumlah Siswa Terdampak Bertambah Jadi 103 Orang

PASUNDAN EKSPRES.ID — Jumlah siswa yang mengalami gejala diduga keracunan MBG di SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mencapai 103 orang pada Rabu, 21 Oktober 2026. Para siswa mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua setelah mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan laporan terbaru yang dihimpun hingga Kamis, 22 Oktober 2026, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah mengambil sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi para siswa untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bogor.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan pemerintah daerah memprioritaskan penanganan medis terhadap para siswa yang mengalami keluhan kesehatan. Pemkab Bogor juga memastikan biaya pengobatan para siswa ditanggung pemerintah daerah.
“Kami memastikan bahwa siswa-siswi mendapatkan penanganan medis yang terbaik, yang tercepat dan tentunya semua biaya pengobatan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Bogor,” kata Rudy kepada wartawan, Rabu, 21 Oktober 2026, sebagaimana diberitakan detikNews.
Jumlah Siswa Yang Keracunan MBG Mencapai 103 Orang
Peristiwa dugaan keracunan MBG tersebut terjadi di SMPN 2 Cisarua, Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Jumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan bertambah seiring proses pendataan dan penanganan di rumah sakit.
Laporan Disway Malang pada Rabu, 21 Oktober 2026, menyebut jumlah siswa terdampak meningkat dari 92 menjadi 103 orang. Para siswa yang mengalami gejala berasal dari kelas VII dan VIII.
Gejala yang dilaporkan antara lain pusing, mual, dan sakit perut. Para siswa kemudian mendapatkan pemeriksaan serta observasi dari tenaga kesehatan di RSPG Cisarua.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, menjelaskan bahwa petugas mengambil sampel makanan yang tersedia sebagai bank sampel untuk kepentingan pemeriksaan laboratorium.
“Sampel makanan yang dimakan semua, dari yang tersedia di bank sampel, itu dibawa untuk diperiksa,” kata Fusia, dikutip ANTARA.
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa terdiri atas nasi, telur, sayuran berupa wortel dan jagung, serta susu ultra high temperature (UHT).
Menurut Fusia, berdasarkan keterangan yang dihimpun dari para siswa, keluhan kesehatan mulai dirasakan kurang dari 30 menit setelah mereka mengonsumsi makanan.
“Kalau anak-anak bilang, dari dia makan itu sekitar kurang dari 30 menit, mereka sudah merasakan itu,” ujarnya.
Meski gejala muncul setelah siswa menyantap menu MBG, pihak Dinas Kesehatan belum memastikan komponen makanan atau minuman yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Susu MBG Diduga Berkaitan dengan Gejala Siswa
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor, Haidir, menyampaikan dugaan awal mengenai susu yang dikonsumsi para siswa. Pernyataan tersebut muncul setelah banyak siswa dilaporkan mengalami gejala setelah meminum susu dalam paket MBG.
“Dugaan awal sementara karena susu. Mereka mengalami gejala setelah minum susu itu,” kata Haidir kepada wartawan, Rabu, 21 Oktober 2026.
Haidir menegaskan bahwa operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan makanan tersebut dihentikan sementara selama 20 hari untuk evaluasi dan menunggu hasil pemeriksaan Labkesda.
“Untuk 20 hari ke depan sambil dievaluasi dan menunggu hasil dari Labkesda, nanti mulai per hari ini sampai 20 hari ke depan dapurnya tidak akan beroperasional, suspend kategori sedang dalam 20 hari,” ujarnya.
Menurut Haidir, jumlah penerima manfaat MBG di sekolah tersebut mencapai 881 siswa. Dari jumlah itu, 103 siswa dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG.
Dugaan mengenai susu tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, penyebab kejadian belum dapat dipastikan hanya berdasarkan urutan waktu munculnya gejala.
Dinkes Bogor Menunggu Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan sampel menjadi bagian penting dalam penanganan dugaan keracunan MBG di Cisarua. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor memeriksa sampel makanan dan minuman untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi yang dapat menjelaskan keluhan para siswa.
Fusia Meidiawaty mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan paling cepat dapat diketahui dalam waktu 3 x 24 jam. Namun, waktu tersebut bergantung pada proses pengujian yang dilakukan Labkesda.
Dengan demikian, hingga batas informasi yang ditemukan pada 22 Oktober 2026, belum ada hasil laboratorium yang dapat dijadikan dasar untuk memastikan penyebab kejadian.
Bupati Bogor Rudy Susmanto juga menegaskan bahwa pemerintah daerah akan menunggu hasil pemeriksaan sebelum menentukan langkah lanjutan.
“Nanti hasil uji laboratoriumnya keluar, kami baru bisa menyimpulkan apakah ini betul keracunan makanan atau keracunan minuman,” kata Rudy, sebagaimana dikutip ANTARA.
Rudy menjelaskan bahwa apabila hasil pemeriksaan menemukan indikasi tertentu, Pemkab Bogor akan menyampaikan rekomendasi kepada SPPG dan Badan Gizi Nasional (BGN) sesuai kewenangan masing-masing. Sementara itu, pemerintah daerah memprioritaskan pelayanan kesehatan bagi para siswa yang terdampak.
Sebagian Besar Siswa dalam Kondisi Stabil
Penanganan medis terhadap 103 siswa terus dilakukan di RSPG Cisarua. Menurut keterangan Fusia Meidiawaty yang diberitakan Radar Bogor pada 21 Oktober 2026, sebagian besar siswa diperkirakan dapat dipulangkan secara bertahap setelah menjalani observasi.
Dari 103 siswa yang mendapatkan penanganan medis, satu siswa dilaporkan memerlukan rawat inap. Siswa lainnya menjalani pemeriksaan sesuai dengan gejala yang dialami, termasuk keluhan mual, sakit perut, dan kemungkinan dehidrasi.
Pemkab Bogor memastikan biaya pengobatan para siswa ditanggung pemerintah daerah. Sementara itu, pihak KPPG mengambil langkah penghentian sementara operasional dapur penyedia MBG untuk evaluasi.
