Lagu Bupati Purwakarta Jadi Sorotan, Atalia Praratya Kritik Lirik yang Dinilai Merendahkan Perempuan

PASUNDANEKSPRES - Anggota DPR RI, Atalia Praratya, menyampaikan keprihatinannya atas beredarnya lagu Bupati Purwakarta berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejat. Lagu berbahasa Sunda tersebut menuai kontroversi karena liriknya dinilai mengandung narasi yang merendahkan perempuan.
Lagu tersebut diduga merupakan karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein. Namun, dalam unggahan yang dibagikan Atalia di media sosial, pencipta lagu tersebut dituliskan dengan nama Om Zein.
Pernyataan Atalia pun menjadi perhatian publik dan memicu diskusi mengenai isi lirik lagu serta pesan yang disampaikan.
Alasan Atalia Praratya Mengkritik Lagu Bupati Purwakarta
Menurut Atalia, lagu tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan mencerminkan cara pandang yang dianggap tidak sejalan dengan nilai penghormatan terhadap perempuan.
Ia menilai lirik dalam lagu Bupati Purwakarta tersebut sangat tidak pantas dan berpotensi memperkuat stereotip yang merugikan perempuan.
"Jujur saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia melalui akun Instagramnya, Rabu (1/7/2026).
Atalia juga mempertanyakan alasan pemilihan narasi tersebut, padahal menurutnya Bahasa Sunda memiliki banyak kosakata yang indah dan sarat nilai kehidupan.
"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah, dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan, mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?"
Atalia Sebut Tidak Mencerminkan Nilai Budaya Sunda
Dalam pernyataannya, Atalia menegaskan bahwa budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi.
Ia menilai budaya Sunda tidak pernah mengajarkan masyarakat untuk menjadikan kondisi biologis perempuan sebagai bahan candaan.
"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan."
Soroti Isu Patriarki dalam Lagu Bupati Purwakarta
Atalia juga menyinggung upaya berbagai pihak dalam melawan budaya patriarki yang dinilai merendahkan perempuan.
Menurutnya, akan menjadi ironi apabila narasi yang dianggap patriarkal justru muncul dari karya seorang kepala daerah.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?"
Penggalan Lirik Lagu Bupati Purwakarta yang Viral
Berikut penggalan lirik lagu Bupati Purwakarta berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejat yang ramai diperbincangkan di media sosial:
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Cacak mun jadi awewe
Es-em-pe kelas tilu
Tos karuron tujuh kali
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu meuli kutang
Nu busana leuwih gede batan susu
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Alatan telat bulan
Nuhun Gusti
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Sakalina ngiceup hese beunta
Lalaki langit
Lalanang bejat
Belum Ada Tanggapan Resmi dari Bupati Purwakarta
Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein terkait kritik yang disampaikan Atalia Praratya maupun polemik lagu Bupati Purwakarta tersebut.
Sementara itu, sejumlah warganet memberikan dukungan kepada Atalia karena dinilai telah menyuarakan isu yang berkaitan dengan penghormatan terhadap perempuan.
Beberapa komentar yang muncul di media sosial antara lain:
"Astagfirullah, Ya Allah parah banget itu."
"Lebih miris lagi, enggak ada teguran atau apa dari KDM."
"Nuhun teteh sudah speak up soal ini, saya sebagai wargi Purwakarta malu pisan."
Kontroversi lagu Bupati Purwakarta ini pun masih menjadi perbincangan publik dan memunculkan beragam pendapat mengenai batas kebebasan berkarya, nilai budaya Sunda, serta penghormatan terhadap perempuan.
