Penampakan Gerbang Gedung Sate Bandung yang Disebut Mirip Kerajaan, Ini Penjelasan Pemprov Jabar

PASUNDANEKSPRES.ID - Penampakan gerbang baru di kawasan Gedung Sate, Kota Bandung, sempat menjadi perhatian publik karena desainnya dinilai menyerupai gerbang kerajaan atau bangunan candi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun memberikan penjelasan mengenai konsep arsitektur yang digunakan pada gerbang tersebut.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat, Adi Komar, menjelaskan bahwa desain gerbang tersebut mengadopsi konsep Candi Bentar yang sebelumnya sudah terdapat di halaman kompleks Gedung Sate.
Dalam keterangannya pada Kamis (3/9/2026), Adi mengatakan perbedaan utama antara desain sebelumnya dan gerbang yang baru terletak pada ukuran bangunannya. Dimensi gerbang diperbesar untuk menyesuaikan dengan perubahan tata ruang kawasan setelah revitalisasi.
“Untuk desain dan konsep, sebetulnya ini sama dengan Candi Bentar yang di halaman Gedung Sate tampilannya. Sama aja, cuma dimensinya aja lebih besar. Karena mengikuti desain jalannya yang lebih besar,” kata Adi, dikutip dari Koran Mandala.
Mengapa Gerbang Gedung Sate Menggunakan Konsep Candi Bentar?
Menurut Adi, pemilihan konsep Candi Bentar berkaitan dengan upaya menghadirkan unsur kearifan lokal dalam penataan kawasan Gedung Sate.
Ia menjelaskan bahwa bentuk Candi Bentar tidak hanya ditemukan di kawasan tersebut, tetapi juga digunakan di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Cirebon.
Penggunaan elemen arsitektur tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan identitas dan kekhasan daerah dalam wajah baru kawasan Gedung Sate.
“Nah, kenapa Candi Bentar? Ya itu juga bagian dari desain-desain, konsep kearifan kedaerahan,” ujar Adi.
Konsep tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan yang menggabungkan berbagai elemen arsitektur dan identitas lokal. Namun, desain gerbang tetap memunculkan beragam penilaian dari masyarakat.
Pemprov Jabar Persilakan Masyarakat Memberikan Penilaian
Adi menilai perbedaan pendapat mengenai desain baru Gedung Sate merupakan hal yang wajar. Ia mempersilakan masyarakat menyampaikan pandangan, termasuk melalui media sosial.
Menurutnya, penataan kawasan tersebut juga memperoleh apresiasi dari sebagian masyarakat, meskipun terdapat kritik terhadap bentuk gerbang yang dianggap terlalu menyerupai bangunan kerajaan atau candi.
Adi juga menjelaskan bahwa sebuah kawasan tidak harus menggunakan satu gaya arsitektur secara keseluruhan. Menurutnya, perpaduan karakter arsitektur dapat menjadi bagian dari identitas suatu tempat.
Penjelasan tersebut disampaikan di tengah perhatian publik terhadap perubahan tampilan kawasan Gedung Sate setelah proses revitalisasi.
Penataan Gedung Sate dan Gasibu
Perubahan gerbang merupakan bagian dari penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu yang dirancang menjadi ruang yang saling terhubung.
Pada Agustus 2026, pelataran Gedung Sate diperkenalkan dengan nama Pasanggrahan Pancarasa. Kawasan tersebut dibuka untuk masyarakat dan terhubung dengan Lapangan Gasibu.
Penataan ini membuat kawasan di sekitar pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat memiliki tampilan berbeda dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, desain gerbang dan penataan kawasan tetap memunculkan diskusi mengenai kesesuaian unsur arsitektur baru dengan karakter historis Gedung Sate.
Penjelasan Pemprov Jabar mengenai konsep Candi Bentar memberikan konteks bahwa desain tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan unsur kearifan lokal. Sementara itu, penilaian mengenai tampilan akhirnya tetap beragam di tengah masyarakat.
