Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!

K
Khoirul AnsoriEditor: Dobi Maulana
|10:15 WIB
Bagikan:
Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!
Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!

BANDUNG — Kepolisian Daerah Jawa Barat membongkar fasilitas produksi obat keras ilegal skala raksasa di kawasan Pergudangan Bizpark, Kopo, Kota Bandung. Lokasi yang difungsikan sebagai pabrik tramadol dan heximer ilegal ini diperkirakan memiliki kapasitas produksi hingga 8 juta butir obat setiap harinya.

Pengungkapan kasus bermula dari aksi pencegatan yang dilakukan aparat kepolisian di Rest Area Kilometer 125 Tol Purbaleunyi, Bandung, pada Jumat, 16 Oktober 2026 sekitar pukul 18.00 WIB.

Dalam penangkapan di jalan tol tersebut, petugas menghentikan satu kendaraan dan menyita barang bukti berupa 600 ribu butir obat Hexymer siap edar yang rencananya akan dikirim menuju Jakarta.

Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Hengki menjelaskan, penangkapan di jalan tol tersebut menjadi pintu masuk utama bagi jajaran penyidik untuk membongkar jaringan produksi terlarang di wilayah Bandung.

"Awal mulanya mengamankan satu orang tersangka pada hari Jumat di kilometer 125 Purbaleunyi dengan barang bukti 600 ribu butir Hexymer siap edar. Barang bukti tersebut hendak dibawa menuju Jakarta," kata Irjen Pol Hengki di Bandung.

Penggerebekan Tiga Gudang di Kawasan Kopo

Berbekal keterangan dari tersangka pertama, tim Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Barat langsung bergerak melakukan pengembangan ke kawasan pergudangan di daerah Kopo.

Petugas mendapati tiga lokasi ruko berdekatan yang disulap menjadi tempat peracikan, pencetakan, sekaligus penyimpan bahan baku obat ilegal. Penggerebekan berlangsung sejak Sabtu, 17 Oktober 2026 hingga Minggu, 18 Oktober 2026.

Dari hasil penggeledahan di tiga ruko tersebut, polisi mengamankan empat orang tersangka tambahan.

Total tersangka yang ditangkap dalam rangkaian penindakan ini berjumlah lima orang, masing-masing berinisial P, R, MF, F, serta satu kurir yang diamankan di jalan tol.

Irjen Pol Hengki memaparkan bahwa kelima tersangka memiliki pembagian tugas yang rapi untuk menjalankan operasional peredaran obat keras tanpa izin tersebut:

  • Satu orang bertindak sebagai pembeli bahan baku dan pemodal pendukung.
  • Dua orang bertugas sebagai peracik dan operator mesin pencetak obat.
  • Dua orang bertindak sebagai pengantar lapangan serta koordinator pengiriman barang sesuai pesanan.

"Peran mereka berbeda-beda. Ada yang bertindak sebagai pembeli, peracik, hingga pengantar atau koordinator pengiriman barang sesuai pesanan," kata Hengki.

Sitaan Mesin Cetak Raksasa dan Bahan Baku 256 Juta Butir

Di dalam fasilitas pabrik tramadol dan heximer ilegal Kopo, petugas menyita berbagai sarana produksi berkapasitas industri.

Barang bukti yang diamankan meliputi mesin pencetak obat berukuran besar, mesin pemanas, puluhan drum berisi berton-ton bahan baku kimia, puluhan unit telepon seluler, laptop penampung data transaksi, serta sejumlah buku rekening bank.

Berdasarkan analisis terhadap peralatan mesin yang ditemukan di lokasi kejadian, fasilitas ini mampu memproduksi obat keras dalam jumlah sangat masif setiap harinya.

"Kalau melihat alat-alat yang ada, pabrik ini bisa mencetak sampai 8 juta butir per hari. Distribusinya tidak hanya di wilayah Jawa Barat saja, tetapi juga mengincar pasar luar daerah seperti Jakarta," tutur Hengki.

Pihak kepolisian mengalkulasi bahwa pasokan berton-ton bahan baku yang tersimpan di dalam puluhan drum tersebut berpotensi diolah menjadi hingga 256 juta butir obat siap edar.

Angka tersebut menunjukkan besarnya jangkauan operasional jaringan pembuat obat terlarang ini dalam menyasar konsumen lintas provinsi.

Pendalaman Jaringan dan Jalur Distribusi

Hingga saat ini, penyidik Polda Jawa Barat masih terus menginterogasi para tersangka dan memeriksa barang bukti elektronik guna membongkar pemodal utama serta rantai pasokan bahan kimia yang digunakan.

Polisi juga melacak alur distribusi keuangan yang tercatat di dalam laptop maupun rekening yang telah disita.

Irjen Pol Hengki menegaskan bahwa kepolisian tidak akan berhenti pada lima tersangka yang telah ditangkap di lapangan, melainkan terus mengejar pihak-pihak lain yang terlibat dalam rantai bisnis terlarang ini.

"Kami masih mendalami keterlibatan masing-masing tersangka dalam jaringan produksi dan distribusi obat keras ilegal tersebut," kata Hengki.

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Sambut Sekjen PBB Antonio Guterres di Hambalang, Bahas Isu Ini

Presiden Prabowo Sambut Sekjen PBB Antonio Guterres di Hambalang, Bahas Isu Ini

Nasional10 menit lalu
Ditemukan Lahan Bekas Karhutla di Dharmasraya Ditanami Sawit, Polisi Turun Tangan

Ditemukan Lahan Bekas Karhutla di Dharmasraya Ditanami Sawit, Polisi Turun Tangan

Nasional1 jam lalu
Singapura Bongkar 7 Perusahaan Diduga Terlibat Karhutla, Tiga Pemasok APP

Singapura Bongkar 7 Perusahaan Diduga Terlibat Karhutla, Tiga Pemasok APP

Nasional1 jam lalu
Sumpah Pemuda dengan Konteks Kekinian (Versi Modern)

Sumpah Pemuda dengan Konteks Kekinian (Versi Modern)

Opini1 jam lalu
ADVERTISEMENT
Demonstrasi Ekonomi di Lima Negara Eropa Berujung Kerusuhan, Biaya Hidup Mencekik

Demonstrasi Ekonomi di Lima Negara Eropa Berujung Kerusuhan, Biaya Hidup Mencekik

Nasional1 jam lalu
Pojokan 327: Akhir Kritisisme

Pojokan 327: Akhir Kritisisme

Opini1 jam lalu
Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!

Polda Jabar Gruduk Pabrik Tramadol Dan Heximer? Simak Berita Updatenya Disini!

Jawa Barat1 jam lalu
Viral Video Dugaan Penganiayaan Petugas SPPG di Bogor, BGN Turun Tangan

Viral Video Dugaan Penganiayaan Petugas SPPG di Bogor, BGN Turun Tangan

Jawa Barat1 jam lalu
Emak Ruhimah dan Abah Casmita Terima Bantuan Rutilahu TMMD

Emak Ruhimah dan Abah Casmita Terima Bantuan Rutilahu TMMD

Headline1 jam lalu
Survei Terbaru PPI Ungkap Daftar Menteri dengan Kinerja Terburuk di Kabinet Prabowo

Survei Terbaru PPI Ungkap Daftar Menteri dengan Kinerja Terburuk di Kabinet Prabowo

Nasional1 jam lalu