TERAP Festival #3 “Waktu Bersama” Digelar di Bandung, Hadirkan Teater di Ruang Publik

BANDUNG – Jalan Teater Indonesia kembali menggelar TERAP Festival #3 atau Festival Teater Ruang Publik dengan mengusung tema “Waktu Bersama”. Festival tersebut akan berlangsung pada 24–27 September 2026 di sejumlah ruang publik di Kota Bandung.
Gelaran TERAP Festival #3 akan mengambil lokasi di Gedung Indonesia Menggugat, Taman Skateboard, kawasan Braga, serta sejumlah ruang publik lainnya. Beragam kegiatan disiapkan, mulai dari pertunjukan teater, lecture performance, residensi, diskusi, hingga kolaborasi antara seniman dan warga.
Penyelenggaraan festival ini didukung Bakti Budaya Djarum Foundation dan The Japan Foundation, Jakarta.
Tema “Waktu Bersama” berangkat dari kehidupan masyarakat perkotaan yang semakin dipenuhi aktivitas dan tuntutan serba cepat. Pesan harus segera dibalas, pekerjaan dapat mengikuti seseorang melalui layar, sementara aktivitas sehari-hari berjalan dalam jadwal yang terus berubah.
Kondisi tersebut menjadi pijakan TERAP Festival untuk mempertanyakan kembali bagaimana manusia mengalami waktu secara bersama-sama di tengah kehidupan kota.
Direktur TERAP Festival, Sahlan Mujtaba, mengatakan waktu bersama tidak hanya berarti berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Menurutnya, waktu bersama dapat muncul ketika orang-orang dengan latar belakang, ritme, pengalaman, dan kepentingan berbeda bersedia memberikan perhatian terhadap ruang dan persoalan yang sama.
“Bagi kami, waktu bersama bukan sekadar berada di tempat yang sama pada saat yang sama. Ia muncul ketika orang-orang dengan ritme, pengalaman, dan kepentingan yang berbeda bersedia berbagi perhatian terhadap ruang dan persoalan yang sama,” ujar Sahlan Mujtaba.
Melalui teater, kata Sahlan, festival tersebut berupaya menghadirkan jeda dari rutinitas dan kecepatan kehidupan perkotaan.
“Melalui teater, kami ingin menciptakan jeda dari laju keseharian kota: kesempatan untuk berhenti, melihat kembali ruang yang kita hidupi, dan membayangkan apa yang bisa dilakukan bersama di dalamnya,” katanya.
Hadirkan Beragam Karya di Ruang Publik
Sejumlah seniman akan menghadirkan karya yang merespons ruang kota dan kehidupan masyarakat di dalamnya.
Seniman pertunjukan Tara Mecca Luna akan menampilkan “Pengalaman Kerodaan” di Taman Skateboard. Karya tersebut memanfaatkan ruang di bawah Jalan Layang Pasupati yang identik dengan pergerakan kendaraan sebagai ruang pertunjukan.
Melalui skateboard, unicycle, dan berbagai roda lainnya, karya tersebut mengeksplorasi gerak dengan ritme yang berbeda. Gerakan melaju, berputar, jatuh, berhenti, dan mencoba kembali menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan.
Sementara itu, seniman asal Baubau, Chendy Ariswan Latief, menghadirkan “Halaman Belakang Kota”. Karya ini melihat sisi lain Bandung di balik citranya sebagai kota pariwisata.
Karya tersebut menyoroti persoalan yang dihadapi masyarakat kelas pekerja, mulai dari penyempitan ruang hidup, polusi, kondisi sungai, hingga dampak gentrifikasi.
Melalui intervensi ketubuhan di ruang keramaian, “Halaman Belakang Kota” berupaya menciptakan jeda dari ritme kehidupan kota sekaligus mengajak publik melihat persoalan yang kerap luput dari perhatian.
Pertunjukan tersebut juga mengajukan pertanyaan mengenai perkembangan kota: ketika kota terus bergerak maju, siapa yang justru tertinggal di belakang?
Kolaborasi Jepang dan Warga Braga
Kolaborasi internasional turut hadir dalam TERAP Festival #3 melalui Port-B, kolektif asal Jepang yang didirikan Akira Takayama.
Port-B akan mengembangkan program “Sekolah Hip-Hop” bersama musisi hip-hop Bandung dan warga Braga. Program tersebut mengajak peserta mengolah pengalaman sehari-hari dan berbagai fenomena sosial menjadi lirik serta karya yang kemudian dipresentasikan kepada publik.
Presentasi “Sekolah Hip-Hop” dijadwalkan berlangsung pada 26 dan 27 September 2026 di kawasan Braga.
Selain pertunjukan, TERAP Festival #3 juga menghadirkan dua lecture performance yang memperluas pembacaan terhadap tema “Waktu Bersama”.
Irwan Ahmett akan mempersembahkan “Pakta Ledak”, sebuah karya yang mempertemukan tubuh, material, trauma sejarah, kerusakan ekologis, dan kekuatan geologis bumi.
Karya tersebut berangkat dari siklus gunung api dan perpindahan material yang berkaitan dengan sejarah kolonial hingga persoalan ekstraksi, militerisasi, serta perkembangan kecerdasan buatan.
Sementara itu, Joned Suryatmoko menghadirkan “Setelah Site Specific”. Karya ini mengevaluasi kembali praktik teater berbasis ruang serta mempertanyakan apakah praktik site-specific selalu bersifat publik dan bagaimana praktik tersebut membentuk pengalaman kolektif terhadap ruang dan waktu.
Diskusi Ruang Publik
Persoalan ruang kota juga dibahas melalui diskusi bertajuk “Ruang Publik Tanpa Publik: Seni sebagai Siasat Warga Menghuni Kota”.
Diskusi tersebut membahas ruang publik sebagai arena berbagai kepentingan yang memengaruhi bagaimana sebuah kota dibentuk, digunakan, dan dihuni.
Sejumlah pertanyaan menjadi bagian dari pembahasan, termasuk mengenai siapa yang memiliki kuasa atas ruang kota, kelompok masyarakat yang berpotensi tersisih, serta bagaimana seni dapat menjadi strategi warga dalam membaca perubahan dan menyatakan keberadaan mereka di tengah perkembangan kota.
Diskusi tersebut sekaligus memperluas pertanyaan mengenai tema “Waktu Bersama”, yakni bagaimana masyarakat yang memiliki ritme, tempat, dan cara hidup berbeda tetap dapat membangun kesadaran serta tindakan kolektif untuk menciptakan ruang kota yang dapat dihuni bersama.
Jadwal TERAP Festival #3
24 September 2026
15.30 WIB – Gedung Indonesia Menggugat: Lecture Performance “Pakta Ledak” – Irwan Ahmett
25 September 2026
15.30–17.00 WIB – Taman Skateboard: Diskusi “Ruang Publik Tanpa Publik: Seni sebagai Siasat Warga Menghuni Kota” – Zen RS dan Yuramia Oksilasari (narasumber masih dalam konfirmasi)
19.30 WIB – Taman Skateboard: “Pengalaman Kerodaan” – Tara Mecca Luna
26 September 2026
15.30 WIB – Gedung Indonesia Menggugat: Lecture Performance “Setelah Site Specific” – Joned Suryatmoko
19.30 WIB – Kawasan Braga: “Sekolah Hip-Hop” – kolaborasi Port-B, musisi hip-hop, dan warga Braga
27 September 2026
15.30 WIB – Kawasan Braga: “Halaman Belakang Kota” – Chendy Ariswan Latief
19.30 WIB – Kawasan Braga: “Sekolah Hip-Hop” – kolaborasi Port-B, musisi hip-hop, dan warga Braga
