Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat, Bisa Ganggu Mesin hingga Penerbangan

PASUNDANEKSPRES.ID - Bahaya abu vulkanik bagi pesawat. Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.
Material hasil erupsi gunung api dapat terbawa angin hingga jarak yang sangat jauh dan mencapai ketinggian tertentu di atmosfer. Jika sebarannya berada di jalur penerbangan, abu vulkanik dapat membahayakan pesawat karena memiliki karakteristik berbeda dengan abu biasa.
Kondisi tersebut membuat otoritas penerbangan perlu memantau pergerakan abu vulkanik secara ketat. Penutupan sementara sejumlah bandara juga dapat dilakukan apabila sebaran abu berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.
Pada kasus erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026, sebaran abu vulkanik terpantau mencapai wilayah yang cukup luas. BMKG mencatat abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak menuju sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan di sekitarnya.
Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, sebaran abu bergerak menuju wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.
Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?
Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat kecil berupa pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik. Material tersebut memiliki sifat keras dan abrasif sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian pesawat.
Abu vulkanik juga berbeda dari abu hasil pembakaran kayu atau bahan bakar. Partikel yang masuk ke mesin jet dapat mengalami perubahan akibat temperatur yang sangat tinggi di dalam mesin.
Menurut U.S. Geological Survey (USGS), material silikat seperti kaca vulkanik memiliki titik leleh yang lebih rendah dibandingkan temperatur di bagian panas mesin jet modern. Akibatnya, partikel abu yang masuk ke mesin dapat meleleh dan kemudian membeku kembali ketika mencapai bagian mesin yang lebih dingin.
Proses tersebut dapat menghasilkan endapan pada komponen mesin. Jika endapan semakin banyak, aliran udara dan kinerja mesin dapat terganggu.
Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat menyebabkan compressor stall, yaitu kondisi ketika aliran udara pada kompresor mesin terganggu. Pesawat kemudian dapat mengalami penurunan daya dorong dan masalah serius pada performa mesin.
Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat
Berikut ini adalah beberapa bahaya abu vulkanik untuk penerbangan.
1. Mesin Pesawat Bisa Kehilangan Tenaga
Mesin menjadi salah satu bagian pesawat yang paling rentan ketika berhadapan dengan awan abu vulkanik.
Ketika pesawat memasuki wilayah yang mengandung abu, partikel tersebut dapat tersedot melalui saluran masuk udara mesin. Abu kemudian melewati bagian kompresor dan masuk ke area mesin dengan temperatur sangat tinggi.
Sebagian material dapat meleleh dan menempel pada komponen turbin. Endapan tersebut dapat mengubah aliran udara dan mengurangi efisiensi mesin.
Jika kondisi semakin parah, mesin dapat kehilangan tenaga atau mengalami flameout. Situasi ini sangat berbahaya, terutama jika abu vulkanik berada dalam konsentrasi tinggi atau pesawat terbang melewati awan abu dalam waktu cukup lama.
Karena itu, pesawat sebisa mungkin tidak diarahkan melewati wilayah yang telah teridentifikasi mengandung abu vulkanik.
2. Kaca Kokpit Bisa Tergores
Bahaya abu vulkanik tidak hanya mengancam mesin. Kaca depan kokpit juga dapat terdampak karena partikel abu bersifat keras dan abrasif.
Ketika pesawat melaju dengan kecepatan tinggi melalui awan abu, partikel vulkanik dapat menghantam permukaan kaca kokpit. Paparan dalam jumlah besar dapat menyebabkan kaca tergores atau menjadi buram.
Kondisi tersebut dapat mengurangi visibilitas pilot. Padahal, pandangan yang jelas sangat penting ketika pesawat melakukan sejumlah tahapan penerbangan, terutama saat lepas landas, pendekatan, dan pendaratan.
3. Dapat Merusak Komponen Pesawat
Partikel abu vulkanik yang abrasif juga dapat menyebabkan keausan pada berbagai permukaan pesawat.
Selain itu, abu dapat masuk dan menempel pada sejumlah komponen serta berpotensi mengganggu sensor atau sistem tertentu yang digunakan pesawat.
Dampak tersebut membuat pesawat yang diduga terpapar abu vulkanik perlu mendapatkan pemeriksaan setelah penerbangan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada kerusakan atau kontaminasi yang dapat memengaruhi keselamatan penerbangan berikutnya.
4. Abu Vulkanik Tidak Selalu Terlihat
Salah satu persoalan dalam menghadapi abu vulkanik adalah keberadaannya tidak selalu dapat dilihat dengan jelas dari kokpit.
Awan abu dapat terlihat samar, terutama ketika kondisi pencahayaan kurang baik. Dalam beberapa situasi, abu bahkan dapat sulit dibedakan dari awan biasa.
Karena itu, pilot tidak hanya mengandalkan pengamatan visual. Informasi mengenai sebaran abu diperoleh dari berbagai sumber, seperti pengamatan satelit, laporan pesawat lain, data meteorologi, dan informasi vulkanologi.
Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan wilayah yang perlu dihindari.
5. Abu Bisa Terbawa Angin hingga Jauh
Abu vulkanik memiliki partikel dengan ukuran yang sangat beragam. Partikel berukuran lebih kecil dapat bertahan di atmosfer dan terbawa angin dalam jarak jauh.
Akibatnya, ancaman terhadap penerbangan tidak hanya terjadi di sekitar gunung api yang sedang erupsi.
Wilayah yang berada ratusan kilometer dari gunung api juga dapat terdampak apabila arah angin membawa abu ke kawasan tersebut. Ketinggian abu juga menjadi faktor penting karena jalur penerbangan berada pada berbagai lapisan atmosfer.
Pada erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya, pemantauan menunjukkan adanya sebaran abu pada beberapa ketinggian dengan arah pergerakan yang berbeda.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemantauan abu vulkanik harus dilakukan secara terus-menerus. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat posisi awan abu berubah dalam waktu relatif singkat.
Itulah mengenai bahaya abu vulkanik bagi pesawat. Bagi kamu yang memiliki jadwal penerbangan ketika aktivitas gunung api meningkat, penting untuk selalu memeriksa informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara.
Kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan keputusan otoritas terkait.
(ipa)
