14 Megathrust Mengepung Indonesia, Ahli Jepang Bongkar Sinyal Gempa Besar yang Harus Dipantau

PASUNDANEKSPRES.ID – Indonesia kembali dihadapkan pada fakta bahwa negeri ini berada di salah satu kawasan tektonik paling aktif di dunia. Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat adanya 14 zona megathrust yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut bertambah dibandingkan peta sumber dan bahaya gempa yang diterbitkan pada 2017. Peta terbaru juga memperlihatkan sejumlah kawasan dengan tingkat bahaya yang lebih tinggi.
Namun, keberadaan 14 megathrust tersebut bukan berarti Indonesia akan segera dilanda gempa besar.
Justru, yang menjadi perhatian para ahli adalah bagaimana energi tektonik terus terakumulasi di sepanjang batas lempeng yang aktif.
Jepang Bongkar Sinyal Gempa Besar
Fenomena tersebut turut menarik perhatian Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, Jepang. Saat menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Desember 2025, Heki membandingkan kondisi sejumlah zona subduksi Indonesia dengan Nankai Trough di Jepang.
Nankai Trough selama bertahun-tahun menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian besar dalam penelitian gempa dan deformasi kerak bumi.
“Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar,” ujar Heki.
Bukan Menebak Kapan Gempa Terjadi
Menurut Heki, persoalan terbesar bukan sekadar mengetahui lokasi sumber gempa, tetapi memahami bagaimana tegangan terus terkumpul di dalam kerak bumi.
Gempa besar sendiri belum dapat diprediksi secara tepat mengenai kapan, di mana, dan seberapa besar kekuatannya.
Karena itu, pemantauan jangka panjang menjadi sangat penting.
Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah Global Navigation Satellite System (GNSS). Teknologi tersebut dapat membantu peneliti mengamati pergerakan permukaan bumi yang sangat kecil.
Pengukuran geodesi dasar laut juga menjadi bagian penting untuk memahami kondisi batas lempeng yang berada di bawah laut.
“Kami melihat adanya kopling antarseismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelas Heki.
Ada Fenomena Slow Slip Event
Hal lain yang menjadi perhatian adalah slow slip event, atau pergeseran lambat pada bidang lempeng.
Berbeda dengan gempa biasa yang melepaskan energi dalam waktu sangat singkat, slow slip event berlangsung secara perlahan.
Fenomena tersebut telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan sejumlah wilayah Jepang lainnya.
Heki menilai fenomena semacam ini perlu terus dipelajari karena dapat memberikan informasi mengenai dinamika lempeng sebelum terjadinya gempa besar.
“Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya,” katanya.
Potensi Magnitudo Mencapai 9 Lebih
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, sejumlah zona megathrust memiliki potensi magnitudo maksimum yang sangat besar.
Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki potensi magnitudo maksimum hingga M9,2.
Kemudian Megathrust Jawa memiliki potensi hingga M9,1.
Sementara itu, zona Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing memiliki potensi magnitudo maksimum hingga sekitar M8,9.
Angka tersebut merupakan potensi maksimum dalam kajian sumber gempa, bukan ramalan bahwa gempa dengan magnitudo tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.
Selat Sunda dan Mentawai-Siberut Jadi Perhatian
BMKG sebelumnya juga menyoroti dua wilayah yang berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Kedua wilayah tersebut memiliki sejarah gempa besar dan telah lama tidak mengalami gempa besar yang melepaskan energi tektonik dalam skala serupa.
Gempa besar yang menjadi rujukan tercatat terjadi pada 1757 di Selat Sunda dan 1797 di Mentawai-Siberut.
Namun, BMKG menegaskan bahwa istilah “menunggu waktu” tidak boleh dimaknai sebagai kepastian bahwa gempa akan segera terjadi.
“Yang dimaksud adalah akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” tulis BMKG.
Teknologi Jadi Senjata Mitigasi
Dengan membentangnya zona subduksi dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku, penguatan sistem pemantauan menjadi bagian penting dari mitigasi bencana Indonesia.
Heki melihat Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan sistem pemantauan seperti yang terus dikembangkan di Jepang.
“Saat ini saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujar Heki.
Pesannya jelas: gempa besar tidak bisa dijadwalkan, tetapi kesiapsiagaan bisa dipersiapkan.
Karena itu, informasi mengenai megathrust seharusnya tidak menjadi alasan untuk panik. Data tersebut justru dapat menjadi dasar untuk memperkuat penelitian, sistem peringatan, tata ruang, bangunan tahan gempa, hingga edukasi masyarakat di wilayah rawan bencana.
