Chef Arnold Kritik Investor MBG, Singgung Pengelola yang Rakus Keuntungan

PASUNDANEKSPRES.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menghadapi sejumlah persoalan dalam pelaksanaannya, mulai dari tata kelola dapur, kualitas makanan, hingga pengawasan anggaran.
Kondisi ini jelas memunculkan kritik terhadap efektivitas program yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak tersebut.
Melalui akun Threads miliknya, Chef Arnold kritik investor MBG yang menurutnya perlu lebih mengutamakan kualitas makanan dan kepentingan penerima manfaat daripada sekadar mengejar keuntungan bisnis.
Ia menilai, skema MBG belum matang ketika diterapkan secara masif, sehingga memunculkan berbagai masalah, seperti keterbatasan peralatan dapur, kesiapan sumber daya manusia, lemahnya pengawasan, hingga bahan pangan yang terbuang menjadi sampah.
Chef Arnold mengaku mendukung gagasan utama MBG. Namun, dukungan terhadap tujuan program tidak membuatnya menerima begitu saja pelaksanaan yang dinilai jauh dari perencanaan.
Ia bahkan menyebut telah berkali-kali menyampaikan masukan langsung kepada Badan Gizi Nasional (BGN), tanpa meminta bayaran.
"Betul saya support MBG, tapi sayangnya realita banyak yang lebih rakus lebih dari orang orang kelaparan dan lebih dari anak anak yang membutuhkan gizi." tulisnya.
Chef Arnold Kritik Investor MBG
Chef Arnold pun menilai sebagian pengelola dapur justru menjadikan program tersebut sebagai ladang bisnis.
Menurutnya, ada pihak yang lebih memikirkan keuntungan dan pengembalian modal daripada memastikan makanan yang diproduksi memenuhi standar serta benar-benar dikonsumsi anak-anak.
Salah satu persoalan yang paling disesalkan adalah tingginya makanan terbuang atau *food waste*. Ia meminta BGN membuka data secara transparan mengenai jumlah makanan yang benar-benar dikonsumsi penerima manfaat dan berapa banyak yang berakhir sebagai sampah.
"Mohon maaf...coba kalo data WASTE dibuka dengan real. berapa % yang dikonsumsi dan berapa % yang jadi WASTE." tulis Chef Arnold.
Ia mengaku menemukan sendiri bahan makanan segar yang justru terbuang saat berkeliling ke lapangan. Kondisi tersebut dianggap sebagai pemborosan uang pajak, terlebih anggaran MBG seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.
Chef Arnold juga menyinggung dugaan keuntungan yang bisa diperoleh investor dapur. Menurut perkiraannya, modal pembangunan dapur MBG dapat kembali dalam waktu sekitar satu tahun.
Setelah itu, pengelola berpotensi memperoleh keuntungan. Ia membandingkannya dengan bisnis makanan dan minuman pada umumnya yang belum tentu bisa balik modal dalam waktu 1,5 tahun.
Masalah lainnya berkaitan dengan tenaga kerja. Perekrutan dalam jumlah besar tidak otomatis menghasilkan dapur berkualitas apabila pekerjanya tidak memiliki keterampilan sesuai kebutuhan, pelatihan memadai, serta pembagian tugas yang jelas.
Ia menggambarkan pekerja yang harus mengolah bahan makanan hingga ratusan kilogram menggunakan peralatan minim dan beban operasional berat.
Permintaan Pembenahan Besar-besaran Program MBG
Chef Arnold menilai pembenahan MBG tidak cukup dilakukan melalui pengadaan teknologi atau fasilitas tambahan.
Ia meminta pemerintah memperbaiki kebutuhan dasar dapur, standar operasional prosedur (SOP), peralatan, pelatihan, dan sistem pengawasan.
Bahkan, ia menyebut sekitar 70 persen dapur yang ada perlu ditutup sementara untuk dibenahi. Namun, langkah tersebut dinilai sulit dilakukan karena sudah banyak pihak ketiga yang terlibat dalam skema bisnis program.
Ia juga mengusulkan agar pengelolaan MBG lebih banyak dikendalikan pemerintah atau government centralized.
"itu skema 15rb bisa untuk makanan bergizi kalau caranya bener dan govt centralized." tulisnya.
Menurutnya, sistem tersebut dapat mempermudah pengawasan produksi, pengendalian harga bahan pangan, standardisasi pelatihan, hingga pemerataan kualitas makanan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kritik ini bukan kali pertama disampaikan. Pada Juni 2026, Chef Arnold mengundurkan diri dari tim penyusunan petunjuk teknis (juknis) MBG. Ia memperkirakan pembenahan program agar benar-benar berjalan sesuai standar membutuhkan waktu sekitar tiga tahun dalam kondisi paling cepat.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG masih membutuhkan pembenahan serius. Chef Arnold kritik investor MBG karena tidak ingin tujuan pemberian makanan bergizi justru dikalahkan kepentingan bisnis.
Sebab, anggaran yang digunakan berasal dari uang pajak, sedangkan anak-anak sebagai penerima manfaat seharusnya menjadi prioritas utama.
(pm)
