Impor Mobil CBU Indonesia Anjlok 47,8 Persen, Apa Dampaknya ke Pasar Mobil?

PASUNDANEKPRES.ID - Impor mobil utuh atau Completely Built Up (CBU) ke Indonesia mengalami penurunan tajam sepanjang Januari–Agustus 2026.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, impor mobil CBU selama delapan bulan pertama 2026 hanya mencapai 51.321 unit. Angka tersebut anjlok 47,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 98.232 unit.
Penurunan hampir separuh tersebut sekilas menunjukkan pelemahan permintaan terhadap mobil impor. Namun, jika dibandingkan dengan kinerja pasar otomotif nasional secara keseluruhan, gambarnya ternyata berbeda.
Pasar Mobil Indonesia Justru Tumbuh
Pada periode Januari–Agustus 2026, penjualan mobil secara wholesales mencapai 599.491 unit, meningkat 20,1 persen dibandingkan 499.315 unit pada periode yang sama 2025.
Sementara penjualan retail mencapai 594.984 unit, tumbuh 13,9 persen dari 522.160 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Artinya, penurunan impor CBU tidak otomatis berarti pasar mobil Indonesia sedang menyusut.
Justru terdapat indikasi bahwa pertumbuhan pasar semakin banyak ditopang oleh kendaraan yang diproduksi atau dirakit di dalam negeri.
Toyota Masih Mendominasi Impor
Dari total 51.321 unit mobil CBU yang masuk ke Indonesia hingga Agustus 2026, Toyota menjadi merek dengan volume impor terbesar.
Toyota mencatat impor sebanyak 25.545 unit, atau sekitar 49,8 persen dari total mobil CBU yang masuk ke Indonesia.
Di bawah Toyota terdapat Mitsubishi Motors dengan 3.995 unit dan Suzuki dengan 3.597 unit. Sementara merek China juga mulai terlihat dalam daftar importir terbesar, seperti Denza sebanyak 3.001 unit, VinFast 2.642 unit, GWM 1.501 unit, dan BYD 1.058 unit.
Namun, struktur impor tersebut mulai berubah seiring semakin banyak produsen membangun fasilitas produksi di Indonesia.
BYD Jadi Salah Satu Contohnya
Perubahan paling jelas terlihat pada BYD. Produsen kendaraan listrik asal China tersebut sebelumnya mengandalkan kendaraan impor dari China untuk memenuhi pasar Indonesia.
Namun, setelah fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat, mulai beroperasi pada September 2026, perusahaan menyatakan tidak lagi mengandalkan impor CBU untuk pasokan baru.
BYD memiliki fasilitas produksi di Subang dengan kapasitas hingga 150.000 kendaraan per tahun. Total investasi BYD di Indonesia, termasuk fasilitas produksi, distribution center, logistik, dan infrastruktur pendukung, mencapai sekitar Rp16 triliun.
Perubahan tersebut juga terlihat pada data produksi. Hingga Agustus 2026, BYD telah mencatat produksi domestik sebanyak 24.877 unit, sehingga masuk 10 besar produsen kendaraan berdasarkan volume produksi di Indonesia.
Dengan demikian, penurunan impor BYD tidak bisa begitu saja dibaca sebagai hilangnya minat konsumen terhadap merek tersebut.
Sebagian aktivitas yang sebelumnya tercatat sebagai impor mobil utuh kini mulai bergeser menjadi aktivitas manufaktur di dalam negeri.
Merek China Mulai Masuk ke Struktur Produksi Nasional
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada BYD.
Jaecoo juga mencatat produksi sebanyak 23.021 unit hingga Agustus 2026. Angka tersebut membuat Jaecoo masuk ke dalam 10 besar produsen kendaraan berdasarkan produksi di Indonesia.
Masuknya BYD dan Jaecoo ke dalam daftar tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam struktur industri otomotif nasional.
Merek Jepang masih mendominasi produksi, dengan Toyota mencatat 353.778 unit hingga Agustus 2026. Mitsubishi Motors berada di posisi kedua dengan 130.025 unit, disusul Daihatsu 100.213 unit dan Suzuki 56.699 unit.
Di sisi lain, produksi Hyundai dan Honda masing-masing turun 26,7 persen dan 34,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Apa Dampaknya bagi Konsumen?
Penurunan impor mobil CBU indonesia dapat membawa beberapa perubahan bagi pasar mobil Indonesia.
Pertama, pilihan kendaraan impor utuh berpotensi semakin terbatas apabila produsen memutuskan memindahkan pasokannya ke produksi lokal.
Kedua, meningkatnya produksi domestik dapat memperkuat jaringan industri otomotif Indonesia. Semakin banyak kendaraan diproduksi di dalam negeri, semakin besar pula kebutuhan terhadap tenaga kerja, komponen, logistik, hingga pemasok lokal.
Ketiga, pergeseran menuju produksi lokal juga dapat membuat strategi harga dan model kendaraan semakin dipengaruhi oleh tingkat kandungan lokal, kapasitas pabrik, serta efisiensi rantai pasok domestik.
Namun, bukan berarti semua mobil impor akan menghilang dari pasar Indonesia.
Sejumlah model yang belum diproduksi di dalam negeri masih dapat masuk melalui skema CBU, sementara kendaraan yang produksinya sudah tersedia di Indonesia dapat semakin mengandalkan fasilitas domestik.
Pasar Mobil Tidak Sedang Mati
Angka impor mobil CBU indonesia yang turun 47,8 persen memang terlihat drastis. Namun, angka tersebut harus dibaca bersama dengan data penjualan dan produksi nasional. Impor turun, tetapi penjualan domestik justru tumbuh.
Wholesales Januari–Agustus 2026 mencapai 599.491 unit, naik 20,1 persen, sedangkan retail mencapai 594.984 unit, naik 13,9 persen. Pada saat yang sama, produsen seperti BYD dan Jaecoo mulai masuk ke dalam jajaran produsen dengan volume produksi signifikan di Indonesia.
Kondisi tersebut mengarah pada satu perubahan penting: pasar otomotif Indonesia semakin tidak hanya menjadi pasar penjualan mobil, tetapi juga menjadi basis produksi kendaraan.
Bagi konsumen, perubahan ini dapat berarti semakin banyak pilihan kendaraan yang diproduksi di dalam negeri. Bagi industri, pergeseran tersebut berpotensi memperkuat investasi manufaktur dan rantai pasok otomotif nasional.
Karena itu, pertanyaan setelah impor CBU anjlok bukan sekadar “mengapa mobil impor turun?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
seberapa besar penurunan impor tersebut merupakan tanda pergeseran menuju produksi mobil di Indonesia?
