Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Karhutla Indonesia Makin Ganas! Emisi Tertinggi dalam 24 Tahun, Alarm Bencana 2015 Menyala Lagi

R
Rian AlfianEditor: Rian Alfian
|10:25 WIB
Bagikan:
Karhutla Indonesia Makin Ganas! Emisi Tertinggi dalam 24 Tahun, Alarm Bencana 2015 Menyala Lagi
Kebakaran Hutan Kalimantan Sumbang Emisi Aerosol yang Berdampak ke Atmosfer

PASUNDANEKSPRES.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang 2026 semakin mengkhawatirkan. Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus (CAMS) mencatat emisi yang dihasilkan kebakaran pada Januari hingga September tahun ini termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir.

Temuan yang dirilis Badan Uni Eropa untuk Program Antariksa pada Selasa (20/10/2026) tersebut menjadi peringatan serius bagi Indonesia. Tingginya emisi menunjukkan besarnya dampak kebakaran terhadap atmosfer, sekaligus mempertegas ancaman kerusakan lingkungan yang belum sepenuhnya teratasi.

“Emisi dari kebakaran hutan di Indonesia dari Januari hingga September 2026 termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir,” tulis Badan Uni Eropa untuk Program Antariksa.

Situasi ini kembali mengingatkan publik pada bencana karhutla 2015, salah satu periode kebakaran terparah dalam sejarah Indonesia yang meninggalkan dampak luas bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan perekonomian.

Bayang-Bayang Bencana Karhutla 2015

Indonesia pernah menghadapi kebakaran hutan dan lahan dalam skala luar biasa pada 2015. Saat itu, sekitar 2,6 juta hektare lahan diperkirakan terbakar, dengan emisi mencapai sekitar 333 juta ton karbon atau MtC.

Kini, kekhawatiran terhadap terulangnya bencana serupa kembali menguat.

Laporan Carbon Brief pada pertengahan September 2026 menyoroti kemiripan pola karhutla tahun ini dengan kejadian pada 2015. Peneliti Universitas Wageningen, Belanda, Guido van der Werf, bahkan menilai kebakaran 2026 kurang lebih berada di jalur yang sama dengan bencana satu dekade lalu.

Meski demikian, tingkat keparahan akhirnya masih bergantung pada perkembangan kebakaran dan emisi hingga akhir tahun.

Tingginya emisi bukan sekadar persoalan angka. Kebakaran hutan dapat memperburuk kualitas udara, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, merusak habitat satwa, serta mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

El Nino Memperparah, Gambut Jadi Titik Rawan

Fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko karhutla tahun ini. Kondisi yang lebih panas dan kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar, sementara api dapat menyebar lebih cepat dan semakin sulit dikendalikan.

Namun, El Nino bukan satu-satunya penyebab kebakaran.

Nisa Novita dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara menjelaskan bahwa El Nino tidak secara langsung menyebabkan sebagian besar kebakaran. Fenomena tersebut lebih berperan menciptakan kondisi yang memperparah risiko ketika api muncul.

Persoalan lain yang tak kalah serius adalah kerusakan ekosistem gambut.

Pengeringan gambut melalui pembangunan kanal untuk kepentingan pertanian dapat menurunkan permukaan air tanah. Akibatnya, gambut kehilangan kelembapan dan menjadi sangat mudah terbakar, terutama ketika musim kemarau berlangsung.

Kebakaran di kawasan gambut juga sulit ditangani karena api bisa menjalar di bawah permukaan tanah. Bahkan ketika api di permukaan terlihat padam, bara di dalam gambut berpotensi bertahan dan memicu kebakaran kembali.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya mengatasi karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemulihan gambut, pengelolaan air, pengawasan pembukaan lahan, dan pencegahan kebakaran harus dilakukan secara bersamaan.

Greenpeace Soroti Ribuan Titik Api di Area Konsesi

Dugaan keterkaitan aktivitas perusahaan dengan karhutla juga menjadi perhatian organisasi lingkungan Greenpeace.

Dalam siaran pers yang dirilis pada awal Oktober 2026, Greenpeace menyoroti dugaan keterkaitan 20 perusahaan asal Indonesia, Malaysia, dan Singapura dengan fenomena kebakaran tahun ini.

Greenpeace menyebut lebih dari 1.000 titik api yang teridentifikasi selama periode 8 Agustus hingga 20 September 2026 berada di area konsesi perusahaan.

Wilayah tersebut mencakup konsesi pemanfaatan hutan dan perkebunan kelapa sawit.

Temuan ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan kawasan konsesi dan tanggung jawab perusahaan dalam mencegah kebakaran di area operasionalnya.

Meski begitu, keberadaan titik api di area konsesi tidak otomatis membuktikan bahwa pemegang konsesi menjadi penyebab kebakaran. Dugaan keterlibatan perusahaan tetap membutuhkan verifikasi dan penyelidikan lebih lanjut.

Indonesia Dihadapkan pada Peringatan Serius

Tingginya emisi karhutla sepanjang sembilan bulan pertama 2026 menjadi sinyal bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan masih jauh dari selesai.

Jika kerusakan gambut, pembukaan lahan yang tidak terkendali, dan lemahnya pencegahan tidak ditangani secara serius, kebakaran berpotensi terus menimbulkan kerugian lingkungan dan sosial.

Pengalaman 2015 seharusnya menjadi pelajaran penting. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan, perusahaan harus menjalankan kewajiban pencegahan kebakaran, dan pemulihan ekosistem harus menjadi prioritas.

Kini, perhatian tertuju pada perkembangan karhutla hingga akhir tahun. Tingginya emisi yang terpantau Copernicus menjadi alarm bagi Indonesia agar kebakaran 2026 tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Berita Terbaru

Pemerintah Siapkan Rp31,8 Triliun untuk Program Akhir Tahun, Ini Rincian Bantuan dan Diskon Nataru

Pemerintah Siapkan Rp31,8 Triliun untuk Program Akhir Tahun, Ini Rincian Bantuan dan Diskon Nataru

Nasional15 menit lalu
Persija Jakarta Kena Sanksi, The Jakmania Dilarang Away Setengah Musim

Persija Jakarta Kena Sanksi, The Jakmania Dilarang Away Setengah Musim

Olahraga19 menit lalu
Kebijakan Wajib Halal Ditunda hingga 2028, Ini Produk yang Tenggatnya Diperpanjang

Kebijakan Wajib Halal Ditunda hingga 2028, Ini Produk yang Tenggatnya Diperpanjang

Nasional22 menit lalu
Kebakaran Kapal KMP Batumandi di Merak, Seluruh Penumpang Selamat, Ini Update Terbarunya!

Kebakaran Kapal KMP Batumandi di Merak, Seluruh Penumpang Selamat, Ini Update Terbarunya!

Nasional31 menit lalu
ADVERTISEMENT
TMMD ke-130 Subang, Jalan hingga Sarana Air Bersih Masih Dikerjakan di Cupunagara

TMMD ke-130 Subang, Jalan hingga Sarana Air Bersih Masih Dikerjakan di Cupunagara

Subang32 menit lalu
Karhutla Indonesia Makin Ganas! Emisi Tertinggi dalam 24 Tahun, Alarm Bencana 2015 Menyala Lagi

Karhutla Indonesia Makin Ganas! Emisi Tertinggi dalam 24 Tahun, Alarm Bencana 2015 Menyala Lagi

Nasional37 menit lalu
Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN Bikin Heboh Netizen

Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN Bikin Heboh Netizen

Nasional55 menit lalu
Keracunan MBG di Cisarua Bogor, Jumlah Siswa Terdampak Bertambah Jadi 103 Orang

Keracunan MBG di Cisarua Bogor, Jumlah Siswa Terdampak Bertambah Jadi 103 Orang

Jawa Barat1 jam lalu
SD PIT Bhaskara Subang Ukir Prestasi, Raih Beragam Penghargaan Tingkat Provinsi hingga Nasional

SD PIT Bhaskara Subang Ukir Prestasi, Raih Beragam Penghargaan Tingkat Provinsi hingga Nasional

Subang1 jam lalu
Konten Karhutla Kena Shadowban, Menkomdigi Angkat Bicara

Konten Karhutla Kena Shadowban, Menkomdigi Angkat Bicara

Nasional1 jam lalu